Halaman

Rabu, 02 Desember 2020

Jurusan Hubungan Internasional : Aku Salah Pilih?

Masa setelah kelulusan SMA adalah salah satu masa-masa yang menggembirakan. Paling tidak buatku yang berangan-angan untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Senang sekali rasanya lulus SMA, seolah sebuah beban besar baru saja terlepas dari pundak. Padahal tantangan setelah lulus SMA dan setelahnya serta setelahnya jauh lebih besar. Namun yah bagaimana pula? Namanya juga masih “baru lulus” SMA. Tentu pandanganku masih jauh dari kata dewasa pada masa itu. Ah entah kemana pula arahnya pembicaraan pada tulisan ini? Mari kita kembali ke permasalahan melanjutkan perkuliahan ke perguruan tinggi.

Singkat cerita, aku pun mencari informasi tentang beragam jurusan atau program studi yang tersedia di perguruan tinggi negeri sebagai bagian dari pilihanku ketika mendaftar ujian masuk perguruan tinggi. Tidak bisa dipungkiri, untuk pikiran anak SMA-ku, nama jurusan yang keren dan terdengar “prestisius” menjadi salah satu tolak ukur dalam menentukan pilihan jurusan untuk dimasuki. 


Entahlah bagaimana pendapat orang lain, tapi pada masa itu aku berpendapat jurusan Hubungan Internasional sungguh keren dan sangat “prestisius”. Bagaimana tidak? Ada kata “internasional” nya pada nama jurusan itu. Terbayanglah pekerjaan yang menanti setelah lulus dari jurusan itu. Ya, bekerja sebagai Diplomat di Kementerian Luar Negeri. Dan aku sungguh yakin pekerjaan menjadi Diplomat Kementerian Luar Negeri adalah primadonanya cita-cita bagi para lulusan Hubungan Internasional atau sesiapa saja yang berkeinginan masuk pada jurusan ini secara umum. Syukurnya, aku tidak pernah bercita-cita menjadi diplomat ataupun bekerja di Kementerian Luar Negeri. Lho kenapa begitu? 

Jujur, jurusan Hubungan Internasional pada awalnya bukan jurusan yang serius ingin aku masuki. Ketika SMA aku bercita-cita menjadi dokter. Tentu saja cita-citaku ini membuatku memilih jurusan Kedokteran sebagai pilihan utama dalam ujian masuk perguruan tinggi negeri. Jurusan Hubungan Internasional aku letakkan pada pilihan kedua. Dan alasan aku memilih jurusan Hubungan Internasional jadi pilihan ke dua pun ternyata cukup konyol. Karena nama jurusannya keren. Jurusan Hubungan Internasional. Dan sebagaimana yang aku katakan sebelumnya, pikiran SMA-ku yang berpikir untuk memilih jurusan asal terdengar “keren” dan “prestisius” menjadikan aku memilih jurusan Hubungan Internasional. Walaupun nama jurusannya “keren”, tetap saja aku letakkan pada pilihan ke dua dalam pilihan jurusan pada ujian masuk perguruan tinggi. Pilihan pertama adalah jurusan yang jadi cita-citaku. Kedokteran.

Allah menakdirkan aku untuk lulus pada pilihan ke dua dalam ujian masuk perguruan tinggi. Walhasil, akupun menjadi mahasiswa Hubungan Internasional. Aku sebenarnya cukup bersyukur juga masuk jurusan ini. Syukur sekali biaya kuliah per semesternya sungguh terjangkau bagi keluargaku. Maklum, aku bukan berasal dari keluarga kaya raya. Di sisi lain aku bersyukur juga tidak masuk pada jurusan Kedokteran. Tidak terbayang bagaimana sulitnya Ibuku membiayai kuliahku kalau seandainya aku masuk jurusan kedokteran yang terkenal mahal dan kuliahnya lama itu. Intinya, masuknya aku ke jurusan Hubungan Internasional mengajarkanku satu nilai kedewasaan yang sangat penting yang nilainya aku pegang hingga detik ini bahwa takdir Allah adalah yang terbaik, dan berbaik sangka pada Allah adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali.

Kemudian berkuliahlah aku di Jurusan Hubungan Internasional. Walaupun sudah menjadi mahasiswa jurusan Hubungan Internasional dan sudah menjalani perkuliahannya, aku tidak bercita-cita jadi diplomat, tidak tertarik sama sekali untuk bekerja kelak di Kementerian Luar Negeri, ditambah pula aku tidak mengerti harus belajar apa di jurusan ini. Kenapa tidak tahu harus belajar apa? Pada awalnya aku kaget. Aku berpikiri bahwa Jurusan Hubungan Internasional akan mengajarkanku tentang menjadi diplomat, belajar berbagai bahasa internasional, belajar teknik dan ilmu untuk mengikuti forum-forum internasional dan semacamnya. Ternyata, pelajaran yang aku bayangkan itu tidak aku dapatkan, tidak aku pelajari selama perkuliahanku. Aku justru dihadapkan dengan materi-materi sejarah (syukurnya aku suka pelajaran sejarah), hingga filsafat dan teori-teori politik. Tumpukan tugas berupa makalah panjang hingga makalah singkat alias paper menjadi langganan dalam setiap minggu. Presentasi demi presentasi, diskusi demi diskusi aku lalui sepanjang minggu perkuliahan. Jurusan kuliah apa ini? Materi kuliah apa ini? Begitulah yang terbayang dalam pikiranku kala itu.

Pada akhirnya, tahun awal perkuliahanku aku lewati dengan hasil yang biasa-biasa saja, tidak istimewa. IPK ku pada waktu itu standar saja. Tidak tinggi namun tidak pula jeblok rendah. Biasa saja.

Pada tahun kedua, tepatnya pada semester 3 perkuliahan, aku merenung. Apakah karena jurusan kuliah ini bukan cita-citaku lalu kemudian aku lalai dan tidak serius menjalaninya? Apakah aku akan menjadikan usiaku, waktuku, dukungan keluargaku sia-sia? Mubazir begitu saja? Akupun tersadar. Tidak boleh aku menyia-nyiakan apa yang sudah aku dapatkan sejauh ini. Aku telah masuk jurusan ini, itu adalah fakta. Ibuku telah berkorban banyak untuk membuatku bisa berkuliah, itu juga fakta. Aku kemudian bertekad, tidak ada lagi lalai dan hanyut dalam gaya berkuliah yang “angin-anginan” dan “ikut-ikutan”. Aku harus berubah dan serius dalam berkuliah. “Setiap jurusan kuliah adalah baik, termasuk jurusan Hubungan Internasional, hanya aku saja yang kurang serius. Aku harus sungguh-sungguh” demikianlah kurang lebih yang aku pikirkan pada waktu itu. Aku menjadi semangat untuk  belajar dan berkuliah di jurusan Hubungan Internasional.

Alhamdulillah keseriusanku membawa hasil yang memuaskanku. Pada semester 3 itu, aku berhasil mendapat IP 4,00. Seluruh mata kuliah yang aku ambil pada masa itu mendapatkan nilai A penuh. Bukan main senangnya hatiku kala itu. Semenjak saat itu IP semesterku berada pada kisaran nilai sangat baik. Bukan bermaksud pamer atau menyombongkan diri, tapi cuma sedikit berbagi saja.

Ternyata kesungguhanku untuk membaca materi-materi kuliah justru membuatku jatuh cinta pada pembelajaran Hubungan Internasional. Aku tidaklah termasuk orang yang pintar, biasa-biasa saja, namun aku suka materi-materi mata kuliah jurusan Hubungan Internasional. Aku menyukainya setelah aku berusaha membaca dan memahami lebih dalam lagi. “Ternyata materinya menarik juga ya, ternyata begini ternyata begitu, asik juga ternyata belajar di jurusan ini”. Begitulah pikirku.

Kemudian cita-citaku mengapa aku masuk jurusan Hubungan Internasional akhirnya muncul juga. Ya, cita-cita itu justru muncul pada tahun-tahun pertengahan menjelang akhir masa perkuliahanku. Aku bercita-cita ingin menjadi akademisi Hubungan Internasional. Aku ingin bisa membagi pandanganku, pengalamanku dengan orang lain. Ya, aku ingin jadi akademisi Hubungan Internasional. Muncullah keinginanku untuk lanjut kuliah paskasarjana, kuliah S2 bahkan S3. Yah, namanya juga harapan. Bolehlah ya.

Pada akhirnya, saat ini pun aku sendiri tidak menyangka bahwa jurusan yang aku masuki atas dasar “nama yang keren dan prestisius” justru membuatku tertarik untuk melalui proses pembelajarannya, materinya yang ternyata sangat menarik. Padahal aku memilih jurusan Hubungan Internasional secara “tidak sengaja” dan tidak pernah aku rencanakan jauh sebelumnya. 

Pada akhirnya, aku bisa bergumam syukur dalam diriku. Aku bersyukur bisa berkuliah di jurusan Hubungan Internasional ini. Jurusan yang aku pilih ini tidak sempurna, dan tentu saja banyak kekurangannya sebagai satu disiplin bidang studi, tapi bagiku itu bukan alasan untuk menyia-nyiakan kesempatan untuk berkuliah. Prinsipku, daripada di jalani setengah hati, lebih baik berhenti sama sekali. Tanyakan pada hati dengan tenang, insaf dan jujur. Apakah aku harus lanjut atau berputar haluan? Jika lanjut, maka jalani dengan serius. Jika berputar haluan, maka siapkan bekal terbaik dengan serius, jangan pula dengan setengah hati. Pada kala itu, hatiku mengatakan “lanjut”. Maka konsekuensinya, aku harus sungguh-sungguh. Bagaimana dengan teman-teman pembaca yang barangkali merasa “salah pilih jurusan” ? Lanjut atau putar haluan? Setiap pilihan punya konsekuensi yang mengiringinya.

Sabtu, 28 November 2020

Dimana Posisi Teori Non-Barat Dalam Studi Hubungan Internasional?

Sesiapa saja yang mempelajari studi Hubungan Internasional (HI), pasti akan menemukan istilah-istilah teoritik seperti Idealisme, Realisme, Marxisme, Feminisme, dan banyak istilah teori lainnya. Selama mempelajari beragam teori tersebut, para pelajar HI akan disuguhi pula berbagai macam literatur dan kuliah sejarah yang menjadi konteks kemunculan ragam teori tersebut. Terdapat sebuah benang merah dari pembelajaran teoritik dan sejarah dalam studi HI, yaitu pembelajaran HI sangat didominasi filsafat dan sejarah Barat. Kalau seandainya tidak begitu vulgar, maka saya bisa katakan bahwa studi HI adalah studi yang Barat-sentris. Barat dalam artian berpusat pada sejarah dan pemikiran Eropa-Amerika.

Beragam konsep dan teori yang muncul dalam studi HI, mulai dari sistem internasional yang anarki, kedaulatan berbasis wilayah teritorial, individualisme dan pasar bebas hingga teori perdamaian demokrasi kesemuanya berasal dari konteks sejarah bangsa Barat. Konteks sejarah dan filosofis yang menjadi latar belakang munculnya teori-teori HI pada akhirnya menciptakan studi HI yang berusaha memahami, menjelaskan bahkan mengubah dunia sesuai dengan teori dan perspektif Barat tersebut. 

Robert Cox pernah berkata bahwa “teori selalu untuk seseorang/sesuatu dan untuk tujuan-tujuan tertentu”. Maksudnya adalah, teori pasti mengandung kepentingan. Pemaknaan teori oleh Cox sepertinya lebih cocok diterapkan pada bidang ilmu sosial yang memang sangat kompleks dan kontekstual. Pemaknaan teori oleh Cox yang menggarisbawahi bahwa teori tidak bersifat netral, tentu saja berbeda dengan pemaknaan teori dalam disiplin kajian lain yang bersifat eksakta yang memaknai teori sebagai hal yang netral dan bebas nilai.

Apabila kita amati, setiap teori dalam HI seperti Realisme, Liberalisme, English School, Marxisme, Feminisme dll, kesemuanya memiliki perbedaan pada banyak aspek seperti asumsi keyakinan, kepentingan, dan gagasan yang berusaha untuk diwujudkan. Artinya, setiap teori memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kepentingan yang terkandung dalam Realisme akan berbeda dengan kepentingan yang terkandung di dalam Liberalisme, Marxisme, Feminisme dll.



Perdebatan dalam studi HI dalam sejarah perkembangannya didominasi oleh perdebatan teoritik dari teori-teori Barat. Meskipun teori-teori Barat itu beragam, namun mereka semua punya kesamaan, yaitu muncul dari konteks sosial Barat. Akibatnya, saat ini bisa dikatakan bahwa teori-teori HI dari Barat seolah memiliki kualitas “universal truth” yang bermakna tidak dapat dibantah kebenarannya dan bisa diimplementasikan pada seluruh situasi dan kondisi di seluruh dunia. Misalnya saat ini, pandangan tentang teori perdamaian demokrasi, anarkisme sistem internasional, kesetaraan gender yang di usung oleh teori Barat menempati posisi seolah harus diimplementasikan tidak hanya pada level akademik namun pada setiap level kehidupan negara dan manusia. 

Terdapat semacam “stigma negatif” bagi negara, maupun anggota komunitas internasional yang tidak setuju atau tidak menjalani nilai-nilai dari teori Barat tersebut. Misalnya kemunculan mengaitkan antara demokrasi dengan perdamaian. Sesiapa yang tidak setuju dengan gagasan demokrasi (yang biasanya bersumber dari teori liberalisme) akan dianggap sebagai penentang perdamaian. Contoh lainnya, sesiapa yang tidak setuju dengan nilai dan metode kesetaraan gender (yang biasanya bersumber dari Feminisme) akan dianggap sebagai kalangan patriarkis penindas. Dan masih banyak contoh-contoh diskriminasi teoritik yang berdampak pada kehidupan politik internasional dan domestik lainnya.

Teori-teori HI Barat menurut hemat saya telah mencapai derajat “Gramscian Hegemony” dalam politik global dan studi HI. Derajat ini pada akhirnya membuat aktor HI akan “secara tidak sadar” meyakini nilai-metode dalam teori HI Barat seolah sebagai “universal truth” bahkan pada spektrum yang lebih ekstrim, bisa menjadi “absolute truth”. Aktor HI akan menjalankan nilai-metode teori-teori Barat dengan berdasarkan keyakinannya tersebut.

Masalah yang jelas muncul dari dominasi teori HI barat baik dalam politik global maupun diskursus akademik HI adalah terjadinya diskriminasi terhadap dunia non-Barat. Kebajikan dan kebenaran adalah “Western Way” sementara dunia non-Barat berada pada ketertinggalan sehingga perlu kiranya untuk menerapkan dan “maju” dengan menerapkan “Western Way” tersebut.

Perkembangan politik dunia, globalisasi, dan peningkatan arus informasi sedikit banyak telah membuka mata para akademisi HI untuk melihat bahwa teori-teori HI Barat ternyata tidak universal dan sangat kontekstual. Maka dari itu perlu untuk melihat sejarah, falsafah, dan konteks sosial dari dunia non-Barat. Muthia Alagappa pernah berkata bahwa dunia non-Barat, khususnya Asia bisa menjadi tempat yang sangat subur bagi pengujian, pengkritikan dan pengembangan dari teori HI Barat. Pendapat Alagappa ini pada hakikatnya memberi peluang bagi pandangan non-Barat untuk berkontribusi dalam perkembangan teori HI.

Namun ada suatu hal yang harus diingat, bahwa pada dasarnya, pandangan non-Barat bukannya tidak punya kontribusi apa-apa terhadap teori HI. Sebaliknya, terdapat beberapa pandangan-pandangan non-Barat didalam teori HI. Sebut saja karya-karya klasik dari para tokoh non-Barat seperti Sun Tzu, Kautilya, dsb telah memberikan inspirasi bagi para akademisi dan praktisi HI dan politik. Tetapi, kontribusi yang didapatkan dari karya mereka bisa dikatakan terbatas pada memberikan dukungan pada teori barat tanpa membangun suatu bangunan teori tersendiri yang mandiri.

Inilah yang perlu dilakukan para akademisi HI dari belahan dunia non-Barat khususnya, yaitu menggali sejarah dan nilai-nilainya untuk membangun bangunan teori yang baru, bukan hanya menjadikan sejarah dan falsafah itu untuk menjadi bagian “pendukung” dari teori HI Barat namun seharusnya menjadi bagian “utama” dari teori HI tersebut.

Sebenarnya sudah ada langkah-langkah yang dilakukan oleh akademisi untuk membangun teori HI non-Barat, namun langkah-langkah yang dilakukan ini masih terbilang minim dan belum terstruktur. Minim dan belum terstruktur dalam artian khusus membangun kerangka berpikir HI. Maka dari itu dibutuhkan langkah sistematis dan masif untuk menggali sejarah dan literatur non-Barat. Dan salah satu kendala terbesar untuk menjalankan langkah ini adalah: kendala bahasa (biasanya sumber-sumber non-Barat menggunakan bahasa yang kurang umum dipakai dalam studi HI), dan kendala akses terhadap sumber belajar dan literatur.

Jumat, 27 November 2020

Jalan Adam BB : Sekilas Kisah Hidup Syekh Adam Balai-Balai

Di kota kelahiranku, Kota Padang Panjang, ada sebuah jalan. Jalan yang tidak jauh dari rumahku, diberi nama Jalan Adam Balai-Balai atau di singkat Jalan Adam BB. Jalan ini memang terletak di wilayah Kelurahan Balai-Balai. Selama ini, aku hanya lewat dari jalan itu dengan tanpa begitu mengacuhkan nama jalan tersebut. Biasa saja, pikirku dalam hati. Bertahun-tahun lewat dari jalan itu, bertahun-tahun itu juga aku abaikan nama jalan itu.



Ketidak pedulianku pada nama Jalan Adam BB itu tiba-tiba berubah setelah suatu hari aku membaca buku Buya Hamka yang berjudul “Ayahku”. Ya, buku dimana Buya bercerita tentang hidup ayah beliau, Haji Abdul Karim Amrullah atau Inyiak Rasul. 

Inyiak Rasul adalah seorang pendakwah Islam, ulama yang terkenal di Ranah Minang, bahkan di Indonesia. Walaupun beliau wafat sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, tepatnya Inyiak Rasul wafat pada 2 Juni 1945. Semoga jasa beliau pada Islam diberikan ganjaran pahala oleh Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih.

Inyiak Rasul terkenal dengan ketegasannya dalam berdakwah dan menyampaikan ajaran Islam. Buya Hamka mengisahkan bahwa kadang sikap tegas Inyiak Rasul dalam berdakwah dianggap keras oleh para tokoh adat maupun tokoh agama kalangan tradisionalis. Tidak heran perdebatan yang sengit menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Inyiak Rasul dalam berdakwah, menyampaikan ajaran agama dan berusaha “meluruskan” masyarakat yang menurut Inyiak Rasul telah menyimpang dari ajaran Islam yang berasas tauhid yang murni. Inyiak Rasul punya banyak murid di Ranah Minang pada masanya. Ternyata Adam Balai-Balai merupakan salah satu murid dari Inyiak Rasul.




Tersebutnya nama Adam Balai-Balai dalam tulisan Buya Hamka memunculkan rasa keingintahuanku untuk lebih jauh menyelidiki siapa sebenarnya tokoh ini, Syekh Adam BB yang namanya diabadikan jadi nama jalan di Kelurahan Balai-Balai, di kampung halamanku Kota Padang Panjang. Teknologi internet sungguh memudahkanku untuk mengetahui lebih jauh tentang Syekh Adam BB. Segera aku tulis kata “Adam Balai-Balai” di mesin pencari google dan ternyata muncul informasi tentang beliau. Diketahui Syekh Adam BB lahir pada tanggal 31 Agustus 1889 dan wafat pada tanggal 15 Juli 1953.

Syekh Adam BB terkenal dengan kemampuannya dalam “basilek” atau bersilat. Kemampuan beliau dalam silat itu pada akhirnya mengantarkan beliau menjadi orang yang disegani bahkan ditakuti, melekatlah julukan sebagai “parewa gadang” ke diri beliau. Julukan yang punya padanan sebagai preman, jagoan, jawara, dan sebagainya. Buya Hamka mengisahkan bahwa Syekh Adam BB dulunya sebelum mendapat hidayah dari Allah untuk mendalami Islam adalah orang yang liar, tak tentu tempat bermalam, hidup dari bermain sepak raga, layang-layang dan pencak silat. Siapa sangka seorang “parewa gadang” pada akhirnya bisa punya perhatian yang besar terhadap ilmu dan ajaran Islam bahkan menjadi salah satu yang paling keras dalam mengajarkannya terhadap masyarakat Padang Panjang? Kurang lebih demikianlah pandangan Buya Hamka terhadap Syekh Adam BB.

Sebelum belajar dan mendalami ajaran Islam, Syekh Adam BB konon pernah bekerja sebagai mandor di kota tambang batubara, Kota Sawahlunto. Konon beliau menjadi mandor untuk “orang rantai” yaitu istilah yang biasa dipakai untuk menyebut para tahanan pekerja paksa oleh Penjajah Belanda. Disebut “orang rantai” karena memang para pekerja paksa tersebut dirantai tubuhnya sehingga mereka tidak bisa melarikan diri. Konon pula ketika bekerja sebagai mandor ini, Syekh Adam BB mendapatkan gaji yang cukup besar pada masa itu. Namun segala pencapaian Syekh Adam BB muda tidak begitu membahagiakan Ibunda beliau. Sang Ibunda ternyata tidak memandang kesuksesan dari pangkat dan harta yang telah dikumpulkan Syekh Adam BB muda.

Sikap Sang Ibunda yang demikianlah yang pada akhirnya membuat Syekh Adam BB merenungi kembali makna kehidupan yang sejati. Apa sebenarnya yang menjadi tujuan manusia di dunia ini? Apa kebahagiaan yang sejati itu? Aku membayangkan barangkali pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang berkecamuk dalam pikiran Syekh Adam BB pada masa itu.

Buya Hamka bercerita, Syekh Daud Rasyidi yang merupakan ulama Minangkabau yang sezaman dan bersahabat dengan Inyiak Rasul yang menggugah hati Syekh Adam BB untuk mendalami ajaran agama, ajaran Islam. Syekh Daud adalah ulama yang lapang hati, kata Buya. Sikap Syekh Daud inilah yang pada akhirnya meluluhkan jiwa Syekh Adam BB untuk tobat dari hidup sebagai “parewa gadang”. Akhirnya Syekh Adam BB belajar di Pahambatan dibawah bimbingan Syekh Daud Rasyidi. 

Syekh Adam BB ternyata punya pikiran yang cerdas sehingga cepat pula beliau menerima pelajaran agama dari gurunya. Ketika Haji Abdul Karim Amrullah atau Inyiak Rasul membuka pengajaran di Kota Padang Panjang, Syekh Adam BB ikut pula bergabung menjadi murid dari Inyiak Rasul. Begitu besar hormat dari Syekh Adam BB kepada Inyiak Rasul. Sehingga tidak boleh ada orang yang berani mencela Inyiak Rasul apalagi didepan Syekh Adam BB. Tentu saja jika hal itu terjadi, Syekh Adam BB akan tersinggung.

Buya Hamka bercerita, suatu hari ada seorang yang menurut tokoh agama yang tradisionalis sebagai ulama bernama Syekh Abdul Hadi. Orang ini (Syekh Abdul Hadi) kemudian sampai ke Ranah Minang dan berceramah berfatwa pula. Abdul Hadi membangkitkan tradisi-tradisi yang ditentang oleh kalangan “ulama muda” atau “Kaum Muda” yang menghendaki Islam kembali pada asas kemurniannya. Syekh Abdul Hadi berusaha menghidupkan kembali tradisi-tradisi “berburu berkah” seperti makan sisa makanan guru, mengambil berkah dari air liur guru dan lain sebagainya yang berkesuaian dengan pandangan para “Kaum Tua”. Tradisi-tradisi tersebut berusaha di kikis oleh “Kaum Muda” karena tidak sesuai dengan ajaran Islam, termasuk berlebihan dalam beragama yang dikhawatirkan bisa menjerumuskan pada kesyirikan.

Suatu hari, Syekh Abdul Hadi berceramah pula di daerah Jaho, Padang Panjang. Daerah Jaho adalah daerah dimana Syekh Jamil Jaho (ulama yang sezaman dengan Inyiak Rasul –pen) mengajar. Syekh Abdul Hadi pada waktu itu sangat asyik berceramah. Namun ceramah yang disampaikannya menurut penjelasan Buya Hamka, adalah ceramah yang melantur dan mencela. Tentu saja yang dicela adalah ulama muda atau “Kaum Muda”. Sudah jelas pula, apabila “Kaum Muda” dicela, maka akan tersebutlah nama-nama seperti Haji Abdul Karim Amrullah, Haji Abdullah dan lainnya sebagai golongan yang sesat, wahabi katanya.

Ternyata ketika Abdul Hadi menyampaikan ceramah celaan dan melanturnya, Syekh Adam BB ada disana mendengarkan ceramahnya. Jelas saja, Syekh Adam BB merasa murka dan naik pitam. Perdebatan antara keduanya, Syekh Adam BB dan Syekh Abdul Hadi tidak dapat dihindari. Buya Hamka mengisahkan pada akhirnya, Syekh Abdul Hadi melarikan diri dari tempat ceramah itu, dan ketika melarikan diri, dia terpeleset dan tercebur pula ke sebuah “tabek” atau kolam. Dari kisah ini, aku (Arif) paham betapa tinggi kecintaan dan hormat Syekh Adam BB kepada guru beliau, Inyiak Rasul.

Hubungan Syekh Adam BB dan Inyiak Rasul sempat merenggang karena peraturan pembagian kelas dalam pengajaran agama dijalankan di Padang Panjang. Syekh Adam BB tidak setuju dengan adanya kelas-kelas dalam pembelajaran. Sedangkan Inyiak Rasul pada masa itu setuju dan menjalani proses pengajaran dengan pembagian kelas dari yang rendah ke kelas yang tinggi. Meskipun hubungan mereka sempat renggang, tapi hal tersebut tidak menjadikan Syekh Adam BB berkurang hormatnya pada gurunya. Pada akhirnya Syekh Adam BB menerima bahwa mengadakan kelas dalam pembelajaran mulai dari kelas yang rendah, bertingkat dan bertahap menjadi kelas yang tinggi memang dibutuhkan dalam proses pendidikan.

Dalam perjalanan dakwah Islamnya, Syekh Adam BB diketahui telah membuka “halaqah” atau majelis kajian agama sederhana di Surau Kampung Baru, Kampung Pasar Baru, Kota Padang Panjang. Surau Kampung Baru saat ini telah menjadi Masjid Raya Jihad Kota Padang Panjang. Kemudian beliau juga mendirikan sekolah agama Islam atau Madrasah yang diberinya nama Madrasah Irsyadunnas dan beliau juga memberi bagian kelas khusus untuk perempuan yang hendak belajar agama dengan nama Irsyadunnisa. Dibangunnya madrasah ini, aku pikir merupakan bukti bahwa beliau (Syekh Adam BB) menerima sistem kelas dalam proses pembelajaran. Aku berusaha untuk mencari informasi tentang madrasah yang beliau dirikan, namun aku masih belum menemukan informasi tentang madrasah itu saat ini. Informasi yang aku dapatkan bahwa Madrasah Irsyadunnas ini terletak dekat dengan lokasi Masjid Jihad Kota Padang Panjang, dan madrasah ini sudah tidak ada lagi. Semoga lain kali aku bisa mencari tahu lebih jauh tentang madrasah yang didirikan Syekh Adam BB ini.

Syekh Adam BB meninggal pada tahun 1953 dan dimakamkan di Kota Padang Panjang. Makamnya berdekatan dengan lokasi Masjid Raya Jihad Kota Padang Panjang. Kabar yang aku ketahui, makam beliau memang tersembunyi, cukup sulit untuk diakses. Namun baru-baru ini, aku membaca berita bahwa makam tersbut telah dibersihkan, dan ada rencana dari Pemerintah Kota Padang Panjang untuk memperbaiki makam tersebut sehingga menjadi lebih mudah aksesnya bagi yang ingin berziarah. Aku sangat senang dan mengapresiasi usaha yang direncanakan oleh Pemerintah Kota Padang Panjang. Tentu saja aku berharap semoga makam beliau tidak dikeramatkan orang, dijadikan tempat untuk tujuan dan ritual yang dikhawatirkan bisa menjerumuskan pada kesyirikan, hal yang paling ditentang oleh Syekh Adam BB sendiri.


Pada akhirnya, aku hanya bisa kagum pada sekeping kecil perjalanan hidup Syekh Adam BB, yang nama beliau jadi nama jalan yang sering aku lewati tapi aku tidak pedulikan. Selain itu aku juga berdoa dan berharap pada Allah agar memberikan ampunan dan rahmatNya kepada Syekh Adam BB. Aku hanya bisa mengambil pelajaran dari sejarah dan perjalanan hidup seorang Syekh Adam BB, seorang ahli pencak silat, pendidik yang pemberani dalam membela kebenaran.


Kota Padang Panjang dalam Kenanganku

Beberapa waktu yang lalu, aku menelpon Ibuku di kampung halamanku, di Kota Padang Panjang, Sumatra Barat. Seperti biasa, obrolan berputar pada hal-hal yang dibicarakan Ibu dan anak pada umumnya. Entah bagaimana ceritanya bisa sampai pada bahasan ini, Ibuku berkata bahwa sebagian besar sawah ladang di kota tempat kampung halamanku telah terjual.

“Oh, udah di jual ya ma? Sayang betul rasanya sawah-sawah itu dijual ya” Kurang lebih itulah tanggapanku ketika Ibuku menceritakan kisah terjualnya sawah-sawah di sekitaran rumah kami itu. Kampung halamanku, di Kota Padang Panjang, Sumatra Barat.



Ya, ketika disebut kata “Sumatra Barat”, aku percaya bahwa dibenak kita akan terbayang keindahan alam, dan ragam pesona wisatanya yang mempesona. Kota Padang Panjang juga demikian. Kota kelahiranku itu bukan kota besar. Kota kecil dengan suhu dingin yang dikelilingi gunung dan bukit. Sawah dan ladang terbentang dari ujung ke ujung kota ini. Sungguh kota yang sangat indah. Keindahan kota ini adalah rahmat Allah yang patut aku syukuri. Keindahan kota ini menurutku tidak bisa dilepaskan dari keasrian kota ini. Alam yang hijau, sawah ladang subur membentang sepanjang kota. Ah, indah nian kota kelahiranku ini. Itulah yang aku pikirkan.

Dengan pikirku demikian, maka jelas saja aku merasa sedih, kecewa dengan dijualnya sawah-sawah dan ladang hijau di kampungku itu. Bagaimana tidak sedih? Kampungku yang indah itu ya karena hijau dan asrinya, bukankah demikian? 

Tapi apalah dayaku? Tentu saja tanah itu bisa dijual pemilik sahnya. Dan pemilik sahnya bukan aku, maka aku cuma bisa sedih dan meringis dalam hati saja. Pemandangan hijau menyejukkan mata yang selama ini menyejukkan hatiku bakal berganti dengan barisan beton perumahan dan perkantoran. Ah andai saja itu sawah ladangku, tentu aku tidak sudi menjualnya. Paling tidak itulah yang aku rasakan.

Memang perkembangan pembangunan di Kota Padang Panjang, kampung halamanku itu terbilang cukup cepat. Itulah yang aku rasakan. Banyak perubahan yang aku rasakan, perbedaan ketika masa aku kecil dan saat ini, ketika aku menulis coretan ini. Ya, aku sadar perubahan pasti terjadi, cepat atau lambat. Zaman pasti berubah. Hanya mungkin aku saja yang masih tidak bisa melepaskan diri dari gambaran Kota Padang Panjang hijau yang menempel di benakku. Dan aku tidak hendak pula melupakan gambaran indah itu dari kepalaku. Jauh di lubuk hati masih berharap sawah ladang, bukit hijau itu muncul kembali.

Seringkali hati bertanya-tanya sendiri. Tak pula aku cari jawaban dari pertanyaan itu. Entah karena aku sudah tahu jawabnya, tapi aku takut membuktikannya. Atau rasa sedih yang terlanjur menggulita dalam sanubari. 

Mengapa pembangunan harus diidentikkan dengan pembangunan gedung-gedung megah? Menggerus asri dan hijaunya alam

Mengapa kita meninggalkan hidup penuh kesahajaan yang damai demi mengejar hidup sibuk nan glamor yang sering penuh kepalsuan?

Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang terus terngiang di sanubari tapi tak hendak pula aku menjawabnya. Ya, mungkin aku takut untuk mencari jawabannya.

Entahlah, mungkin kampung halamanku sudah tidak seperti dulu lagi, sawahnya sudah mengering, ladangnya sudah tandus, anginnya makin hangat.  Aku mungkin tidak bisa berbuat banyak. Namun paling tidak, kenangan Kota Padang Panjang ku, yang dingin, hijau, sawah ladang asri membentang, tidak akan mau aku lupakan dari sanubariku.

Paling tidak aku merasa beruntung punya kenangan itu. Kenangan itu milikku, tidak akan bisa dijual dan tak hendak pula aku menjualnya. Sekali-sekali aku lihat kenanganku itu, sekali-sekali aku pasang pula pengharapan, semoga kenangan itu jadi nyata. Semoga.

Pengantar Manajemen Bencana : Hakikat Bencana

Bencana merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan dan sejarah manusia. Usia bencana pada hakikatnya sama tuanya dengan usia manusia itu sendiri di bumi ini. Pada sisi lain, bencana pada umumnya dianggap sebagai fenomena yang merugikan manusia baik secara materi maupun non-materi.

Tidak ada manusia yang bisa terbebas dan imun dari bencana tidak peduli betapa kaya dan maju teknologi yang dimiliki oleh manusia tersebut. Manusia hanya bisa melakukan tindakan untuk mencegah kerugian dan menanggulangi kerugian agar tidak meluas. Oleh karena itu, sepanjang sejarah kehidupan manusia, telah dilakukan berbagai macam upaya untuk mengurangi kerugian yang bisa ditimbulkan oleh bencana. Sebut saja membangun rumah dengan jenis rumah panggung, yang pada umumnya bisa terlihat pada rumah-rumah adat di Indonesia. Rumah panggung dibangun dengan sudut pandang menghindari banjir misalnya, atau menghindari binatang buas yang bisa membahayakan manusia penghuni rumah. Inilah yang disebut dengan manajemen bencana.



Bencana pada hakikatnya bersifat politis. Apa yang dimaksud dengan politis? Bukankan bencana itu adalah fenomena alam?

Tentu saja gempa bumi, aktifitas tinggi gunung berapi hingga tsunami merupakan fenomena alam. Namun semua fenomena alam tersebut akan dianggap fenomena alam biasa dan bukan bencana apabila terjadi pada wilayah yang tidak ada manusia, atau tidak berdampak apapun pada kehidupan manusia. Sebaliknya, fenomena tersebut menjadi bencana ketika terjadi pada wilayah tinggal manusia dan berdampak negatif pada keberlangsungan hidup manusia.

Pada sisi lain, sebagaimana yang telah saya jelaskan diatas, perlu ada usaha manusia untuk mencegah dan mengurangi dampak bencana. Usaha manusia untuk mencegah dan mengurangi dampak bencana ini lah yang bersifat politis. Disebut politis karena kemampuan dan pengetahuan manusia berbeda-beda. Pada level lebih tinggi, kapasitas dan kapabilitas negara dalam mencegah dan mengurangi dampak bencana berbeda-beda, dan ada banyak faktor sosial-politik lain yang mempengaruhinya.

Seiring dengan perkembangan politik dan ekonomi manusia, semakin berkembang pula jenis-jenis bencana yang mengintai manusia tersebut. Jika zaman dahulu kala, bencana selalu diidentikkan dengan fenomena alam murni tanpa campur tangan manusia, saat ini bencana justru dihasilkan dari ulah tangan manusia itu sendiri. Tentu saja manusia tidak akan menciptakan gempa bumi, tsunami dan lain-lain. Tapi manusia melakukan tindakan-tindakan dengan alasan politik-ekonomi yang berdampak pada alam, merusak alam. Sebut saja tindakan-tindakan merusak hutan, aktifitas manusia yang menghasilkan polusi masif seperti industrialisasi, eksploitasi berlebih terhadap hasil bumi dan laut, hingga polusi transportasi. Belum lagi dengan kebijakan pembangunan yang tidak memperhatikan keberlangsungan lingkungan. Semua tindakan yang menurut saya cukup egois ini pada akhirnya merusak alam. Manusia mungkin berpikir bahwa alam yang rusak adalah hal biasa, dan tidak akan berdampak pada kehidupannya saat ini. Tentu pola pikir ini adalah pola pikir yang keliru. Manusia hidup di dalam alam, jika alam rusak tentu saja kehidupan manusia di dalamnya akan terganggu. Hanya saja egoisme materi manusia dengan alasan politik, ekonomi-pembangunan membutakan pikiran yang sehat.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapatlah kita paham bahwa terdapat paling tidak 2 jenis bencana yang perlu kita kenal berdasarkan asal-usul bencana itu, yakni:

1. Bencana akibat fenomena alam

2. Bencana akibat ulah manusia

2 jenis bencana inilah yang akan menjadi perhatian para manajer bencana untuk mengatur dan menjalankan program manajemen bencana dengan tujuan mencegah dan menanggulangi kerugian agar tidak meluas dan membesar.


Tren Bencana Kekinian

Salah satu isu yang menjadi isu hangat pada abad 21 ini adalah isu pemanasan global. Isu ini ramai dibahas oleh negara-negara maupun beragam organisasi di seluruh dunia pada berbagai forum. Intinya adalah, telah terjadi fenomena yang merugikan manusia di seluruh dunia, mulai dari meningkatnya suhu bumi, meningkatnya air permukaan laut, banjir, kelaparan, penebangan liar, desertifikasi (kekeringan akibat berkurangnya hutan -pen) dan seterusnya. Semua isu yang baru saja disebutkan pada hakikatnya adalah bencana akibat ulah manusia atas nama pembangunan.

Pada akhirnya permasalahan bencana saat ini menjadi permasalahan global. Jumlah bencana semakin meningkat setiap tahun dan pihak yang terdampak bencana semakin beragam mulai dari negara maju hingga negara miskin. Namun negara miskin sangat rentan dengan bencana. Maksudnya, kemiskinan yang dihadapi oleh suatu negara akan sangat bisa memperburuk dampak negatif yang diakibatkan bencana. 

Kemiskinan, pembangunan yang tidak mempedulikan kelestarian lingkungan, hingga pola hidup individualis yang konsumtif menjadi isu sentral dalam manajemen bencana pada abad 21. Bukan berarti abad 21 adalah abad yang terbebas dari bencana akibat fenomena alam, namun bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia semakin meningkat kuantitasnya pada abad 21 ini.


Rekomendasi

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dipahami bahwa perilaku manusia memegang peranan penting dalam upaya mengurangi dan menanggulangi dampak bencana, baik bencana yang ditimbulkan fenomena alam maupun bencana yang ditimbulkan akibat ulah manusia. Sudah seharusnya pembangunan manusia dan pembangunan negara menjadikan alam sebagai bagian integral yang tidak boleh dipisahkan. Artinya manusia harus mempertimbangkan keberlangsungan kelestarian alam sama pentingnya dengan eksistensi manusia itu sendiri. Sudah saatnya pembangunan yang terpusat pada manusia, manusia-sentris menjadi pembangunan yang berpusat pada alam, alam-sentris. 

Perlu ada perhatian khusus bagi kelompok paling rentan terhadap dampak bencana yang biasanya ada pada golongan miskin. Kemiskinan akan meningkatkan dampak negatif dari bencana. Maka dibutuhkan langkah komprehensif dan holistik untuk menanggulangi kemiskinan, tentunya dengan langkah yang alam -sentris misalnya dengan membuka kegiatan pemberdayaan ekonomi dengan basis kelestarian alam yang difasilitasi pihak berwenang, seperti pemerintah atau bisa juga dengan swadaya masyarakat.

Jumat, 02 Oktober 2020

Aliran Religi Jepang (Shinto, Buddha, Kristen, Neo-Confusius)

Religi Jepang Pada Masa Tokugawa

Pada dasarnya, religi yang menjadi acuan di Jepang adalah pemujaan terhadap leluhur. Nilai-nilai pemujaan terhadap leluhur ini, merupakan cara bagi bangsa Jepang, pada masanya dalam rangka mengenang dan mengingat arti garis leluhur yang dianggap sakral dan dan suci, dan secara prinsipal merupakan representasi dari tanggung jawab oleh seluruh keluarga terhadap leluhur. Namun pada masa Tokugawa ini, terjadi peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan keagamaan, seperti ultimatum bahwa agama Budha ditetapkan sebagai agama Negara oleh rejim Tokugawa pada masa itu. Dengan dikeluarkannya pernyataan ultimatum tersebut, menimbulkan berbagai penolakan-penolakan, terutama dari kalangan fundamentalis atau radikal, namun penolakan atau penentangan terhadap ultimatum ini pada kenyataannya tidaklah dengan terang-terangan, hal ini disebabkan karena kelompok penentang pada dasarnya merasa khawatir terhadap posisinya. 

Apabila penjelasan mengenai religi Jepang pada masa Tokugawa dijelaskan dengan poin-poin religi yang berlaku dan dianut masyarakat Jepang, maka dapat digambarkan bahwa religi-religi yang berlaku sebagai berikut :

Shinto

Pada dasarnya, ajaran tentang Shinto adalah ajaran yang mendasar yang mana tidak diketahui dengan pasti siapa pembawa ajaran ini. Namun, dapat ditarik pernyataan bahwa ajaran Shinto lahir dari pertemuan antara kebudayaan asli dari tradisi-tradisi Jepang terhadap pengaruh-pengaruh eksternal yang datang dari luar. Ajaran Shinto pada dasarnya mengarah pada ajaran-ajaran animisme dan dinamisme. Dalam ajaran Shinto, terdapat konsep tentang tuhan atau dewa, yaitu Kami. Dewa Matahari atau Dewa Amaterasu yang dalam istilah Jepang dikenal dengan Amaterasu Omikami merupakan dewa atau kami paling penting bagi bangsa Jepang. Namun masih terdapat Kami-Kami lain didalam kepercayaan religious dari bangsa Jepang, seperti Kami Leluhur dan Kami Pelindung.

Budha

Masuknya ajaran Budhisme atau Budha ke Jepang, berasal dari India, tepatnya sudah masuk sejak abad 6 Sebelum Masehi. Terdapat banyak variasi didalam ajaran Budha, namun ajaran yang berkembang dan dianut oleh bangsa Jepang pada masa Tokugawa adalah ajaran Zen Budha, yang mana didalam ajaran Zen Budha mengutamakan meditasi didalam mencari pencerahan bagi diri sendiri, tanpa pengaruh-pengaruh dari luar. Pada dasarnya ajaran Zen Budha tidak terlalu menekankan pemahaman tentang Tuhan tetapi lebih memberikan pemahaman mengenai alam sebagai guru.

Kristen

Ajaran Kristen masuk ke Jepang seiring dengan masuknya orang-orang Eropa di Kyushu dengan misi 3G nya (1542). Namun didalam penyebarannya, ajaran Kristen ini mendapat penolakan, terutama dari pemerintah, karena dianggap dapat mempengaruhi pemikiran bangsa Jepang.

Neo-Confusius

Dalam pembahasan religi pada masa Tokugawa di Jepang, dinilai cukup relevan untuk memasukkan pembahasan mengenai neo-Confusianisme di Jepang, walaupun pada dasarnya neo-Confusianisme di Jepang, bukanlah suatu agama, tetapi ajaran ini telah menjadi pandangan hidup. Seperti ajaran Bushido yang merupakan adaptasi dari ajaran Confusius.

---------------------------------------------

Didalam religi Jepang, yang merupakan suatu kesatuan, yang mana didalam kenyataanya terdapat banyak perbedaan, yang menjadi suatu keberagaman tersendiri. Dalam pandangan mengenai Tuhan, religi Jepang memiliki dua pandangan atau dua konsep mengenai ketuhanan, konsep pertama adalah bahwa Tuhan merupakan kesatuan yang mempunyai tingkatan yang lebih tinggi yang memelihara, memberikan perlindungan dan cinta kasih, seperti dewa-dewa langit dan dewa-dewa bumi yang terdapat diajaran Shinto, Confusius, Budha, hingga arwah para nenek moyang.



Konsep atau pemahaman kedua pada dasarnya merupakan konsep yang tidak dianggap sebagai suatu konsep atau pandangan yang bertentangan dengan konsep pertama, yang mana konsep kedua memiliki persepsi bahwa Tuhan adalah dasar dari segala sesuatu yang ada dan merupakan inti terdalam dari realitas. Dalam konsep kedua ini, terkandung pemahaman bahwa Tuhan dalam bberbagai wujudnya memberikan rahmat atau berkah, dan sudah menjadi keharusan bagi manusia yang menerima berkah tersebut untuk membalas  berkah dari Tuhan. Kegiatan-kegiatan religious, dipercaya sebagai suatu tanda bagi manusia dalam membalas kemurahan dan berkah dari Tuhan, namun didalam konsep ini terkandung bahwa manusia merupakan makhluk yang sangat lemah dan tidak berdaya, sehingga setiap balasan yang ditujukan untuk membalas kemurahan dan berkah dari Tuhan dianggap sangat kecil nilainya, dan secara tidak langsung menyatakan bahwa manusia tidak mampu membalas berbagai kemurahan dan berkah dari Tuhan, namun perbuatan pengabdian diri sepenuhnya kepada Tuhan dianggap suatu cara bagi manusia didalam melenyapkan kelemahannya sebagai manusia. Selain kedua konsep diatas, terdapat pula konsep mengenai alam, bahwa alam merupakan kekuatan pemelihara yang harus dihargai oleh manusia, dan alam merupakan perwujudan dari sumber-sumber kehidupan.

Berdasarkan pemaparan ringkas diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya religi di Jepang pada hakekatnya merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari banyak paham pemikiran yang menyebabkan variasi religi maupun pemahaman, yang mana dalam konsep ini yaitu pada masa rejim Tokugawa (1603-1868), yang secara langsung mengeluarkan ultimatum bahwa ajaran Budha, merupakan ajaran atau agama resmi Negara, namun walaupun demikian halnya, masih terdapat ajaran-ajaran lain yang bernilai religius, yang berkembang di Jepang pada masa Tokugawa yang sedikit banyaknya telah memberikan sumbangsih pemikiran didalam pemikiran bangsa Jepang. Dan ajaran-ajaran tentang konsep ketuhanan yang dianut oleh bangsa Jepang, yang secara garis besar dapat dibagi menjadi dua konsep, dan ditambah dengan pemahaman mengenai alam.

Kamis, 01 Oktober 2020

Jepang, Shintoisme dan Ragam Falsafah Kemasyarakatannya

Sejarah Jepang menunjukkan bahwa ajaran Shinto menampilkan suatu kultus Negara dari religi kesukuan yang primitif yang eksis pada masa tersebut. Sementara dalam tahapan awal perkembangan nya, para penganut ajaran Shinto yang diyakini oleh orang-orang Yamato, berupaya untuk memperkuat hegemoninya terhadap agama di Jepang. Dalam rangka upaya tersebut, mereka bergerak pada lingkup politik dan mereka berhasil dalam memciptakan mitologi mereka sendiri, yang pada dasarnya mencakup terhadap hubungan politik terhadap Negara yaitu dengan menghubungkan kekuasaan dari Dewa Amaterasu Omikami atau Dewa Matahari dan dewa-dewa leluhur mereka sebagai dewa yang lebih tinggi dan utama ketimbang dewa-dewa lainnya.





Kaum Yamato juga merancang suatu konsep pimpinan yang mempengaruhi kekuasaan politik  yang menduduki jabatan religius dan suci. Didalam tugas-tugas pemimpin politik yang dianggap suci, ada pula tugas sebagai pendeta/ suhu agung kultus Negara. Matsurigo, atau yang dalam bahasa Jepang berarti pemerintahan, juga memiliki arti ibadat religius atau pemujaan. Dalam pembahasan mengenai Shintoisme dan Negara Jepang, ada pengaruh agama atau ajaran lain, yaitu agama yang sempat mempengaruhi Cina, yaitu ajaran Confusius menjelang abad ke-17, yang mana ajaran ini melahirkan suatu konstitusi Shotoku Taishi yang dikeluarkan pada tahun 604 Masehi. Meskipun mengandung elemen-elemen Confusius dan Budha, pada kenyataannya corak Confusius bisa dikatakan lebih besar pengaruhnya pada nilai sosial misalnya pengakuan setiap orang terhadap kekuasaan tertinggi dari Kaisar.

Bushido

Secara istilah, Bushido memiliki makna Jalan Prajurit atau Jalan Ksatria, merupakan poin penting dalam mempelajari ajaran-ajaran pada masa Tokugawa atau pada masa Jepang Modern. Hal ini dikarenakan oleh nilai-nilai dasar Bushi dan Samurai yang melekat pada masyarakat Jepang. Etika Bushido telah menjadi etika nasional Jepang, hal ini dikemukakan oleh Kawakami Tasuke yang dikutip didalam buku Robert N. Bellah yang berjudul ‘Religi Jepang Pada Masa Tokugawa : Akar-Akar Budaya Jepang’ yang menulis bahwa “Bushido yang pada awalnya berkembang dari kebutuhan-kebutuhan praktis para prajurit, selanjutnya dipopulerkan oleh ide-ide moral Confusius tidak hanya sebagai moralitas kelas prajurit, tetapi juga sebagai landasan moral nasional’ Bushido disusun pada awal abad 18 di wilayah Nabeshima, provinsi Hizen, Kyusu. Bushido dikenal dengan sumpahnya yang menggambarkan nilai-nilai kesetiaan, yaitu :
    1. Kita tidak akan kalah dibandingkan dengan siapapun dalam pelaksanaan kewajiban kita.
    2. Kita akan membuat diri kita berguna bagi pangeran kita.
    3. Kita akan patuh pada orang tua kita.
    4. Kita akan mencapai kejayaan dalam derma.

Sonno dan Kokutai

Pada masa Tokugawa menjadi saksi dari perkembangan sikap baru terhadap Kaisar dan konsep Politik religius baru tentang Negara. Dua hal yang memiliki pengaruh adalah jargon ‘Sonno’ atau pemujaan Kaisar, yang merepresentasikan perhatian baru yang besar terhadap Kaisar dan jargon ‘Kokutai’ yang secara harfiah berarti Badan Nasional. Aliran Kokugaku mulai dengan minat yang baru terhadap sejarah Jepang, kesusastraan dan agama yang berkembang pada abad ke-17, yang mana ajaran ini didirikan oleh Keichu (1640-1701) dan Kada Azumamaro (1668-1736). Gerakan Kokugaku merupakan gerakan yang bersifat politik dan religius, yang memiliki misi untuk menghidupkan kembali budaya-budaya Jepang kuno, dan ajarannya menolak nilai-nilai ajaran Confusianisme dan Budhisme, yang pada dasarnya lebih dahulu mempengaruhi budaya Jepang, sehingga mengakibatkan ketidak sesuaian terhadap masyarakat Jepang yang justru lebih cenderung terhadap Shintoisme, sehingga Kokugaku bisa dianggap sebagai semacam gerakan ‘Ratu Adil’.


Shintoisme, Konfusianisme dan Ekonomi

Pada dasarnya, ajaran Shinto di Jepang tidak hanya berfungsi sebagai nilai-nilai kepercayaan agama, tetapi ajaran Shintoisme telah memberi pengaruh pada setiap segi kehidupan di Jepang, termasuk ekonomi. Bahkan ajaran Shinto menjadi landasan dalam akitifitas ekonomi di Jepang. Hubungan antara ekonomi dan Negara dapat dipahami melalui teori Confusius yang mempunyai pengaruh yang dinilai cukup besar di Jepang. Dasar pemikiran Confusius mengenai hal ini adalah ‘Kemanunggalan Ekonomi dan Negara’. Maka pada masa Tokugawa, dalam penggunaan modernnya, kata Keizai memiliki makna sebagai Ekonomi, sementara didalam ungkapan Dazai Shundai berarti ‘memerintah kekaisaran dan membantu rakyat’ sementara para penganut pemikiran Confusius memandang adanya kaitan yang langsung antara kesejahteraan ekonomi dan moralitas, dan nilai ajaran inilah yang dianggap diatas segalanya, yang mana menurut pemikiran para penganut ajaran Confusius memiliki kontribusi dalam menentukan nilai politik dari kehidupan ekonomi.

Pemerintahan Tokugawa juga menerapkan konsep ekonomi rakyat, hal ini dikarenakan anggapan Tokugawa bahwa rakyat harus memiliki tingkat kesejahteraan hidup tertentu, apabila hal ini tidak terlaksana, maka dikhawatirkan rakyat akan menjadi ‘tidak bisa diatur’ sehingga sedikit banyaknya dinilai juga akan mempengaruhi stabilitas pemerintahan Tokugawa. Inti dari kebijakan para penganut ajaran Confusius yang disusun dalam menjamin stabilitas politik tercakup dalam pernyataan dari Ta HsUeh yang sangat sering dikutip, bahwa sebenarnya terdapat jalan utama (tao) untuk menghasilkan kekayaan, yang hendaknya produsen lebih banyak ketimbang konsumen, banyak kegiatan produksi, tetapi tetap menerapkan penghematan dalam pembelanjaan, sehingga akan selalu cukuplah kekayaan yang ada.

Konsep Shingaku

Shingaku pada dasarnya merupakan gerakan yang dimulai ketika Ishida Baigan (1685-1744) yang memajang papan namanya dan memberikan pemahaman dan ajarannya melalui ceramah. Ceramah umum pertamanya pada tahun 1729. Hingga pada awal abad ke19 telah ada banyak tempat ceramah Shingaku diseluruh wilayah Jepang, bahkan setelah pendirinya wafat yaitu Ishida Baigan. Hal ini dikarenakan ajaran Shingaku menarik banyak orang dan menjadi pergerakan yang besar pada masa Tokugawa. Dari segi penyampaian, tidak hanya berbatas pada ceramah, tetapi telah mencakup media baca, yang juga banyak dibaca oleh kalangan umum yang luas. Pada dasarnya konsep Shingaku yang diperkenalkan oleh Ishida Baigan mempelajari mengenai hati. Didalam ajarannya terdapat nilai bahwa orang baik, hatinya akan menyatu dengan langit dan bumi, beserta segala hal, tidak ada sesuatu apapun yang dikatakan bukan dirinya, sehingga manusia bisa menembus batas langit dan bumi dengan hatinya. 

Berdasarkan pemaparan ringkas diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya setiap lini kehidupan di Jepang, terdapat pengaruh-pengaruh dari ajaran dan nilai-nilai Shintoisme, mulai dari implementasi ajaran Shintoisme dalam hal kenegaraan, hingga ekonomi, yang sedikit banyaknya dikaji didalam ajaran Shintoisme, dan Shintoisme memang memiliki corak tersendiri didalam memandang persoalan Negara, seperti konsepsi Bushido atau Jalan Ksatria, yang sangat melekat pada masyarakat Jepang, ditambah dengan slogan Sonno dan Kokutai, yang memiliki kontribusi tersendiri didalam Negara Jepang. Dari bidang lain, yaitu ekonomi, yang juga diresapi dari ajaran-ajaran Shintoisme, yang secara mendasar memiliki ajaran untuk mensejahterakan rakyat, hingga pada konsep Shingaku yang dinilai sebagai suatu pergerakan yang besar pada masa Tokugawa, dan cukup menarik minat masyarakat Jepang pada masanya.

Rabu, 29 Juli 2020

Apa Kata Buya Hamka Soal Wahabi?

Dalam salah satu buku karya Buya Hamka rahimahullah yang berjudul "Dari Perbendaharaan Lama", beliau membuat sebuah bagian tulisan yang berjudul "Gerakan Wahabi di Indonesia".



Buya Hamka berkata, ketika terjadi pemilihan umum, "Wahabi" dipakai untuk alat kampanye untuk menjatuhkan Partai Masyumi kala itu. Jadilah Masyumi sebagai "Wahabi". Lebih dari itu, orang-orang yang memperjuangkan Islam di tanah Jawa juga tak lepas dari stempel "Wahabi" (Hamka, 213:1963).

"Wahabi" sangat ditakuti oleh bangsa penjajah karena menurut Buya Hamka, apabila paham "Wahabi" telah sampai pada suatu negeri, paham itu akan meneguhkan kembali ajaran Tauhid yang murni dan menghapuskan segala sesuatu yang akan membawa pada kesyirikan. Paham "Wahabi" ini akan menimbulkan hilangnya perasaan takut kecuali hanya kepada Allah saja dan orang harus kembali kepada Quran dan Hadist dalam beragama (Hamka, 213:1963).

Buya Hamka menuturkan, pada tahun 1788 M, di zaman pemerintahan Paku Buwono IV yang juga bergelar Sunan Bagus, beberapa penganut paham "Wahabi" telah datang ke tanah Jawa dan menyebarkan pahamnya di negeri ini. Buya Hamka menjelaskan bahwa mereka mendapatkan sambutan yang sangat baik, dan mereka pula yang mengobarkan semangat anti penjajahan (Hamka, 214:1963)

Pemerintah kolonial Belanda merasa khawatir dengan perkembangan paham "Wahabi" ini karena mengganggu eksistensi mereka di nusantara. Pernah suatu kali, Pemerintah kolonial Belanda meminta Sunan Bagus agar mau menyerahkan para ulama-ulama "Wahabi" itu. Karena desakan dan tekanan Belanda, akhirnya, ulama "Wahabi" berhasil ditangkap dan diusir (Hamka, 214:1963)

Patah tumbuh hilang berganti, paham "Wahabi" kembali masuk ke Indonesia. Buya Hamka menjelaskan bahwa pada 1801 M, di Minangkabau telah kembali tiga orang yang telah selesai menuntut ilmu agama Islam di Mekkah dan akan menyebarkan ilmunya di tanah kelahiran mereka di Minangkabau. Tiga orang itu adalah Haji Miskin dari Pandai Sikek, Haji Abdurrahman dari Piobang dan Haji Muhammad Haris Tuanku Lintau dari Lintau. Mereka pun akhirnya menyebarkan ajarannya di Minangkabau. Ajarannya semakin banyak yang mengikuti hingga akhirnya terkenallah mereka dengan nama kaum Paderi di Minangkabau. Tuanku Imam Bonjol Sang Pahlawan Nasional itu, adalah diantara tokoh didikan dari mereka, ulama "Wahabi" (Hamka, 214:1963).

Buya Hamka menyayangkan, semangat pemurnian Islam yang dibawa "Wahabi" ini mendapat penentangan tidak hanya dari penjajah tapi dari kalangan Islam sendiri. Misalnya Buya Hamka menyatakan bahwa terdapat "ulama-ulama" pengambil muka yang mengarang buku-buku untuk mengkafirkan "Wahabi" di wilayah Timur Tengah sana. Bahkan menurut Buya Hamka, ada yang tega mengatakan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab sebagai turunan dari Musailamah Al Kadzab yang merupakan seorang nabi palsu (Hamka, 215:1963).

Penutup
Buya Hamka menuliskan "sekarang, Wahabi dijadikan kembali sebagai alat, untuk menekan semangat kesadaran Islam oleh beberapa golongan tertentu, yang bukan surut ke belakang Indonesia ini, melainkan kian maju dan tersiar..." (Hamka, 215:1963). Semoga kita diberikan keteguhan untuk mengamalkan Islam sesuai Quran dan Sunnah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

Minggu, 07 Juni 2020

Oppa Arif: Tips dan Trik Supaya Skripsi Cepat Selesai (Bagian 1)

Dalam tajuk Opini Pekanan (Oppa) Arif kali ini, aku mau bahas dikit soal skripsi.

Skripsi atau tugas akhir biasanya bikin mahasiswa itu galau berat dan skripsi juga yang jadi satu hal ribet yang seringkali bikin mahasiswa lama selesai kuliah padahal selama nyelesaikan mata kuliah, aman aja dan sedikit ngulang atau malah gak pernah ngulang?



Oke pada tulisan ini, aku mau berbagi sedikit tentang tips dan trik supaya cepat selesaikan skripsi! Oh ya. Tulisan ini bukan berarti aku sudah mahir membuat tulisan dalam waktu singkat. Tulisan ini sekedar sharing aja pengalamanku dulu ketika kuliah baik waktu S1 atau S2.

Oh ya.. satu lagi, perlu teman-teman ketahui bahwa aku berlatar belakang dari program studi hubungan internasional, jadi pengalamanku ini tentunya adalah pengalamanku secara khusus ngerjain skripsi hubungan internasional. Jadi, untuk jurusan atau program studi lain, bisa jadi punya tips dan trik berbeda ya gess. Tapi gak ada salahnya berbagi thoo..

Oke mari kita mulai..

Jadi, mari kita cari tau masalah penyebab skripsi mandeg sambil bahas solusi buat masalah itu!

Well, berdasarkan pengalamanku, senior, teman-temanku, dan saran dari para dosenku, terdapat beberapa masalah yang menghambat skripsi atau tugas akhir kuliah itu cepat selesai. Maka, mari kita bahas masalah-masalah itu berserta tipsnya supaya skripsi kita cepat kelar.

Masalah penghambat selesainya skripsi :
1. Kemalasan (ini problem yang "gue banget" wkwkwk)
2. Keterbatasan data
3. Tema skripsi adalah hasil dari saran orang atau teman alias bukan dari ide sendiri
4. Dosen pembimbing killer
5. Keasyiquean main sampai lupa waktu
6. Ngerjain skripsi sambil kerja
7. Kekurangan biaya
8. Ada yang mau nambahin? dll

Jadi masalah penghambat cepatnya kita nyelesaikan skripsi itu kurang lebih itudeh ya. Oh ya.. masalahnya gak terbatas pada poin-poin diatas sih. Masih ada masalah2 lain yang bisa jadi kalian rasakan yang aku gak tau. Tapi mari kita bahas masalah yang ini dulu.

Pertama, rasa malas!
Yaaa.. ini persoalan klasik yang aku yakin dialami sebagian besar mahasiswa termasuk aku! Ini persoalan besar tapi aku gak suka berpanjang lebar disini.
Solusinya cuma satu! Apa itu? RAJIN!
YAAA.. GAK ADA SOLUSI LAIN. JAWABANNYA ADALAH RAJIN! KERJAKAN SEGERA! BERGERAK SEGERA, BERTINDAK SEGERA, BUKA ITU LAPTOP ENTE TRUS KETIK WALAUPUN ENTE LAGI MAGER!
Wkwkwk sori gess.. terharu.. esmosian soalnya.

Kedua, keterbatasan data
Kadang ada mahasiswa yang pengen skripsinya itu keren, lain daripada yang lain. Hasilnya, terpikirkanlah skripsi dengan tema yang ngejelimet yang salah satu dampaknya adalah kesulitan data. Ketika skripsi tema ngejelimet itu diterima ama jurusan, trus ente disuruh lanjut ngerjain, pas ditengah jalan, eh gak ada data pendukung.. datanya sulit dicari.. huhuuu .. ada yang begini? Adaaaaa gess..
Jadi gak boleh apa skripsi aku itu keren dan beda?
Jawabannya ya boleh-boleh aja bujank! Tapi ente juga kudu realistis. Jangan demi keren-kerenan ente malah cari tema trus judul yang ngejelimet kayak "Pengaruh Kebijakan New Normal terhadap Relasi Gender dalam Lingkungan Akademi Ninja Desa Konoha" ente sendiri yang pusing cari datanya.

Ingat ya bujank... dalam kesederhanaan ada keindahan. Kalau bahasa padangnya, Simple is Beautiful.

Kalo ente mau bikin yang ngejelimet-jelimet, nanti aja deh kalo ente nulis disertasi buat S3. Oke yaa.
Keep it simple keep it real!

Ketiga, tema skripsi bukan dari ide sendiri
Bukannya aku ngelarang buat cari inspirasi dari teman sendiri, tapi yang jadi masalahnya disini adalah ide skripsi yang dikasih teman kadang membuat kita gak semangat ngerjain karena kita gak begitu paham apa yang teman kita sarankan. Bisa jadi karena yaaa bukan ide sendiri. Jadi kesannya kurang ori gitu. Malah ada kasus dimana sesemahasiswa minta tema dan judul langsung dari temennya, atau lebih parah minta proposal skripsi dari temen. Akibatnya apa? Kita kadang gak begitu paham bidang tema skripsi dari temen itu. Kalo gak paham.. maka gak suka.. kalo udah gak suka.. ya gak cinta.. kalo gak cinta ya gak nikah... wkwkwk
Sukur kalau paham dan juga suka. Lha kalo enggak?

Ingat jangan malu sama ide sendiri. Selama ide ente itu bukan ide-ide gila penuh dosa angkara murka atau melanggar hukum negara dan bangsa.
Biar jelek tapi hasil pikiran sendiri!
Tapi aku yakin ide jujur itu gak ada yang jelek meskipun ada orang yang ngetawain.
So, pakai ide ente sendiri. Tapi jangan lupa poin sebelumnya... ide sendiri tapi tetap sederhana dan mudah dijangkau ye..

Keempat, dosen pembimbing killer
Naaah.. ini juga masalah klasik dalam dunia perskripsian. Tapi gini gess.. mari kita jujur ke diri kita sendiri.
Tu dosen jadi killer karena emang dari sononya killer atau killer karena kitanya yang badung dan nyebelin?

Kalo ente jawab dosen killer karena emang dari sononya, maka ya ente tetap usahakan berbuat baik ke dia. Banyakin sabar meskipun dalam hati ente KZL. Sabaar. Itu obatnya. Jangan berbuat dan berkata yang mancing emosi dosen. Tetap santun.
Ingat kalau dosen ente killer dari sononya maka cepat-cepatlah ente selesaikan skripsi ente! Biar gak berurusan ama dosen killer itu lagi! Ya kan..? wkwkwkwk

Kalo dosen jadi killer karena ente yang badung dan nyebelin, maka ente stoplah jadi badung dan nyebelin. Minta maaf ke dosen itu, tunjukkan bahwa ente itu tobat nasuha dari kebadungan ente dan mengganti kebadungan ente dengan kegigihan dan keuletan.

Udah ah... segini aja dulu.. capek aku.
Aku ngetik ini pas larut malam gess. Udah ngantuk aku wkwkwwkk
Lanjutin di part 2 nanti yaa..
Tunggu episode selanjutnya.

Senin, 01 Juni 2020

Oppa Arif : Kenapa Arwah Gentayangan Tidak Mencekik Anda?

Udah lama aku gak apdet tulisan nih. Monmaap gess. Maklum masih kuat malesnya wkwkwk.

Anyway, dalam tulisan dengan tajuk Opini Pekanan Arif (Oppa Arif) kali ini, mari kita ngobrolin perkara mistis. Persoalan setan, jin demit sampe arwah gentayangan! berani kagak lo? kalo berani, lanjutin baca dong! kalau kagak berani, lanjutin baca biar berani! wkwkwkwk

Just kidding gess.. jangan marah yes

Persoalan arwah gentayangan, hantu, demit, siluman dan semacamnya masih menjadi masalah hot dimasyarakat kita, ya masyarakat Indonesia negeri tercinta ini. Sebagian masyarakat kita masih meyakini bahwa manusia yang meninggal bisa berubah jadi setan arwah gentayangan. Eh si arwah gentayangan ini kemudian menggentayangi manusia yang masih hidup, dan luar biasanya lagi, arwah gentayangan ini punya kehebatan yang gak bisa ditandingi oleh manusia. Gokil gak tuh?

Yaa.. gambaran orang mati kemudian berubah jadi arwah gentayangan yang melekat dipikiran masyarakat kita (atau bisa jadi dipikiran kita juga?) aku pikir besar pengaruhnya gara-gara filem-filem horor yang kita tonton. Di filem-filem horor itu kan ditunjukkan kalau arwah gentayangan itu pokoknya hebat banget deh! bisa ngalahin musuh-musuhnya yang notabene adalah musuhnya juga waktu si arwah ini masih hidup sebagai manusia! gokil banget! waktu masih jadi manusia, bisa keok dibabat musuh. Waktu jadi hantu arwah gentayangan, si musuh itu dibuat tak berkutik.

Jadi mau bahas apa nih? mau bahas hantu yang mencekik manusia? bukaan. Aku cuma mau membahas tentang opo iyo hantu itu kayak yang digambarkan di filem-filem horor?

Well, let's get started..

Ada banyak sudut pandang untuk menjelaskan tentang setan, hantu, arwah gentayangan dan lainnya. Ada yang pake sudut pandang pengalaman pribadi, kata-kata orang tua, sampe sains. Nah, sepengetahuanku, setan hantu demit dan sejenisnya adalah objek yang masih belum terjangkau secara sains. sehingga agak sulit ngomong setan dan kroconya dari sudut sains karena gambaran setan dan kroconya itu seringkali dikategorikan tidak saintifik. Atau kalau mau dibahas dari sudut pandang sains, biasanya pembahasan setan itu masuk dalam pembahasan ilmu jiwa terkait gangguan jiwa atau ilmu syaraf mungkin? dalam ilmu sosial, setan biasanya dikaitkan dengan konstruksi sosial dari masyarakat. artinya setan itu cuma hasil karangan manusia dan budayanya aja. buktinya, hantu pocong kagak bakalan kedengeran kalau kita lagi main-main di Brazil. Sebaliknya, hantu drakula juga gak bakalan kita temui di Kota Payakumbuh wkwkwk.



Nah, dalam sudut pandang Islam, terdapat makhluk yang disebut Jin. Quran dan Hadist banyak menjelaskan makhluk ini. Tapi penjelasan Islam tentang Jin ini sama sekali bukan kayak di filem-filem ya. Jin adalah makhluk ciptaan Allah yang ada didunia ini. Dalam pandangan Islam, manusia gak bisa melihat jin dalam wujud aslinya. Manusia juga dilarang buat berkomunikasi, atau bekerjasama dengan Jin karena itu adalah dosa besar dan Jin yang hobi berkomunikasi dan kerjasama ama manusia (manusia kayak dukun, para-enggak-normal sampe orang indi(ot)go) adalah jin yang kerjanya nipu dan bohongin manusia supaya manusia ingkar pada Tuhannya. So, jangan percaya ama saran-saran dari dukun, para-enggak-normal dan para kroconya. Mereka cuma mau morotin duit, nipu pasiennya dan lebih parahnya mereka menggiring masyarakat pada kesesatan dengan mengingkari perintah dan larangan Allah.


Diatas tadi aku udah sebutin bahwa manusia gak bisa melihat jin dalam wujud asli jin. Sebagaimana penjelasan para ulama di zaman dahulu, jin bisa berubah bentuk jadi bentuk yang laen. Ingat hadist dimana sahabat Nabi Muhammad shalallaahu alaihi wa salam diperintahkan buat jaga gudang makanan trus ada setan nyamar jadi peminta-minta? nah itu adalah bukti bahwa jin itu bisa berubah dari wujud aslinya. Menurutku, perubahan bentuk jin kedalam bentuk yang beraneka ragam inilah yang menghasilkan nama-nama yang beda-beda di tempat kita. Mulai dari setan, demit, lelembut, siluman, pocong, kuntilanak, gendruwo, apa lagi? masih banyak tapi intinya satu, semua nama itu adalah JIN. Tapi di tulisan ini, aku gak mau bahas panjang lebar tentang JIN. silahkan merujuk pada tulisan-tulisan ulama tentang penjelasan makhluk itu. Aku mau lebih fokus ama yang katanya "Arwah Gentayangan"

Diatas udah kusinggung bahwa ada keyakinan kalau seseorang mati, maka arwahnya bisa jadi gentayangan. Benerkah ini? Dalam sudut pandang Islam, hal ini TIDAK BENAR.

Dalam Islam, ketika seorang manusia meninggal maka dia udah masuk ke alam yang berbeda dengan alam manusia. alam itu dikenal dengan nama Alam Barzakh. Di Indonesia sering disebut sebagai "alam kubur". Ketika manusia meninggal trus masuk alam barzakh, maka dia sudah gak peduli lagi dengan kehidupan manusia di bumi. Kenapa? karena dia udah sibuk, mempertanggung jawabkan perbuatannya selama didunia. Kalau dia termasuk manusia yang beriman dan beramal sholeh, maka di alam barzakhnya dia menerima kebahagiaan. Sebaliknya, kalau selama didunia dia gak termasuk manusia yang beriman atau beramal sholeh, maka dia mendapatkan hukuman didalam alam barzakh itu. Dan sekali lagi, manusia tersebut gak bisa kembali ke dunia ini!

Pernah dengar bahwa di alam barzarkh, manusia akan ditanyai oleh dua malaikat tentang perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan manusia itu didunia? dua malaikat itu adalah malaikat Munkar dan malaikat Nakir. Kalau itu manusia baik, maka dia dapat hadiah kebaikan pula. dan sebaliknya kalau dia manusia jahat maka di siksa deh di alam barzakh itu. Gimana caranya kabur?

Makaa.. manusia kalau sudah meninggal, dia gak bakalan bisa kembali ke dunia ini lagi dalam bentuk apapun dan untuk keperluan apapun juga! trus kalau ada orang yang sudah meninggal tapi katanya muncul "penampakan"nya itu gimana dong? maka aku katakan, penampakan itu kemungkinannya cuma halusinasi, atau jin yang berubah bentuk untuk mengganggu manusia supaya manusia itu ingkar pada Allah. Coba bayangkan.. gara-gara fenomena "penampakan" ini, berapa banyak manusia yang akhirnya bikin sesajen? berapa banyak akhirnya manusia yang minta nomer judi togel? berapa banyak manusia yang nyembah pohon, batu, kuburan dll? itu yang aku maksud dengan jin yang berusaha membuat manusia ingkar pada Allah, Tuhannya! Allah udah berfirman dalam Quran bahwa setan itu adalah musuh yang nyata bagi orang-orang beriman. Jadi, setan, jin yang mengganggu manusia punya satu goal yang harus dicapai dengan cara apapun juga! yaitu membuat manusia itu ingkar pada Allah, Tuhannya manusia.

Jadi, simpulannya gess.. clear yaaa.. gak ada yang namanya arwah gentayangan.. orang udah mati trus hidup lagi... gak ada. kalaupun ada yang ngaku pernah ngeliat, atau mungkin ente merasa pernah meliat secara langsung maka kemunginannya adalah, itu ente salah liat, ente berhalusinasi, atau memang ada jin yang nyamar. dan kita kagak boleh takut ama jin karena manusia adalah pemimpin di bumi, bukan jin. Jin itu makhluk lemah. Jadilah manusia yang kuat. kuat imannya pada Allah. Maka jin itu bakalan ogah ngeganggu. Kalaupun diganggu jin, maka minta tolonglah pada Allah.

Kalau seandainya ada yang namanya arwah gentayangan kayak di filem-filem.. SEANDAINYA LHO YAA.. maka udah berapa banyak orang yang mati dicekek ama arwah gentayangan tho?
Misalnya, jaman perjuangan kemerdekaan dulu banyak pahlawan-pahlawan kita yang gugur dalam perjuangan. Tapi kagak ada aku denger itu kompeni belanda mati dicekek ama arwah gentayangan para pejuang. Gak pernah juga kita denger itu arwah hokage ke tiga tanpa edo-tensei cekek si orochimaru sampe mati wkwkwkwk. Udah ah capek.. pokoknya gitu deh ya

Jumat, 03 April 2020

Danzo Shimura: Si Pejabat Tua Perusak Desa Konoha

Danzo Shimura, salah satu karakter dalam serial komik Jepang (Manga) yang berjudul Naruto. Generasi milenial dan anak muda pasti sebagian besarnya sudah tidak asing lagi dengan komik atau anime (kartun Jepang) Naruto.



Danzo adalah orang tua yang sangat disegani di Desa Konoha. Ia adalah teman dari pemimpin desa, Sang Hokage. Saking hebatnya, Danzo bisa membuat kebijakan-kebijakan yang berdampak besar pada desa hingga pemimpin desa, Sang Hokage menjadi seolah tak berdaya. Bisa dikatakan Danzo adalah pemimpin desa dibalik layar.

Banyak kekacauan dalam serial Naruto disebabkan oleh ulah Danzo ini. Mulai dari pembantaian Klan Uchiha, kekacauan dalam Desa Konoha hingga perang dunia. Semuanya itu melibatkan Danzo. Padahal dari segi pemerintahan Konoha, siapalah Danzo ini. Dia bukan siapa-siapa tapi kekuatannya cukup bisa membungkam Sang Hokage.

Pada akhirnya, nasib Danzo tidak berakhir baik. Danzo yang culas dan haus kekuasaan akhirnya tewas ditangan Sasuke Uchiha. Banyak rencana Danzo yang akhirnya gagal.

Meskipun Danzo telah tiada, tapi warisan kejahatannya masih sulit dikikis dari Desa Konoha. Masalah-masalah yang datang kemudian setelah Danzo wafat adalah masalah yang dulu sudah direncanakannya. Jangan jadi Danzo yang licik dan haus kekuasaan.

Aplikasi Zo*m : Antara Corona dan Cina

Ditengah pandemi Covid-19, masyarakat dunia dipaksa untuk beradaptasi pada banyak hal mulai dari persoalan rumah tangga, hingga urusan kenegaraan sekalipun. Urusan pendidikan juga tak luput dari tuntutan adaptasi karena Covid-19 ini.

Salah satu bentuk adaptasi dalam dunia pendidikan Indonesia khususnya dalam menghadapi pandemi Covid-19 adalah pemerintah menghimbau bahkan mewajibkan instansi pendidikan untuk melakukan proses belajar mengajar secara dalam jaringan (daring) atau online.

Tentu masih banyak insan pendidikan yang belum terbiasa dengan metode daring dalam pendidikan dan pengajaran sehingga wajar saja jika ada yang masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri untuk metode pengajaran daring ini.

Aplikasi Zo*m menjadi populer beberapa hari terakhir ini sebagai aplikasi untuk melakukan tatap muka secara daring dalam proses belajar. Benar-benar sebuah kemudahan yang membahagiakan.



Kemunculan aplikasi Zo*m ini sayangnya juga membawa beberapa masalah. Belakangan ini, terdapat laporan yang menyatakan bahwa aplikasi Zo*m secara rahasia mengirimkan data-data sensitif para penggunanya ke Cina. Tentu saja isu ini membuat resah para pengguna aplikasi Zo*m.

Bill Marzack dan John Scott-Railton dari Universitas Toronto di Kanada menyatakan bahwa mereka tidak merekomendasikan penggunaan aplikasi Zo*m khususnya bagi organisasi pemerintahan di Amerika Serikat sebagaimana yang dikutip oleh situs forbes.com.

Menanggapi hal ini, CEO Zo*m menyatakan bakal memeriksa dan memastikan permasalahan tersebut, mengapa data-data sensitif pengguna aplikasi bisa terkirim ke Cina. Dia juga menekankan bahwa data pengguna akan dilindungi.

Sebagai pengguna aplikasi ini lantas apa yang harus saya lakukan? Ya jika pertanyaan itu ditujukan ke saya, maka saya katakan bahwa saya tetap akan menggunakan Zo*m. Emangnya saya siapa sampai datanya bisa berguna bagi pemerintah Cina? (wkwk πŸ˜‚). Lagipula, kasus kebocoran data pengguna aplikasi berbasis internet tidak hanya terjadi pada aplikasi Zo*m. Mungkin teman-teman masih ingat beberapa waktu lalu, pesbuk menerima tuntutan dari warga Amerika Serikat karena dituduh telah membocorkan data-data penting pada pihak lain. So, pada dasarnya setiap aplikasi berbasis internet punya kemungkinan untuk membocorkan data kita pada pihak lain, maka dari itu barangkali sebaiknya kita tidak perlu memasukkan data-data sensitif kedalam internet. Tidak perlu menanggapi dengan panik dan berlebihan.

Virus Corona di Amerika Serikat: Dari tisu toilet, senjata api hingga rasisme

Beberapa minggu lalu, saya melihat berita tentang respon masyarakat Amerika Serikat terhadap Covid-19 dimana masyarakat disana dengan panik membeli kebutuhan-kebutuhan pokok, seperti obat-obatan, makanan dan tisu toilet.

Hal yang unik adalah, viral di media sosial Amerika Serikat bahwa terjadi krisis tisu toilet disana bahkan hingga detik ini. Warga Amerika secara berbondong-bondong menyerbu toko-toko kebutuhan rumah tangga untuk memborong tisu toilet sebanyak mungkin. Mungkin teman-teman pernah melihat video dimana warga Amerika Serikat sana saling baku hantam karena berebut tisu toilet. Mereka begitu panik dengan menipisnya persediaan tisu toilet dan panik mencari penggantinya. Bersyukur kita orang Indonesia terbiasa menggunakan air untuk membersihkan diri hehe.

Setelah pembelian besar-besaran tisu toilet, terjadi juga peningkatan tajam terhadap permintaan senjata api. Ya pistol, senapan, peluru dan semacamnya! Media Amerika Serikat seperti The New York Times memberitakan bahwa sejak pertengahan maret hingga saat ini, terjadi lonjakan besar terhadap permintaan senjata api. Ya, saat ini masyarakat Amerika Serikat sedang panic-buying senjata api.



Menurut pemilik toko senjata "Hyatt Guns" dari Carolina Utara, masyarakat membeli senjata api tidak seperti biasanya, bukan jenis senjata yang dibeli untuk berburu melainkan senjata api yang sifatnya ditujukan untuk perang atau kerusuhan.

Data penyebaran Covid-19 beserta korbannya secara global menempatkan Amerika Serikat pada posisi teratas dunia sebagai negara paling parah kasus Covid-19 nya. Hal ini berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat Amerika Serikat pada pemerintahnya. Kiranya menurut salah seorang warga Amerika, Amerika saat ini berada dalam ketakutan dan mereka harus melindungi dirinya sendiri.

Tidak hanya sampai disitu, pembelian senjata api secara besar-besaran di Amerika Serikat juga meluas hingga menyerempet fenomena rasisme. Diketahui bahwa pembelian senjata secara masif di wilayah Washington dan California didominasi oleh pembeli dengan ras Asia. Mereka khawatir jadi sasaran amukan warga Amerika dengan ras non-Asia khususnya warga kulit putih. Barangkali sikap rasisme ini diperparah dengan pernyataan Presiden Trump beberapa waktu yang lalu bahwa Coronavirus adalah Virus orang Cina (Chinese Virus) dan ini adalah pernyataan yang rasis. Pada sisi lain, Pemerintah Cina di Beijing sendiri sempat menuduh bahwa virus Corona adalah senjata biologis yang dibawa Amerika Serikat ke Cina. Siapa sangka dibalik pandemi virus Corona ini membuka fenomena lain yang juga bombastis seperti rasisme, persaingan ekonomi antar negara hingga krisis transparansi pengelolaan pemerintahan?

Pada akhirnya, kita semua berharap kecemasan dan ketakutan hingga kekerasan yang terjadi di Amerika Serikat dan negara lain, tidak terjadi di Indonesia. Semoga bangsa Indonesia yang dikenal dengan keluhuran budi, bisa saling bahu-membahu antar masyarakat dan pemerintah untuk menghadapi pandemi Corona ini bukannya bersikap egois dan individualis. Semoga pandemi ini berakhir segera.

Khususnya umat Islam, sudah sangat rindu dengan kehadiran ramadhan. Corona cukup mengguncang semangat ramadhan yang sebentar lagi akan menghampiri kaum muslimin dengan isu tidak diadakannya tarawih, kajian, buka puasa bersama dan segala semarak ramadhan lainnya. Semoga itu semua hanya wacana, dan kita bisa menyambut ramadhan dengan khusyuk dan bebas Corona.

Rabu, 01 April 2020

Opini Pekanan Arif (Oppa Arif) : Pendapat Dokter Amerika tentang Covid-19 (Virus Corona)

Judul tulisan ini Opini Pekanan, tapi kenyataannya saya tidak istiqomah menulis setiap pekan. What a shame. Harap maklum saja ya teman-temanπŸ˜….

Anyway, mari kita mulai. Hari ini iseng-iseng melihat berita internasional tentang pandemi global saat ini. Ya, Covid-19. Ada sebuah berita yang berisi wawancara ke seorang ahli vaksin dari Sekolah Kedokteran Universitas George Washington di Amerika Serikat sana bernama Dr. Peter Hotez.



Yang menarik dari wawancara terhadap Dr. Hotez adalah bahwa sebenarnya virus Corona ini sudah diketahui lebih dari 10 tahun lalu. Dr. Hotez termasuk salah satu peneliti yang meneliti virus ini. Namun beberapa tahun silam ketika Dr. Hotez mengajukan proposal pendanaan ke Pemerintah Amerika Serikat untuk riset tingkat lanjutan terhadap virus Corona, proposalnya ditolak oleh pemerintah Amerika Serikat pada saat itu sehingga riset lanjutan batal dilaksanakan. Maklum. Anggaran riset ilmiah memang seringkali bukan prioritas pada beberapa negara (hehee πŸ˜‹). Dr. Hotez berandai jika saja riset Covid-19 ini diteruskan sekitar 10 tahun lalu, barangkali fenomena pandemi global saat ini tidak terjadi.

Poin kedua adalah, Dr. Hotez menyatakan terdapat miskonsepsi yang beredar ditengah masyarakat bahwa kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap Covid-19 adalah orang-orang tua atau kelompok lansia. Dr. Hotez menyatakan bahwa kenyataannya, lebih dari seperempat pasien Corona di Amerika Serikat menurut Pusat Pengendalian Wabah Penyakit (Center for Disease Control) adalah masyarakat golongan muda dengan usia antara 20 hingga 40 tahun. Jadi, yang merasa usianya masih muda, jangan anggap remeh Covid-19 namun juga jangan panik berlebihan.

Poin ketiga yang saya soroti dari wawancara terhadap Dr. Hotez adalah, dengan teknologi dan informasi yang dimiliki negara barat khususnya Amerika Serikat saat ini, vaksin untuk Covid-19 dapat dihasilkan dan digunakan untuk manusia selama paling cepat sekitar 18 bulan sejak sekarang. Lama juga ya πŸ˜…

Dr. Hotez pada akhir wawancaranya tetap optimis bahwa jika masyarakat tetap "istiqomah" melakukan "social distancing" (saya pribadi lebih suka istilah physical distancing) maka angka penyebaran Covid-19 dapat ditekan.

Terakhir, kita sebagai seorang muslim tentu saja ditengah keadaan seperti ini tidak henti-hentinya memohon perlindungan dan banyak bertaubat atas kesalahan kita pada Allah ta'ala. Sependek pengetahuan saya, saya diajarkan apabila seorang muslim mendapat kesusahan, maka muslim itu akan menjadikan kesusahan itu untuk momen instrospeksi dirinya dan bertaubat pada Allah. Karena pada hakikatnya tidak ada penolong yang lebih baik daripada Allah ta'ala. Wallahu'alam.