Halaman

Jumat, 27 November 2020

Jalan Adam BB : Sekilas Kisah Hidup Syekh Adam Balai-Balai

Di kota kelahiranku, Kota Padang Panjang, ada sebuah jalan. Jalan yang tidak jauh dari rumahku, diberi nama Jalan Adam Balai-Balai atau di singkat Jalan Adam BB. Jalan ini memang terletak di wilayah Kelurahan Balai-Balai. Selama ini, aku hanya lewat dari jalan itu dengan tanpa begitu mengacuhkan nama jalan tersebut. Biasa saja, pikirku dalam hati. Bertahun-tahun lewat dari jalan itu, bertahun-tahun itu juga aku abaikan nama jalan itu.



Ketidak pedulianku pada nama Jalan Adam BB itu tiba-tiba berubah setelah suatu hari aku membaca buku Buya Hamka yang berjudul “Ayahku”. Ya, buku dimana Buya bercerita tentang hidup ayah beliau, Haji Abdul Karim Amrullah atau Inyiak Rasul. 

Inyiak Rasul adalah seorang pendakwah Islam, ulama yang terkenal di Ranah Minang, bahkan di Indonesia. Walaupun beliau wafat sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, tepatnya Inyiak Rasul wafat pada 2 Juni 1945. Semoga jasa beliau pada Islam diberikan ganjaran pahala oleh Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih.

Inyiak Rasul terkenal dengan ketegasannya dalam berdakwah dan menyampaikan ajaran Islam. Buya Hamka mengisahkan bahwa kadang sikap tegas Inyiak Rasul dalam berdakwah dianggap keras oleh para tokoh adat maupun tokoh agama kalangan tradisionalis. Tidak heran perdebatan yang sengit menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Inyiak Rasul dalam berdakwah, menyampaikan ajaran agama dan berusaha “meluruskan” masyarakat yang menurut Inyiak Rasul telah menyimpang dari ajaran Islam yang berasas tauhid yang murni. Inyiak Rasul punya banyak murid di Ranah Minang pada masanya. Ternyata Adam Balai-Balai merupakan salah satu murid dari Inyiak Rasul.




Tersebutnya nama Adam Balai-Balai dalam tulisan Buya Hamka memunculkan rasa keingintahuanku untuk lebih jauh menyelidiki siapa sebenarnya tokoh ini, Syekh Adam BB yang namanya diabadikan jadi nama jalan di Kelurahan Balai-Balai, di kampung halamanku Kota Padang Panjang. Teknologi internet sungguh memudahkanku untuk mengetahui lebih jauh tentang Syekh Adam BB. Segera aku tulis kata “Adam Balai-Balai” di mesin pencari google dan ternyata muncul informasi tentang beliau. Diketahui Syekh Adam BB lahir pada tanggal 31 Agustus 1889 dan wafat pada tanggal 15 Juli 1953.

Syekh Adam BB terkenal dengan kemampuannya dalam “basilek” atau bersilat. Kemampuan beliau dalam silat itu pada akhirnya mengantarkan beliau menjadi orang yang disegani bahkan ditakuti, melekatlah julukan sebagai “parewa gadang” ke diri beliau. Julukan yang punya padanan sebagai preman, jagoan, jawara, dan sebagainya. Buya Hamka mengisahkan bahwa Syekh Adam BB dulunya sebelum mendapat hidayah dari Allah untuk mendalami Islam adalah orang yang liar, tak tentu tempat bermalam, hidup dari bermain sepak raga, layang-layang dan pencak silat. Siapa sangka seorang “parewa gadang” pada akhirnya bisa punya perhatian yang besar terhadap ilmu dan ajaran Islam bahkan menjadi salah satu yang paling keras dalam mengajarkannya terhadap masyarakat Padang Panjang? Kurang lebih demikianlah pandangan Buya Hamka terhadap Syekh Adam BB.

Sebelum belajar dan mendalami ajaran Islam, Syekh Adam BB konon pernah bekerja sebagai mandor di kota tambang batubara, Kota Sawahlunto. Konon beliau menjadi mandor untuk “orang rantai” yaitu istilah yang biasa dipakai untuk menyebut para tahanan pekerja paksa oleh Penjajah Belanda. Disebut “orang rantai” karena memang para pekerja paksa tersebut dirantai tubuhnya sehingga mereka tidak bisa melarikan diri. Konon pula ketika bekerja sebagai mandor ini, Syekh Adam BB mendapatkan gaji yang cukup besar pada masa itu. Namun segala pencapaian Syekh Adam BB muda tidak begitu membahagiakan Ibunda beliau. Sang Ibunda ternyata tidak memandang kesuksesan dari pangkat dan harta yang telah dikumpulkan Syekh Adam BB muda.

Sikap Sang Ibunda yang demikianlah yang pada akhirnya membuat Syekh Adam BB merenungi kembali makna kehidupan yang sejati. Apa sebenarnya yang menjadi tujuan manusia di dunia ini? Apa kebahagiaan yang sejati itu? Aku membayangkan barangkali pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang berkecamuk dalam pikiran Syekh Adam BB pada masa itu.

Buya Hamka bercerita, Syekh Daud Rasyidi yang merupakan ulama Minangkabau yang sezaman dan bersahabat dengan Inyiak Rasul yang menggugah hati Syekh Adam BB untuk mendalami ajaran agama, ajaran Islam. Syekh Daud adalah ulama yang lapang hati, kata Buya. Sikap Syekh Daud inilah yang pada akhirnya meluluhkan jiwa Syekh Adam BB untuk tobat dari hidup sebagai “parewa gadang”. Akhirnya Syekh Adam BB belajar di Pahambatan dibawah bimbingan Syekh Daud Rasyidi. 

Syekh Adam BB ternyata punya pikiran yang cerdas sehingga cepat pula beliau menerima pelajaran agama dari gurunya. Ketika Haji Abdul Karim Amrullah atau Inyiak Rasul membuka pengajaran di Kota Padang Panjang, Syekh Adam BB ikut pula bergabung menjadi murid dari Inyiak Rasul. Begitu besar hormat dari Syekh Adam BB kepada Inyiak Rasul. Sehingga tidak boleh ada orang yang berani mencela Inyiak Rasul apalagi didepan Syekh Adam BB. Tentu saja jika hal itu terjadi, Syekh Adam BB akan tersinggung.

Buya Hamka bercerita, suatu hari ada seorang yang menurut tokoh agama yang tradisionalis sebagai ulama bernama Syekh Abdul Hadi. Orang ini (Syekh Abdul Hadi) kemudian sampai ke Ranah Minang dan berceramah berfatwa pula. Abdul Hadi membangkitkan tradisi-tradisi yang ditentang oleh kalangan “ulama muda” atau “Kaum Muda” yang menghendaki Islam kembali pada asas kemurniannya. Syekh Abdul Hadi berusaha menghidupkan kembali tradisi-tradisi “berburu berkah” seperti makan sisa makanan guru, mengambil berkah dari air liur guru dan lain sebagainya yang berkesuaian dengan pandangan para “Kaum Tua”. Tradisi-tradisi tersebut berusaha di kikis oleh “Kaum Muda” karena tidak sesuai dengan ajaran Islam, termasuk berlebihan dalam beragama yang dikhawatirkan bisa menjerumuskan pada kesyirikan.

Suatu hari, Syekh Abdul Hadi berceramah pula di daerah Jaho, Padang Panjang. Daerah Jaho adalah daerah dimana Syekh Jamil Jaho (ulama yang sezaman dengan Inyiak Rasul –pen) mengajar. Syekh Abdul Hadi pada waktu itu sangat asyik berceramah. Namun ceramah yang disampaikannya menurut penjelasan Buya Hamka, adalah ceramah yang melantur dan mencela. Tentu saja yang dicela adalah ulama muda atau “Kaum Muda”. Sudah jelas pula, apabila “Kaum Muda” dicela, maka akan tersebutlah nama-nama seperti Haji Abdul Karim Amrullah, Haji Abdullah dan lainnya sebagai golongan yang sesat, wahabi katanya.

Ternyata ketika Abdul Hadi menyampaikan ceramah celaan dan melanturnya, Syekh Adam BB ada disana mendengarkan ceramahnya. Jelas saja, Syekh Adam BB merasa murka dan naik pitam. Perdebatan antara keduanya, Syekh Adam BB dan Syekh Abdul Hadi tidak dapat dihindari. Buya Hamka mengisahkan pada akhirnya, Syekh Abdul Hadi melarikan diri dari tempat ceramah itu, dan ketika melarikan diri, dia terpeleset dan tercebur pula ke sebuah “tabek” atau kolam. Dari kisah ini, aku (Arif) paham betapa tinggi kecintaan dan hormat Syekh Adam BB kepada guru beliau, Inyiak Rasul.

Hubungan Syekh Adam BB dan Inyiak Rasul sempat merenggang karena peraturan pembagian kelas dalam pengajaran agama dijalankan di Padang Panjang. Syekh Adam BB tidak setuju dengan adanya kelas-kelas dalam pembelajaran. Sedangkan Inyiak Rasul pada masa itu setuju dan menjalani proses pengajaran dengan pembagian kelas dari yang rendah ke kelas yang tinggi. Meskipun hubungan mereka sempat renggang, tapi hal tersebut tidak menjadikan Syekh Adam BB berkurang hormatnya pada gurunya. Pada akhirnya Syekh Adam BB menerima bahwa mengadakan kelas dalam pembelajaran mulai dari kelas yang rendah, bertingkat dan bertahap menjadi kelas yang tinggi memang dibutuhkan dalam proses pendidikan.

Dalam perjalanan dakwah Islamnya, Syekh Adam BB diketahui telah membuka “halaqah” atau majelis kajian agama sederhana di Surau Kampung Baru, Kampung Pasar Baru, Kota Padang Panjang. Surau Kampung Baru saat ini telah menjadi Masjid Raya Jihad Kota Padang Panjang. Kemudian beliau juga mendirikan sekolah agama Islam atau Madrasah yang diberinya nama Madrasah Irsyadunnas dan beliau juga memberi bagian kelas khusus untuk perempuan yang hendak belajar agama dengan nama Irsyadunnisa. Dibangunnya madrasah ini, aku pikir merupakan bukti bahwa beliau (Syekh Adam BB) menerima sistem kelas dalam proses pembelajaran. Aku berusaha untuk mencari informasi tentang madrasah yang beliau dirikan, namun aku masih belum menemukan informasi tentang madrasah itu saat ini. Informasi yang aku dapatkan bahwa Madrasah Irsyadunnas ini terletak dekat dengan lokasi Masjid Jihad Kota Padang Panjang, dan madrasah ini sudah tidak ada lagi. Semoga lain kali aku bisa mencari tahu lebih jauh tentang madrasah yang didirikan Syekh Adam BB ini.

Syekh Adam BB meninggal pada tahun 1953 dan dimakamkan di Kota Padang Panjang. Makamnya berdekatan dengan lokasi Masjid Raya Jihad Kota Padang Panjang. Kabar yang aku ketahui, makam beliau memang tersembunyi, cukup sulit untuk diakses. Namun baru-baru ini, aku membaca berita bahwa makam tersbut telah dibersihkan, dan ada rencana dari Pemerintah Kota Padang Panjang untuk memperbaiki makam tersebut sehingga menjadi lebih mudah aksesnya bagi yang ingin berziarah. Aku sangat senang dan mengapresiasi usaha yang direncanakan oleh Pemerintah Kota Padang Panjang. Tentu saja aku berharap semoga makam beliau tidak dikeramatkan orang, dijadikan tempat untuk tujuan dan ritual yang dikhawatirkan bisa menjerumuskan pada kesyirikan, hal yang paling ditentang oleh Syekh Adam BB sendiri.


Pada akhirnya, aku hanya bisa kagum pada sekeping kecil perjalanan hidup Syekh Adam BB, yang nama beliau jadi nama jalan yang sering aku lewati tapi aku tidak pedulikan. Selain itu aku juga berdoa dan berharap pada Allah agar memberikan ampunan dan rahmatNya kepada Syekh Adam BB. Aku hanya bisa mengambil pelajaran dari sejarah dan perjalanan hidup seorang Syekh Adam BB, seorang ahli pencak silat, pendidik yang pemberani dalam membela kebenaran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.