Religi Jepang Pada Masa Tokugawa
Pada dasarnya, religi yang menjadi acuan di Jepang adalah pemujaan terhadap leluhur. Nilai-nilai pemujaan terhadap leluhur ini, merupakan cara bagi bangsa Jepang, pada masanya dalam rangka mengenang dan mengingat arti garis leluhur yang dianggap sakral dan dan suci, dan secara prinsipal merupakan representasi dari tanggung jawab oleh seluruh keluarga terhadap leluhur. Namun pada masa Tokugawa ini, terjadi peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan keagamaan, seperti ultimatum bahwa agama Budha ditetapkan sebagai agama Negara oleh rejim Tokugawa pada masa itu. Dengan dikeluarkannya pernyataan ultimatum tersebut, menimbulkan berbagai penolakan-penolakan, terutama dari kalangan fundamentalis atau radikal, namun penolakan atau penentangan terhadap ultimatum ini pada kenyataannya tidaklah dengan terang-terangan, hal ini disebabkan karena kelompok penentang pada dasarnya merasa khawatir terhadap posisinya.
Apabila penjelasan mengenai religi Jepang pada masa Tokugawa dijelaskan dengan poin-poin religi yang berlaku dan dianut masyarakat Jepang, maka dapat digambarkan bahwa religi-religi yang berlaku sebagai berikut :
Shinto
Pada dasarnya, ajaran tentang Shinto adalah ajaran yang mendasar yang mana tidak diketahui dengan pasti siapa pembawa ajaran ini. Namun, dapat ditarik pernyataan bahwa ajaran Shinto lahir dari pertemuan antara kebudayaan asli dari tradisi-tradisi Jepang terhadap pengaruh-pengaruh eksternal yang datang dari luar. Ajaran Shinto pada dasarnya mengarah pada ajaran-ajaran animisme dan dinamisme. Dalam ajaran Shinto, terdapat konsep tentang tuhan atau dewa, yaitu Kami. Dewa Matahari atau Dewa Amaterasu yang dalam istilah Jepang dikenal dengan Amaterasu Omikami merupakan dewa atau kami paling penting bagi bangsa Jepang. Namun masih terdapat Kami-Kami lain didalam kepercayaan religious dari bangsa Jepang, seperti Kami Leluhur dan Kami Pelindung.
Budha
Masuknya ajaran Budhisme atau Budha ke Jepang, berasal dari India, tepatnya sudah masuk sejak abad 6 Sebelum Masehi. Terdapat banyak variasi didalam ajaran Budha, namun ajaran yang berkembang dan dianut oleh bangsa Jepang pada masa Tokugawa adalah ajaran Zen Budha, yang mana didalam ajaran Zen Budha mengutamakan meditasi didalam mencari pencerahan bagi diri sendiri, tanpa pengaruh-pengaruh dari luar. Pada dasarnya ajaran Zen Budha tidak terlalu menekankan pemahaman tentang Tuhan tetapi lebih memberikan pemahaman mengenai alam sebagai guru.
Kristen
Ajaran Kristen masuk ke Jepang seiring dengan masuknya orang-orang Eropa di Kyushu dengan misi 3G nya (1542). Namun didalam penyebarannya, ajaran Kristen ini mendapat penolakan, terutama dari pemerintah, karena dianggap dapat mempengaruhi pemikiran bangsa Jepang.
Neo-Confusius
Dalam pembahasan religi pada masa Tokugawa di Jepang, dinilai cukup relevan untuk memasukkan pembahasan mengenai neo-Confusianisme di Jepang, walaupun pada dasarnya neo-Confusianisme di Jepang, bukanlah suatu agama, tetapi ajaran ini telah menjadi pandangan hidup. Seperti ajaran Bushido yang merupakan adaptasi dari ajaran Confusius.
---------------------------------------------
Didalam religi Jepang, yang merupakan suatu kesatuan, yang mana didalam kenyataanya terdapat banyak perbedaan, yang menjadi suatu keberagaman tersendiri. Dalam pandangan mengenai Tuhan, religi Jepang memiliki dua pandangan atau dua konsep mengenai ketuhanan, konsep pertama adalah bahwa Tuhan merupakan kesatuan yang mempunyai tingkatan yang lebih tinggi yang memelihara, memberikan perlindungan dan cinta kasih, seperti dewa-dewa langit dan dewa-dewa bumi yang terdapat diajaran Shinto, Confusius, Budha, hingga arwah para nenek moyang.
Konsep atau pemahaman kedua pada dasarnya merupakan konsep yang tidak dianggap sebagai suatu konsep atau pandangan yang bertentangan dengan konsep pertama, yang mana konsep kedua memiliki persepsi bahwa Tuhan adalah dasar dari segala sesuatu yang ada dan merupakan inti terdalam dari realitas. Dalam konsep kedua ini, terkandung pemahaman bahwa Tuhan dalam bberbagai wujudnya memberikan rahmat atau berkah, dan sudah menjadi keharusan bagi manusia yang menerima berkah tersebut untuk membalas berkah dari Tuhan. Kegiatan-kegiatan religious, dipercaya sebagai suatu tanda bagi manusia dalam membalas kemurahan dan berkah dari Tuhan, namun didalam konsep ini terkandung bahwa manusia merupakan makhluk yang sangat lemah dan tidak berdaya, sehingga setiap balasan yang ditujukan untuk membalas kemurahan dan berkah dari Tuhan dianggap sangat kecil nilainya, dan secara tidak langsung menyatakan bahwa manusia tidak mampu membalas berbagai kemurahan dan berkah dari Tuhan, namun perbuatan pengabdian diri sepenuhnya kepada Tuhan dianggap suatu cara bagi manusia didalam melenyapkan kelemahannya sebagai manusia. Selain kedua konsep diatas, terdapat pula konsep mengenai alam, bahwa alam merupakan kekuatan pemelihara yang harus dihargai oleh manusia, dan alam merupakan perwujudan dari sumber-sumber kehidupan.
Berdasarkan pemaparan ringkas diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya religi di Jepang pada hakekatnya merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari banyak paham pemikiran yang menyebabkan variasi religi maupun pemahaman, yang mana dalam konsep ini yaitu pada masa rejim Tokugawa (1603-1868), yang secara langsung mengeluarkan ultimatum bahwa ajaran Budha, merupakan ajaran atau agama resmi Negara, namun walaupun demikian halnya, masih terdapat ajaran-ajaran lain yang bernilai religius, yang berkembang di Jepang pada masa Tokugawa yang sedikit banyaknya telah memberikan sumbangsih pemikiran didalam pemikiran bangsa Jepang. Dan ajaran-ajaran tentang konsep ketuhanan yang dianut oleh bangsa Jepang, yang secara garis besar dapat dibagi menjadi dua konsep, dan ditambah dengan pemahaman mengenai alam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.