Halaman

Jumat, 27 November 2020

Pengantar Manajemen Bencana : Hakikat Bencana

Bencana merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan dan sejarah manusia. Usia bencana pada hakikatnya sama tuanya dengan usia manusia itu sendiri di bumi ini. Pada sisi lain, bencana pada umumnya dianggap sebagai fenomena yang merugikan manusia baik secara materi maupun non-materi.

Tidak ada manusia yang bisa terbebas dan imun dari bencana tidak peduli betapa kaya dan maju teknologi yang dimiliki oleh manusia tersebut. Manusia hanya bisa melakukan tindakan untuk mencegah kerugian dan menanggulangi kerugian agar tidak meluas. Oleh karena itu, sepanjang sejarah kehidupan manusia, telah dilakukan berbagai macam upaya untuk mengurangi kerugian yang bisa ditimbulkan oleh bencana. Sebut saja membangun rumah dengan jenis rumah panggung, yang pada umumnya bisa terlihat pada rumah-rumah adat di Indonesia. Rumah panggung dibangun dengan sudut pandang menghindari banjir misalnya, atau menghindari binatang buas yang bisa membahayakan manusia penghuni rumah. Inilah yang disebut dengan manajemen bencana.



Bencana pada hakikatnya bersifat politis. Apa yang dimaksud dengan politis? Bukankan bencana itu adalah fenomena alam?

Tentu saja gempa bumi, aktifitas tinggi gunung berapi hingga tsunami merupakan fenomena alam. Namun semua fenomena alam tersebut akan dianggap fenomena alam biasa dan bukan bencana apabila terjadi pada wilayah yang tidak ada manusia, atau tidak berdampak apapun pada kehidupan manusia. Sebaliknya, fenomena tersebut menjadi bencana ketika terjadi pada wilayah tinggal manusia dan berdampak negatif pada keberlangsungan hidup manusia.

Pada sisi lain, sebagaimana yang telah saya jelaskan diatas, perlu ada usaha manusia untuk mencegah dan mengurangi dampak bencana. Usaha manusia untuk mencegah dan mengurangi dampak bencana ini lah yang bersifat politis. Disebut politis karena kemampuan dan pengetahuan manusia berbeda-beda. Pada level lebih tinggi, kapasitas dan kapabilitas negara dalam mencegah dan mengurangi dampak bencana berbeda-beda, dan ada banyak faktor sosial-politik lain yang mempengaruhinya.

Seiring dengan perkembangan politik dan ekonomi manusia, semakin berkembang pula jenis-jenis bencana yang mengintai manusia tersebut. Jika zaman dahulu kala, bencana selalu diidentikkan dengan fenomena alam murni tanpa campur tangan manusia, saat ini bencana justru dihasilkan dari ulah tangan manusia itu sendiri. Tentu saja manusia tidak akan menciptakan gempa bumi, tsunami dan lain-lain. Tapi manusia melakukan tindakan-tindakan dengan alasan politik-ekonomi yang berdampak pada alam, merusak alam. Sebut saja tindakan-tindakan merusak hutan, aktifitas manusia yang menghasilkan polusi masif seperti industrialisasi, eksploitasi berlebih terhadap hasil bumi dan laut, hingga polusi transportasi. Belum lagi dengan kebijakan pembangunan yang tidak memperhatikan keberlangsungan lingkungan. Semua tindakan yang menurut saya cukup egois ini pada akhirnya merusak alam. Manusia mungkin berpikir bahwa alam yang rusak adalah hal biasa, dan tidak akan berdampak pada kehidupannya saat ini. Tentu pola pikir ini adalah pola pikir yang keliru. Manusia hidup di dalam alam, jika alam rusak tentu saja kehidupan manusia di dalamnya akan terganggu. Hanya saja egoisme materi manusia dengan alasan politik, ekonomi-pembangunan membutakan pikiran yang sehat.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapatlah kita paham bahwa terdapat paling tidak 2 jenis bencana yang perlu kita kenal berdasarkan asal-usul bencana itu, yakni:

1. Bencana akibat fenomena alam

2. Bencana akibat ulah manusia

2 jenis bencana inilah yang akan menjadi perhatian para manajer bencana untuk mengatur dan menjalankan program manajemen bencana dengan tujuan mencegah dan menanggulangi kerugian agar tidak meluas dan membesar.


Tren Bencana Kekinian

Salah satu isu yang menjadi isu hangat pada abad 21 ini adalah isu pemanasan global. Isu ini ramai dibahas oleh negara-negara maupun beragam organisasi di seluruh dunia pada berbagai forum. Intinya adalah, telah terjadi fenomena yang merugikan manusia di seluruh dunia, mulai dari meningkatnya suhu bumi, meningkatnya air permukaan laut, banjir, kelaparan, penebangan liar, desertifikasi (kekeringan akibat berkurangnya hutan -pen) dan seterusnya. Semua isu yang baru saja disebutkan pada hakikatnya adalah bencana akibat ulah manusia atas nama pembangunan.

Pada akhirnya permasalahan bencana saat ini menjadi permasalahan global. Jumlah bencana semakin meningkat setiap tahun dan pihak yang terdampak bencana semakin beragam mulai dari negara maju hingga negara miskin. Namun negara miskin sangat rentan dengan bencana. Maksudnya, kemiskinan yang dihadapi oleh suatu negara akan sangat bisa memperburuk dampak negatif yang diakibatkan bencana. 

Kemiskinan, pembangunan yang tidak mempedulikan kelestarian lingkungan, hingga pola hidup individualis yang konsumtif menjadi isu sentral dalam manajemen bencana pada abad 21. Bukan berarti abad 21 adalah abad yang terbebas dari bencana akibat fenomena alam, namun bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia semakin meningkat kuantitasnya pada abad 21 ini.


Rekomendasi

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dipahami bahwa perilaku manusia memegang peranan penting dalam upaya mengurangi dan menanggulangi dampak bencana, baik bencana yang ditimbulkan fenomena alam maupun bencana yang ditimbulkan akibat ulah manusia. Sudah seharusnya pembangunan manusia dan pembangunan negara menjadikan alam sebagai bagian integral yang tidak boleh dipisahkan. Artinya manusia harus mempertimbangkan keberlangsungan kelestarian alam sama pentingnya dengan eksistensi manusia itu sendiri. Sudah saatnya pembangunan yang terpusat pada manusia, manusia-sentris menjadi pembangunan yang berpusat pada alam, alam-sentris. 

Perlu ada perhatian khusus bagi kelompok paling rentan terhadap dampak bencana yang biasanya ada pada golongan miskin. Kemiskinan akan meningkatkan dampak negatif dari bencana. Maka dibutuhkan langkah komprehensif dan holistik untuk menanggulangi kemiskinan, tentunya dengan langkah yang alam -sentris misalnya dengan membuka kegiatan pemberdayaan ekonomi dengan basis kelestarian alam yang difasilitasi pihak berwenang, seperti pemerintah atau bisa juga dengan swadaya masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.