Halaman

Jumat, 27 November 2020

Kota Padang Panjang dalam Kenanganku

Beberapa waktu yang lalu, aku menelpon Ibuku di kampung halamanku, di Kota Padang Panjang, Sumatra Barat. Seperti biasa, obrolan berputar pada hal-hal yang dibicarakan Ibu dan anak pada umumnya. Entah bagaimana ceritanya bisa sampai pada bahasan ini, Ibuku berkata bahwa sebagian besar sawah ladang di kota tempat kampung halamanku telah terjual.

“Oh, udah di jual ya ma? Sayang betul rasanya sawah-sawah itu dijual ya” Kurang lebih itulah tanggapanku ketika Ibuku menceritakan kisah terjualnya sawah-sawah di sekitaran rumah kami itu. Kampung halamanku, di Kota Padang Panjang, Sumatra Barat.



Ya, ketika disebut kata “Sumatra Barat”, aku percaya bahwa dibenak kita akan terbayang keindahan alam, dan ragam pesona wisatanya yang mempesona. Kota Padang Panjang juga demikian. Kota kelahiranku itu bukan kota besar. Kota kecil dengan suhu dingin yang dikelilingi gunung dan bukit. Sawah dan ladang terbentang dari ujung ke ujung kota ini. Sungguh kota yang sangat indah. Keindahan kota ini adalah rahmat Allah yang patut aku syukuri. Keindahan kota ini menurutku tidak bisa dilepaskan dari keasrian kota ini. Alam yang hijau, sawah ladang subur membentang sepanjang kota. Ah, indah nian kota kelahiranku ini. Itulah yang aku pikirkan.

Dengan pikirku demikian, maka jelas saja aku merasa sedih, kecewa dengan dijualnya sawah-sawah dan ladang hijau di kampungku itu. Bagaimana tidak sedih? Kampungku yang indah itu ya karena hijau dan asrinya, bukankah demikian? 

Tapi apalah dayaku? Tentu saja tanah itu bisa dijual pemilik sahnya. Dan pemilik sahnya bukan aku, maka aku cuma bisa sedih dan meringis dalam hati saja. Pemandangan hijau menyejukkan mata yang selama ini menyejukkan hatiku bakal berganti dengan barisan beton perumahan dan perkantoran. Ah andai saja itu sawah ladangku, tentu aku tidak sudi menjualnya. Paling tidak itulah yang aku rasakan.

Memang perkembangan pembangunan di Kota Padang Panjang, kampung halamanku itu terbilang cukup cepat. Itulah yang aku rasakan. Banyak perubahan yang aku rasakan, perbedaan ketika masa aku kecil dan saat ini, ketika aku menulis coretan ini. Ya, aku sadar perubahan pasti terjadi, cepat atau lambat. Zaman pasti berubah. Hanya mungkin aku saja yang masih tidak bisa melepaskan diri dari gambaran Kota Padang Panjang hijau yang menempel di benakku. Dan aku tidak hendak pula melupakan gambaran indah itu dari kepalaku. Jauh di lubuk hati masih berharap sawah ladang, bukit hijau itu muncul kembali.

Seringkali hati bertanya-tanya sendiri. Tak pula aku cari jawaban dari pertanyaan itu. Entah karena aku sudah tahu jawabnya, tapi aku takut membuktikannya. Atau rasa sedih yang terlanjur menggulita dalam sanubari. 

Mengapa pembangunan harus diidentikkan dengan pembangunan gedung-gedung megah? Menggerus asri dan hijaunya alam

Mengapa kita meninggalkan hidup penuh kesahajaan yang damai demi mengejar hidup sibuk nan glamor yang sering penuh kepalsuan?

Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang terus terngiang di sanubari tapi tak hendak pula aku menjawabnya. Ya, mungkin aku takut untuk mencari jawabannya.

Entahlah, mungkin kampung halamanku sudah tidak seperti dulu lagi, sawahnya sudah mengering, ladangnya sudah tandus, anginnya makin hangat.  Aku mungkin tidak bisa berbuat banyak. Namun paling tidak, kenangan Kota Padang Panjang ku, yang dingin, hijau, sawah ladang asri membentang, tidak akan mau aku lupakan dari sanubariku.

Paling tidak aku merasa beruntung punya kenangan itu. Kenangan itu milikku, tidak akan bisa dijual dan tak hendak pula aku menjualnya. Sekali-sekali aku lihat kenanganku itu, sekali-sekali aku pasang pula pengharapan, semoga kenangan itu jadi nyata. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.