Judul tulisan ini Opini Pekanan, tapi kenyataannya saya tidak istiqomah menulis setiap pekan. What a shame. Harap maklum saja ya teman-temanπ
.
Anyway, mari kita mulai. Hari ini iseng-iseng melihat berita internasional tentang pandemi global saat ini. Ya, Covid-19. Ada sebuah berita yang berisi wawancara ke seorang ahli vaksin dari Sekolah Kedokteran Universitas George Washington di Amerika Serikat sana bernama Dr. Peter Hotez.
Yang menarik dari wawancara terhadap Dr. Hotez adalah bahwa sebenarnya virus Corona ini sudah diketahui lebih dari 10 tahun lalu. Dr. Hotez termasuk salah satu peneliti yang meneliti virus ini. Namun beberapa tahun silam ketika Dr. Hotez mengajukan proposal pendanaan ke Pemerintah Amerika Serikat untuk riset tingkat lanjutan terhadap virus Corona, proposalnya ditolak oleh pemerintah Amerika Serikat pada saat itu sehingga riset lanjutan batal dilaksanakan. Maklum. Anggaran riset ilmiah memang seringkali bukan prioritas pada beberapa negara (hehee π). Dr. Hotez berandai jika saja riset Covid-19 ini diteruskan sekitar 10 tahun lalu, barangkali fenomena pandemi global saat ini tidak terjadi.
Poin kedua adalah, Dr. Hotez menyatakan terdapat miskonsepsi yang beredar ditengah masyarakat bahwa kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap Covid-19 adalah orang-orang tua atau kelompok lansia. Dr. Hotez menyatakan bahwa kenyataannya, lebih dari seperempat pasien Corona di Amerika Serikat menurut Pusat Pengendalian Wabah Penyakit (Center for Disease Control) adalah masyarakat golongan muda dengan usia antara 20 hingga 40 tahun. Jadi, yang merasa usianya masih muda, jangan anggap remeh Covid-19 namun juga jangan panik berlebihan.
Poin ketiga yang saya soroti dari wawancara terhadap Dr. Hotez adalah, dengan teknologi dan informasi yang dimiliki negara barat khususnya Amerika Serikat saat ini, vaksin untuk Covid-19 dapat dihasilkan dan digunakan untuk manusia selama paling cepat sekitar 18 bulan sejak sekarang. Lama juga ya π
Dr. Hotez pada akhir wawancaranya tetap optimis bahwa jika masyarakat tetap "istiqomah" melakukan "social distancing" (saya pribadi lebih suka istilah physical distancing) maka angka penyebaran Covid-19 dapat ditekan.
Terakhir, kita sebagai seorang muslim tentu saja ditengah keadaan seperti ini tidak henti-hentinya memohon perlindungan dan banyak bertaubat atas kesalahan kita pada Allah ta'ala. Sependek pengetahuan saya, saya diajarkan apabila seorang muslim mendapat kesusahan, maka muslim itu akan menjadikan kesusahan itu untuk momen instrospeksi dirinya dan bertaubat pada Allah. Karena pada hakikatnya tidak ada penolong yang lebih baik daripada Allah ta'ala. Wallahu'alam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.