Halaman

Kamis, 01 Oktober 2020

Jepang, Shintoisme dan Ragam Falsafah Kemasyarakatannya

Sejarah Jepang menunjukkan bahwa ajaran Shinto menampilkan suatu kultus Negara dari religi kesukuan yang primitif yang eksis pada masa tersebut. Sementara dalam tahapan awal perkembangan nya, para penganut ajaran Shinto yang diyakini oleh orang-orang Yamato, berupaya untuk memperkuat hegemoninya terhadap agama di Jepang. Dalam rangka upaya tersebut, mereka bergerak pada lingkup politik dan mereka berhasil dalam memciptakan mitologi mereka sendiri, yang pada dasarnya mencakup terhadap hubungan politik terhadap Negara yaitu dengan menghubungkan kekuasaan dari Dewa Amaterasu Omikami atau Dewa Matahari dan dewa-dewa leluhur mereka sebagai dewa yang lebih tinggi dan utama ketimbang dewa-dewa lainnya.





Kaum Yamato juga merancang suatu konsep pimpinan yang mempengaruhi kekuasaan politik  yang menduduki jabatan religius dan suci. Didalam tugas-tugas pemimpin politik yang dianggap suci, ada pula tugas sebagai pendeta/ suhu agung kultus Negara. Matsurigo, atau yang dalam bahasa Jepang berarti pemerintahan, juga memiliki arti ibadat religius atau pemujaan. Dalam pembahasan mengenai Shintoisme dan Negara Jepang, ada pengaruh agama atau ajaran lain, yaitu agama yang sempat mempengaruhi Cina, yaitu ajaran Confusius menjelang abad ke-17, yang mana ajaran ini melahirkan suatu konstitusi Shotoku Taishi yang dikeluarkan pada tahun 604 Masehi. Meskipun mengandung elemen-elemen Confusius dan Budha, pada kenyataannya corak Confusius bisa dikatakan lebih besar pengaruhnya pada nilai sosial misalnya pengakuan setiap orang terhadap kekuasaan tertinggi dari Kaisar.

Bushido

Secara istilah, Bushido memiliki makna Jalan Prajurit atau Jalan Ksatria, merupakan poin penting dalam mempelajari ajaran-ajaran pada masa Tokugawa atau pada masa Jepang Modern. Hal ini dikarenakan oleh nilai-nilai dasar Bushi dan Samurai yang melekat pada masyarakat Jepang. Etika Bushido telah menjadi etika nasional Jepang, hal ini dikemukakan oleh Kawakami Tasuke yang dikutip didalam buku Robert N. Bellah yang berjudul ‘Religi Jepang Pada Masa Tokugawa : Akar-Akar Budaya Jepang’ yang menulis bahwa “Bushido yang pada awalnya berkembang dari kebutuhan-kebutuhan praktis para prajurit, selanjutnya dipopulerkan oleh ide-ide moral Confusius tidak hanya sebagai moralitas kelas prajurit, tetapi juga sebagai landasan moral nasional’ Bushido disusun pada awal abad 18 di wilayah Nabeshima, provinsi Hizen, Kyusu. Bushido dikenal dengan sumpahnya yang menggambarkan nilai-nilai kesetiaan, yaitu :
    1. Kita tidak akan kalah dibandingkan dengan siapapun dalam pelaksanaan kewajiban kita.
    2. Kita akan membuat diri kita berguna bagi pangeran kita.
    3. Kita akan patuh pada orang tua kita.
    4. Kita akan mencapai kejayaan dalam derma.

Sonno dan Kokutai

Pada masa Tokugawa menjadi saksi dari perkembangan sikap baru terhadap Kaisar dan konsep Politik religius baru tentang Negara. Dua hal yang memiliki pengaruh adalah jargon ‘Sonno’ atau pemujaan Kaisar, yang merepresentasikan perhatian baru yang besar terhadap Kaisar dan jargon ‘Kokutai’ yang secara harfiah berarti Badan Nasional. Aliran Kokugaku mulai dengan minat yang baru terhadap sejarah Jepang, kesusastraan dan agama yang berkembang pada abad ke-17, yang mana ajaran ini didirikan oleh Keichu (1640-1701) dan Kada Azumamaro (1668-1736). Gerakan Kokugaku merupakan gerakan yang bersifat politik dan religius, yang memiliki misi untuk menghidupkan kembali budaya-budaya Jepang kuno, dan ajarannya menolak nilai-nilai ajaran Confusianisme dan Budhisme, yang pada dasarnya lebih dahulu mempengaruhi budaya Jepang, sehingga mengakibatkan ketidak sesuaian terhadap masyarakat Jepang yang justru lebih cenderung terhadap Shintoisme, sehingga Kokugaku bisa dianggap sebagai semacam gerakan ‘Ratu Adil’.


Shintoisme, Konfusianisme dan Ekonomi

Pada dasarnya, ajaran Shinto di Jepang tidak hanya berfungsi sebagai nilai-nilai kepercayaan agama, tetapi ajaran Shintoisme telah memberi pengaruh pada setiap segi kehidupan di Jepang, termasuk ekonomi. Bahkan ajaran Shinto menjadi landasan dalam akitifitas ekonomi di Jepang. Hubungan antara ekonomi dan Negara dapat dipahami melalui teori Confusius yang mempunyai pengaruh yang dinilai cukup besar di Jepang. Dasar pemikiran Confusius mengenai hal ini adalah ‘Kemanunggalan Ekonomi dan Negara’. Maka pada masa Tokugawa, dalam penggunaan modernnya, kata Keizai memiliki makna sebagai Ekonomi, sementara didalam ungkapan Dazai Shundai berarti ‘memerintah kekaisaran dan membantu rakyat’ sementara para penganut pemikiran Confusius memandang adanya kaitan yang langsung antara kesejahteraan ekonomi dan moralitas, dan nilai ajaran inilah yang dianggap diatas segalanya, yang mana menurut pemikiran para penganut ajaran Confusius memiliki kontribusi dalam menentukan nilai politik dari kehidupan ekonomi.

Pemerintahan Tokugawa juga menerapkan konsep ekonomi rakyat, hal ini dikarenakan anggapan Tokugawa bahwa rakyat harus memiliki tingkat kesejahteraan hidup tertentu, apabila hal ini tidak terlaksana, maka dikhawatirkan rakyat akan menjadi ‘tidak bisa diatur’ sehingga sedikit banyaknya dinilai juga akan mempengaruhi stabilitas pemerintahan Tokugawa. Inti dari kebijakan para penganut ajaran Confusius yang disusun dalam menjamin stabilitas politik tercakup dalam pernyataan dari Ta HsUeh yang sangat sering dikutip, bahwa sebenarnya terdapat jalan utama (tao) untuk menghasilkan kekayaan, yang hendaknya produsen lebih banyak ketimbang konsumen, banyak kegiatan produksi, tetapi tetap menerapkan penghematan dalam pembelanjaan, sehingga akan selalu cukuplah kekayaan yang ada.

Konsep Shingaku

Shingaku pada dasarnya merupakan gerakan yang dimulai ketika Ishida Baigan (1685-1744) yang memajang papan namanya dan memberikan pemahaman dan ajarannya melalui ceramah. Ceramah umum pertamanya pada tahun 1729. Hingga pada awal abad ke19 telah ada banyak tempat ceramah Shingaku diseluruh wilayah Jepang, bahkan setelah pendirinya wafat yaitu Ishida Baigan. Hal ini dikarenakan ajaran Shingaku menarik banyak orang dan menjadi pergerakan yang besar pada masa Tokugawa. Dari segi penyampaian, tidak hanya berbatas pada ceramah, tetapi telah mencakup media baca, yang juga banyak dibaca oleh kalangan umum yang luas. Pada dasarnya konsep Shingaku yang diperkenalkan oleh Ishida Baigan mempelajari mengenai hati. Didalam ajarannya terdapat nilai bahwa orang baik, hatinya akan menyatu dengan langit dan bumi, beserta segala hal, tidak ada sesuatu apapun yang dikatakan bukan dirinya, sehingga manusia bisa menembus batas langit dan bumi dengan hatinya. 

Berdasarkan pemaparan ringkas diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya setiap lini kehidupan di Jepang, terdapat pengaruh-pengaruh dari ajaran dan nilai-nilai Shintoisme, mulai dari implementasi ajaran Shintoisme dalam hal kenegaraan, hingga ekonomi, yang sedikit banyaknya dikaji didalam ajaran Shintoisme, dan Shintoisme memang memiliki corak tersendiri didalam memandang persoalan Negara, seperti konsepsi Bushido atau Jalan Ksatria, yang sangat melekat pada masyarakat Jepang, ditambah dengan slogan Sonno dan Kokutai, yang memiliki kontribusi tersendiri didalam Negara Jepang. Dari bidang lain, yaitu ekonomi, yang juga diresapi dari ajaran-ajaran Shintoisme, yang secara mendasar memiliki ajaran untuk mensejahterakan rakyat, hingga pada konsep Shingaku yang dinilai sebagai suatu pergerakan yang besar pada masa Tokugawa, dan cukup menarik minat masyarakat Jepang pada masanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.