Masa setelah kelulusan SMA adalah salah satu masa-masa yang menggembirakan. Paling tidak buatku yang berangan-angan untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Senang sekali rasanya lulus SMA, seolah sebuah beban besar baru saja terlepas dari pundak. Padahal tantangan setelah lulus SMA dan setelahnya serta setelahnya jauh lebih besar. Namun yah bagaimana pula? Namanya juga masih “baru lulus” SMA. Tentu pandanganku masih jauh dari kata dewasa pada masa itu. Ah entah kemana pula arahnya pembicaraan pada tulisan ini? Mari kita kembali ke permasalahan melanjutkan perkuliahan ke perguruan tinggi.
Singkat cerita, aku pun mencari informasi tentang beragam jurusan atau program studi yang tersedia di perguruan tinggi negeri sebagai bagian dari pilihanku ketika mendaftar ujian masuk perguruan tinggi. Tidak bisa dipungkiri, untuk pikiran anak SMA-ku, nama jurusan yang keren dan terdengar “prestisius” menjadi salah satu tolak ukur dalam menentukan pilihan jurusan untuk dimasuki.
Entahlah bagaimana pendapat orang lain, tapi pada masa itu aku berpendapat jurusan Hubungan Internasional sungguh keren dan sangat “prestisius”. Bagaimana tidak? Ada kata “internasional” nya pada nama jurusan itu. Terbayanglah pekerjaan yang menanti setelah lulus dari jurusan itu. Ya, bekerja sebagai Diplomat di Kementerian Luar Negeri. Dan aku sungguh yakin pekerjaan menjadi Diplomat Kementerian Luar Negeri adalah primadonanya cita-cita bagi para lulusan Hubungan Internasional atau sesiapa saja yang berkeinginan masuk pada jurusan ini secara umum. Syukurnya, aku tidak pernah bercita-cita menjadi diplomat ataupun bekerja di Kementerian Luar Negeri. Lho kenapa begitu?
Jujur, jurusan Hubungan Internasional pada awalnya bukan jurusan yang serius ingin aku masuki. Ketika SMA aku bercita-cita menjadi dokter. Tentu saja cita-citaku ini membuatku memilih jurusan Kedokteran sebagai pilihan utama dalam ujian masuk perguruan tinggi negeri. Jurusan Hubungan Internasional aku letakkan pada pilihan kedua. Dan alasan aku memilih jurusan Hubungan Internasional jadi pilihan ke dua pun ternyata cukup konyol. Karena nama jurusannya keren. Jurusan Hubungan Internasional. Dan sebagaimana yang aku katakan sebelumnya, pikiran SMA-ku yang berpikir untuk memilih jurusan asal terdengar “keren” dan “prestisius” menjadikan aku memilih jurusan Hubungan Internasional. Walaupun nama jurusannya “keren”, tetap saja aku letakkan pada pilihan ke dua dalam pilihan jurusan pada ujian masuk perguruan tinggi. Pilihan pertama adalah jurusan yang jadi cita-citaku. Kedokteran.
Allah menakdirkan aku untuk lulus pada pilihan ke dua dalam ujian masuk perguruan tinggi. Walhasil, akupun menjadi mahasiswa Hubungan Internasional. Aku sebenarnya cukup bersyukur juga masuk jurusan ini. Syukur sekali biaya kuliah per semesternya sungguh terjangkau bagi keluargaku. Maklum, aku bukan berasal dari keluarga kaya raya. Di sisi lain aku bersyukur juga tidak masuk pada jurusan Kedokteran. Tidak terbayang bagaimana sulitnya Ibuku membiayai kuliahku kalau seandainya aku masuk jurusan kedokteran yang terkenal mahal dan kuliahnya lama itu. Intinya, masuknya aku ke jurusan Hubungan Internasional mengajarkanku satu nilai kedewasaan yang sangat penting yang nilainya aku pegang hingga detik ini bahwa takdir Allah adalah yang terbaik, dan berbaik sangka pada Allah adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali.
Kemudian berkuliahlah aku di Jurusan Hubungan Internasional. Walaupun sudah menjadi mahasiswa jurusan Hubungan Internasional dan sudah menjalani perkuliahannya, aku tidak bercita-cita jadi diplomat, tidak tertarik sama sekali untuk bekerja kelak di Kementerian Luar Negeri, ditambah pula aku tidak mengerti harus belajar apa di jurusan ini. Kenapa tidak tahu harus belajar apa? Pada awalnya aku kaget. Aku berpikiri bahwa Jurusan Hubungan Internasional akan mengajarkanku tentang menjadi diplomat, belajar berbagai bahasa internasional, belajar teknik dan ilmu untuk mengikuti forum-forum internasional dan semacamnya. Ternyata, pelajaran yang aku bayangkan itu tidak aku dapatkan, tidak aku pelajari selama perkuliahanku. Aku justru dihadapkan dengan materi-materi sejarah (syukurnya aku suka pelajaran sejarah), hingga filsafat dan teori-teori politik. Tumpukan tugas berupa makalah panjang hingga makalah singkat alias paper menjadi langganan dalam setiap minggu. Presentasi demi presentasi, diskusi demi diskusi aku lalui sepanjang minggu perkuliahan. Jurusan kuliah apa ini? Materi kuliah apa ini? Begitulah yang terbayang dalam pikiranku kala itu.
Pada akhirnya, tahun awal perkuliahanku aku lewati dengan hasil yang biasa-biasa saja, tidak istimewa. IPK ku pada waktu itu standar saja. Tidak tinggi namun tidak pula jeblok rendah. Biasa saja.
Pada tahun kedua, tepatnya pada semester 3 perkuliahan, aku merenung. Apakah karena jurusan kuliah ini bukan cita-citaku lalu kemudian aku lalai dan tidak serius menjalaninya? Apakah aku akan menjadikan usiaku, waktuku, dukungan keluargaku sia-sia? Mubazir begitu saja? Akupun tersadar. Tidak boleh aku menyia-nyiakan apa yang sudah aku dapatkan sejauh ini. Aku telah masuk jurusan ini, itu adalah fakta. Ibuku telah berkorban banyak untuk membuatku bisa berkuliah, itu juga fakta. Aku kemudian bertekad, tidak ada lagi lalai dan hanyut dalam gaya berkuliah yang “angin-anginan” dan “ikut-ikutan”. Aku harus berubah dan serius dalam berkuliah. “Setiap jurusan kuliah adalah baik, termasuk jurusan Hubungan Internasional, hanya aku saja yang kurang serius. Aku harus sungguh-sungguh” demikianlah kurang lebih yang aku pikirkan pada waktu itu. Aku menjadi semangat untuk belajar dan berkuliah di jurusan Hubungan Internasional.
Alhamdulillah keseriusanku membawa hasil yang memuaskanku. Pada semester 3 itu, aku berhasil mendapat IP 4,00. Seluruh mata kuliah yang aku ambil pada masa itu mendapatkan nilai A penuh. Bukan main senangnya hatiku kala itu. Semenjak saat itu IP semesterku berada pada kisaran nilai sangat baik. Bukan bermaksud pamer atau menyombongkan diri, tapi cuma sedikit berbagi saja.
Ternyata kesungguhanku untuk membaca materi-materi kuliah justru membuatku jatuh cinta pada pembelajaran Hubungan Internasional. Aku tidaklah termasuk orang yang pintar, biasa-biasa saja, namun aku suka materi-materi mata kuliah jurusan Hubungan Internasional. Aku menyukainya setelah aku berusaha membaca dan memahami lebih dalam lagi. “Ternyata materinya menarik juga ya, ternyata begini ternyata begitu, asik juga ternyata belajar di jurusan ini”. Begitulah pikirku.
Kemudian cita-citaku mengapa aku masuk jurusan Hubungan Internasional akhirnya muncul juga. Ya, cita-cita itu justru muncul pada tahun-tahun pertengahan menjelang akhir masa perkuliahanku. Aku bercita-cita ingin menjadi akademisi Hubungan Internasional. Aku ingin bisa membagi pandanganku, pengalamanku dengan orang lain. Ya, aku ingin jadi akademisi Hubungan Internasional. Muncullah keinginanku untuk lanjut kuliah paskasarjana, kuliah S2 bahkan S3. Yah, namanya juga harapan. Bolehlah ya.
Pada akhirnya, saat ini pun aku sendiri tidak menyangka bahwa jurusan yang aku masuki atas dasar “nama yang keren dan prestisius” justru membuatku tertarik untuk melalui proses pembelajarannya, materinya yang ternyata sangat menarik. Padahal aku memilih jurusan Hubungan Internasional secara “tidak sengaja” dan tidak pernah aku rencanakan jauh sebelumnya.
Pada akhirnya, aku bisa bergumam syukur dalam diriku. Aku bersyukur bisa berkuliah di jurusan Hubungan Internasional ini. Jurusan yang aku pilih ini tidak sempurna, dan tentu saja banyak kekurangannya sebagai satu disiplin bidang studi, tapi bagiku itu bukan alasan untuk menyia-nyiakan kesempatan untuk berkuliah. Prinsipku, daripada di jalani setengah hati, lebih baik berhenti sama sekali. Tanyakan pada hati dengan tenang, insaf dan jujur. Apakah aku harus lanjut atau berputar haluan? Jika lanjut, maka jalani dengan serius. Jika berputar haluan, maka siapkan bekal terbaik dengan serius, jangan pula dengan setengah hati. Pada kala itu, hatiku mengatakan “lanjut”. Maka konsekuensinya, aku harus sungguh-sungguh. Bagaimana dengan teman-teman pembaca yang barangkali merasa “salah pilih jurusan” ? Lanjut atau putar haluan? Setiap pilihan punya konsekuensi yang mengiringinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.