Halaman

Kamis, 26 Juni 2014

Apakah Politik dan Agama Terpisah? (Tinjauan Perspektif Islam terhadap Politik dan Agama)

Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur semua bagian kehidupan manusia, dan tidak ada satu aspek pun yang tidak diatur didalam Islam. Bahkan persoalan kakus pun diatur didalam Islam, apalagi persoalan yang lebih besar seperti persoalan politik yang sudah pasti punya aturannya didalam Islam.
Pernahkah anda mendengar pernyataan “jangan bawa-bawa agama kedalam urusan politik!” tahukah anda bahwa pernyataan tersebut merupakan pernyataan orang-orang sekuler yang memisahkan antara politik dan agama? Pada level ekstrim mereka bahkan tidak mengurusi persoalan agama dan akhirat dengan alasan bahwa saat manusia hidup didunia, maka urus saja persoalan dunia, dan persoalan akhirat menjadi urusan diakhirat saja. Na’udzubillaah, pernyataan-pernyataan orang sekuler ini benar-benar merusak pikiran umat muslim yang tidak paham, sehingga umat muslim yang tidak paham terjebak dengan pernyataan tersebut, dan lebih parahnya lagi bahkan menyetujui pernyataan tersebut.
Islam tidak mengenal pemisahan antara agama dan politik. Islam menyatukan agama dan politik yang berkonsekuensi bahwa Islam mengatur tentang bagaimana berpolitik, dan berpolitik juga haruslah berdasarkan nilai-nilai yang terkandung didalam ajaran Islam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan banyak pengajaran dan pelajaran kepada umatnya tentang semua urusan, dan tidak ada urusan yang luput dari pengajaran Rasulullah termasuk politik. Didalam sejarah hidup Rasulullah, tercatat bahwa Rasulullah merupakan pemimpin agama sekaligus pemimpin politik, dan Rasulullah sama sekali tidak pernah memisahkan kedua hal ini, dan segala perbuatan dan perkataan Rasulullah adalah suatu teladan yang dicontoh oleh umat Rasulullah, karena Rasulullah tidak mengajarkan keburukan melainkan beliau hanya mengajarkan kebaikan. Sehingga adalah suatu pernyataan yang sangat keliru dan rusak yang menyatakan bahwa politik dan agama (Islam) adalah terpisah, karena Rasulullah tidak pernah memisahkannya.
Akibat dari memisahkan agama dan politik adalah sangat berbahaya. Dengan terpisahnya agama dan politik, maka akan timbul suatu kondisi dimana manusia akan meninggalkan agamanya demi politik, karena pemisahan agama dan politik berarti agama tidak boleh dibawa dalam politik. Begitukah Rasulullah mengajarkan? Apakah Rasulullah pernah mengajarkan untuk meninggalkan Islam walaupun sebentar? Jawabannya adalah tidak dan tidak! Islam harus dibawa kemanapun dan dimanapun seorang muslim berada, baik ketika sedang berpolitik ataupun sedang tidak berpolitik, tidak boleh seorang muslim meninggalkan Islamnya walaupun sebentar.
Kemudian bagaimana jika ada yang menyatakan bahwa politik itu penuh dengan tipu daya dan kelicikan, sehingga agama tidak boleh dibawa? Kita bisa menjawab begini; politik yang dipenuhi dengan tipu daya dan kelicikan adalah akibat dari dipisahkan dan ditinggalkannya agama dari politik, sehingga manusia-manusia yang berpolitik adalah manusia yang melupakan dan meninggalkan agamanya. Disinilah peran Islam untuk memurnikan politik demi kebaikan dan kemashlahatan umat Islam dan alam semesta, sehingga Islam dibutuhkan didalam politik sebagai benteng untuk menghindari terjadinya tipu daya dan kelicikan, karena Islam melarang tipu daya dan kelicikan, dan Islam akan menjadi penuntun dalam melaksanakan politik, sehingga dengan adanya Islam didalam politik maka akan dihasilkan politik yang berlandaskan nilai Islam yang luhur dan suci demi meraih ridho Allah Subhana wa ta’ala. Maka, penulis tekankan bahwa Islam tidak boleh dipisahkan dengan politik, dan Islam tidak mengenal sekulerisme. 
Demikianlah tulisan ini penulis susun, untuk menjadi pelajaran bagi diri penulis sendiri, dan semoga bisa bermanfaat pula bagi saudara-saudari muslim lainnya. Apabila terdapat kekeliruan dari penyampaian tulisan ini, itu adalah semata-mata karena kekurangan dan keterbatasan pengetahuan yang ada pada penulis. Semoga Allah Subhana wa ta’ala selalu memberikan rahmat dan hidayahNya pada penulis, aamiin. Wallahu’alam.

Tidak ada komentar: