Halaman

Kamis, 26 Juni 2014

Alam Pikiran Cina (Confusius, Mo Tzu, Mencius)

Cina merupakan negara timur yang punya beberapa hal yang unik. Salah satu hal unik yang dimiliki bangsa Cina adalah pemikirannya dengan berbagai tokoh pemikirnya, seperti Confusius, Mo Tzu, Sun Tzu, dan seterusnya. Masing-masing mereka memiliki pemikiran dan pandangan tersendiri mengenai kehidupan. Namun terdapat suatu kesamaan dari pemikiran para filsuf tersebut, yakni harmoni. Para pemikir timur memang lebih menekankan titik pemikiran mereka pada harmoni, ada banyak aspek dan alasan mengapa harmoni menjadi titik tekan pemikiran mereka, mulai dari aspek peradaban kebudayaan, psikologis, hingga aspek lainnya. Untuk lebih rinci, mari kita bahas satu persatu pemikiran para tokoh pemikir Cina tersebut.
1.    Confusius
Confusius adalah salah satu dari tokoh dunia yang telah banyak mempengaruhi dunia, terutama dari karya-karyanya yang berisi tentang pikirannya. Tidak terkecuali pemikiran confusius tentang kebahagiaan manusia.
Menurut kesaksian Confusius sendiri, dia merupakan seseorang yang tidak berpangkat dan hidup sederhana, tapi walaupun begitu, dipercaya bahwa Confusius memiliki leluhur yang masih memiliki darah ningrat atau bangsawan, tapi Confusius sendiri memiliki kehidupan yang dekat dengan kemiskinan hingga perbudakan. Sehingga berdasarkan berbagai hal yang dialaminya ini semakin membuatnya prihatin akan kehidupan rakyat jelata yang harus membayar pajak dengan harga yang tinggi hingga melakukan kerja paksa hanya demi kesenangan para kaum ningrat. Confusius mengibaratkan kaum ningrat atau bangsawan sebagai benalu. Namun pemikiran confusius mengenai hal ini sudah pasti akan bertolak belakang dengan pemikiran para kaum bangsawan.
Meskipun Confusius memiliki pemikiran yang bertentangan dengan pemikiran kaum bangsawan, tetapi confusius tidak hanya menyaksikan hal ini dengan berdiam diri, tetapi dia juga terpacu untuk bertindak. Dalam masa hidupnya istilah ‘Chun Tzu’ yang berarti ‘orang baik-baik’ memiliki arti yang berarti berasal dari keturunan yang baik-baik atau memiliki predikat yang tinggi didalam masyarakat, dan termasuk didalam masyarakat kelas atas. Confusius merubah pemikiran ini dengan menggantikan pengertian  Chun Tzu dengan esensi bahwa ‘Chun Tzu’ bisa dicapai apabila manusia itu memiliki perilaku yang terpuji dan mulia. Confusius menekankan bahwa ‘Chun Tzu’ tidak bisa semata-mata dinilai berdasarkan keturunan semata, menurutnya ini adalah perkara sifat, perilaku dan watak dari manusia itu, dan Confusius yakin bahwa setiap manusia bisa menjadi ‘Chun Tzu’.
Sebagai seorang guru, Confusius mendidik murid -muridnya dengan tidak pilih kasih terhadap murid-muridnya, walaupun muridnya terdiri dari berbagai lapisan kelas. Tapi Confusius selalu mengupayakan muridnya yang memiliki latar belakang rendah untuk menjadi ‘Chun Tzu’. Karena hal ini, Confisius memberikan pembelajaran mengenai tatakrama bangsawan ataupun tatakrama istana atau yang dalam istilah Cina dikenal dengan kata ‘Li’. Pada awalnya kata ‘Li’ ini sendiri memiliki arti ‘berkorban’.
Menurut Confusius, kemampuan bertindak dan berperilaku berdasarkan ‘Li’ sangatlah penting bagi kebajikan dan kekuasaan manusia. Namun dalam bertata krama, Confusius menyebutkan bahwa mengikuti kebiasaan merupakan sesuatu hal yang penting, namun dalam beberapa hal, tidaklah diharuskan untuk mengikuti kebiasaan, tetapi dengan alasan-alasan yang dapat diterima.
Pada akhirnya, Confusius memiliki persepsi mengenai kebahagiaan, yaitu kebahagiaan merupakan dambaan setiap manusia, walaupun pada dasarnya, masih terdapat berbagai pengertiaan mengenai kebahagiaan itu sendiri. Dalam hal kebahagiaan ini, Confusius juga  berpendapat bahwa para penguasa yang bahagia, seharusnya juga dapat membahagiakan rakyatnya.

2.    Mo Tzu
Mo Tzu adalah seorang pemikir dari Cina, tidak banyak diketahui informasi mengenai riwayat hidupnya. Bagaimana kehidupannya tidak dapat diketahui secara pasti dalam memberikan penjelasan secara lebih kompleks. Namun seperti halnya Confusius, Mo Tzu juga bukanlah seseorang pemikir yang berasal dari keturunan yang berkelas tinggi, tetapi ia justru berasal dari keturunan yang relatif rendah.
Mo Tzu juga pernah mempelajari faham Confusianisme dari para penyebar faham tersebut. Sehingga dia cukup memiliki pengetahuan mengenai ajaran Confusius. Namun walaupun begitu, Mo Tzu selalu merasa bahwa pada dasarnya, ajaran Confusius tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang dialami rakyat, bahkan menurutnya, pada aspek-aspek tertentu ajaran Confusius justru semakin memperparah kehidupan rakyat.
Bertolak dari hal ini, akhirnya Mo Tzu melepaskan diri dari faham Confusianisme dan mendirikan fahamnya sendiri. Walaupun Mo Tzu cukup menentang ajaran Confusius, namun dalam beberapa hal, Mo Tzu justru sependapat dengan Confusius, seperti ajaran akan pemahaman jalan ‘tao’ (sifat kodrat manusia) mirip dengan pemahaman Confusius mengenai jalan ‘tao’ itu sendiri.
Pada aspek lain, Mo Tzu juga memiliki pemikiran yang sejalan dengan pemikiran Confusius bahwa keduanya menginginkan bahwa pemerintahan haruslah diserahkan pada orang yang bijaksana dan cakap dalam menjalankan tugasnya di roda pemerintahan, guna memenuhi kebutuhan rakyat untuk mencapai kebahagiaan yang merupakan suatu batu loncatan menuju perdamaian dan ketertiban.
Mo Tzu berpendapat bahwa pemerintahan yang baik merupakan pemerintahan yang memperhatikan kebutuhan rakyatnya dengan penempatan orang-orang yang bijak didalam pemerintahan. Namun Mo Tzu juga melontarkan kritik terhadap kebiasaan masyarakat cina yang dianggap berlebihan dan justru cenderung merugikan seperti upacara pemakaman yang rumit, yang menelan biaya yang tidak sedikit, serta kebiasaan berkabung dalam waktu yang cukup lama. Menurut Mo Tzu, kebiasaan-kebiasaan seperti ini lah yang mengganggu proses ekonomi, serta memboroskan dana, mengganggu ketertiban pemerintahan, sehingga kebiasaan-kebiasaan seperti ini haruslah dihapuskan. Dengan dihapuskannya kebiasaan-kebiasaan ini, diharapkan menjadi pendukung terwujudnya perdamaian dan ketertiban.
Pada aspek lain, misalnya perang, ternyata Mo Tzu juga memiliki paham yang sejalan dengan para penganut Confusianisme, yang pada dasarnya memandang perang sebagai suatu jalan yang dilakukan negara-negara besar terhadap negara kecil yang merupakan suatu keburukan terbesar. Mo tzu berpendapat bahwa peperangan tidaklah membawa keuntungan sama sekali.
Menurut Mo Tzu, dunia pada dasarnya tidak akan dapat ditaklukkan dengan peperangan, dan pedang atau senjata. Tetapi dunia akan bisa ditaklukkan dengan kebajikan, keadilan dan rasa sikap saling percaya. Menurut Mo Tzu, dengan cara seperti ini lah akan dicapai suatu perdamaian dan ketertiban.
Mo Tzu telah berusaha untuk memberikan pembenaran atas tindakan dan filsafatnya dengan semata-mata menggunakan akal pikiran dengan mengesampingkan emosi atau perasaan. Bahkan kasih semesta yang diajarkannya bukanlah berdasarkan pada emosi tetapi justru berdasarkan pertimbangan akal pikiran.
Terlepas dari segala pemikiran Mo Tzu tentang perdamaian dan ketertiban, ternyata ajaran Mo Tzu kurang memiliki daya tarik bagi bangsa cina khususnya. Hal ini dikarenakan ajarannya yang bersistem otoriter tentang ‘kemanunggalan dengan atasan’ dan ajarannya dengan nada dogmatik yang kebanyakan bertentangan dengan ajaran atau nilai kepantasan didalam masyarakat Cina.

3.    Mencius
Pengetahuan mengenai kehidupan Mencius, bisa dikatakan cukup minim. Hal ini dikarenakan masih simpang siurnya pengetahuan tentang Mencius, bahkan hingga pada saat ini, masih belum terdapat data yang relevan dan terpercaya mengenai kapan Mencius lahir dan kapan pula dia wafat. Namu walaupun demikian adanya, banyak orang yang berasumsi berdasarkan data-data tertentu dan akhirnya sepakat, bahwa Mencius hidup sekitar tahun 372 sebelum masehi hingga pada tahun 289 sebelum masehi. Berdasarkan kesepakatan ini, bisa ditarik sebuah pernyataan sederhana, bahwa Mencius hidup pada masa pasca Confusius dan pemikiran Mencius sendiri akan banyak merujuk pada pemikiran-pemikiran confusius.
Mencius telah belajar pada murid-murid cucu Confusius. Mencius sendiri merasa agak sedikit kecewa, karena dia tidak bisa langsung mendapat pengajaran dari sang guru besar. Mencius sendiri diketahui juga memiliki murid-murid yang jumlahnya cukup besar. Sebagai seorang filsuf dan pemikir, Mencius juga memiliki karya yang memberikan gambaran mengenai pemikirannya. Namun walaupun demikian, karya Mencius dianggap tidak memberikan penjelasan ataupun gambaran yang jelas mengenai metode-metode pengajaran Mencius sebagai seorang guru. Namun, dapat ditarik suatu pernyataan bahwa, Mencius tidak memiliki atensi atau perhatian yang dalam pada seni pengajaran, hal ini dapat dibuktikan dengan karyanya.
Terdapat perbedaan unik antara Confusius dan Mencius, walaupun Mencius sendiri berpendapat bahwa dia adalah penerus ajaran Confusianisme, namun terdapat keunikan dalam komparasi dua tokoh ini, yang pertama bahwa bahwa Mencius dan Confusius adalah orang yang berbeda walaupun Mencius sendiri berpendapat dia adalah penerus Confusius. Perbedaan lainnya adalah bahwa pernyataan-pernyataan Confusius yang kerapkali menjustifikasi atau menilai bahwa dirinya keliru. Hal ini bertentangan atau setidaknya tidak terlalu seiringan dengan Mencius yang tidak menilai bahwa dirinya salah.
Pemikiran Mencius mengenai kebaikan asli kodrat manusia sebenarnya memberikan jawaban dari pernyataan Confusius mengenai keharusan manusia untuk berbuat kebaikan dan kebajikan dan hidup sebagaimana mestinya manusia itu hidup. Namun Confusius tidak bisa menjelaskan alasan mengapa manusia mesti berbuat demikian. Bertolak dari hal ini, maka Mencius berusaha untuk memberikan penjelasannya.
Sebenarnya, yang menjadi pokok pembahasan dari filsafat Cina adalah mengenai apakah kodrat manusia itu baik ataukah buruk. Mencius hadir dan berusaha memberikan gambaran segamblang mungkin dan sejelas mungkin. Dalam menyikapi permasalahan kodrat baik-buruknya manusia ini. Menurut Mencius, dalam masa kehidupannya, terdapat tiga teori lain diluar teorinya mengenai permasalahan kodrat manusia ini. Pada teori pertama menyatakan bahwa, manusia itu berkodrat tidak baik, namun tidak pula buruk. Teori kedua menyatakan bahwa kodrat manusia itu, bisa jadi baik tetapi bisa pula buruk. Hingga pada teori ketiga yang menyatakan bahwa pada dasarnya, sebagian manusia berkodrat baik, dan sebagian lainnya berkodrat buruk. Dengan adanya berbagai teori-teori mengenai kodrat manusia ini sendiri, telah menimbulkan berbagai perdebatan antar para filsuf-filsuf, khususnya filsuf bangsa Cina, tidak terkecuali Mencius.
Teori Mencius sendiri mengenai kodrat manusia adalah pada dasarnya manusia berkodrat baik, namun menurut Mencius, didalam diri manusia itu masih terdapat unsur-unsur tertentu yang tidak dapat dijelaskan apakah unsur itu baik atau buruk. Namun yang jelas, apabila unsur ini tidak dapat dikendalikan atau dimanajemen dengan baik, maka unsur ini dapat menjadi suatu keburukan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.