Cina
merupakan negara timur yang punya beberapa hal yang unik. Salah satu hal unik
yang dimiliki bangsa Cina adalah pemikirannya dengan berbagai tokoh pemikirnya,
seperti Confusius, Mo Tzu, Sun Tzu, dan seterusnya. Masing-masing mereka
memiliki pemikiran dan pandangan tersendiri mengenai kehidupan. Namun terdapat
suatu kesamaan dari pemikiran para filsuf tersebut, yakni harmoni. Para pemikir
timur memang lebih menekankan titik pemikiran mereka pada harmoni, ada banyak
aspek dan alasan mengapa harmoni menjadi titik tekan pemikiran mereka, mulai
dari aspek peradaban kebudayaan, psikologis, hingga aspek lainnya. Untuk lebih
rinci, mari kita bahas satu persatu pemikiran para tokoh pemikir Cina tersebut.
1. Confusius
Confusius adalah salah satu dari tokoh dunia yang telah
banyak mempengaruhi dunia, terutama dari karya-karyanya yang berisi tentang
pikirannya. Tidak terkecuali pemikiran confusius tentang kebahagiaan manusia.
Menurut kesaksian Confusius sendiri, dia merupakan
seseorang yang tidak berpangkat dan hidup sederhana, tapi walaupun begitu,
dipercaya bahwa Confusius memiliki leluhur yang masih memiliki darah ningrat
atau bangsawan, tapi Confusius sendiri memiliki kehidupan yang dekat dengan
kemiskinan hingga perbudakan. Sehingga berdasarkan berbagai hal yang dialaminya
ini semakin membuatnya prihatin akan kehidupan rakyat jelata yang harus
membayar pajak dengan harga yang tinggi hingga melakukan kerja paksa hanya demi
kesenangan para kaum ningrat. Confusius mengibaratkan kaum ningrat atau
bangsawan sebagai benalu. Namun pemikiran confusius mengenai hal ini sudah
pasti akan bertolak belakang dengan pemikiran para kaum bangsawan.
Meskipun Confusius memiliki pemikiran yang bertentangan
dengan pemikiran kaum bangsawan, tetapi confusius tidak hanya menyaksikan hal ini
dengan berdiam diri, tetapi dia juga terpacu untuk bertindak. Dalam masa
hidupnya istilah ‘Chun Tzu’ yang berarti ‘orang baik-baik’ memiliki arti yang
berarti berasal dari keturunan yang baik-baik atau memiliki predikat yang
tinggi didalam masyarakat, dan termasuk didalam masyarakat kelas atas.
Confusius merubah pemikiran ini dengan menggantikan pengertian Chun Tzu dengan esensi bahwa ‘Chun Tzu’ bisa
dicapai apabila manusia itu memiliki perilaku yang terpuji dan mulia. Confusius
menekankan bahwa ‘Chun Tzu’ tidak bisa semata-mata dinilai berdasarkan
keturunan semata, menurutnya ini adalah perkara sifat, perilaku dan watak dari
manusia itu, dan Confusius yakin bahwa setiap manusia bisa menjadi ‘Chun Tzu’.
Sebagai seorang guru, Confusius mendidik murid -muridnya
dengan tidak pilih kasih terhadap murid-muridnya, walaupun muridnya terdiri dari
berbagai lapisan kelas. Tapi Confusius selalu mengupayakan muridnya yang
memiliki latar belakang rendah untuk menjadi ‘Chun Tzu’. Karena hal ini, Confisius
memberikan pembelajaran mengenai tatakrama bangsawan ataupun tatakrama istana
atau yang dalam istilah Cina dikenal dengan kata ‘Li’. Pada awalnya kata ‘Li’
ini sendiri memiliki arti ‘berkorban’.
Menurut Confusius, kemampuan bertindak dan berperilaku
berdasarkan ‘Li’ sangatlah penting bagi kebajikan dan kekuasaan manusia. Namun
dalam bertata krama, Confusius menyebutkan bahwa mengikuti kebiasaan merupakan
sesuatu hal yang penting, namun dalam beberapa hal, tidaklah diharuskan untuk
mengikuti kebiasaan, tetapi dengan alasan-alasan yang dapat diterima.
Pada akhirnya, Confusius memiliki persepsi mengenai
kebahagiaan, yaitu kebahagiaan merupakan dambaan setiap manusia, walaupun pada
dasarnya, masih terdapat berbagai pengertiaan mengenai kebahagiaan itu sendiri.
Dalam hal kebahagiaan ini, Confusius juga
berpendapat bahwa para penguasa yang bahagia, seharusnya juga dapat
membahagiakan rakyatnya.
2. Mo
Tzu
Mo Tzu adalah seorang pemikir dari Cina, tidak banyak
diketahui informasi mengenai riwayat hidupnya. Bagaimana kehidupannya tidak
dapat diketahui secara pasti dalam memberikan penjelasan secara lebih kompleks.
Namun seperti halnya Confusius, Mo Tzu juga bukanlah seseorang pemikir yang
berasal dari keturunan yang berkelas tinggi, tetapi ia justru berasal dari
keturunan yang relatif rendah.
Mo Tzu juga pernah mempelajari faham Confusianisme dari
para penyebar faham tersebut. Sehingga dia cukup memiliki pengetahuan mengenai
ajaran Confusius. Namun walaupun begitu, Mo Tzu selalu merasa bahwa pada
dasarnya, ajaran Confusius tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang dialami
rakyat, bahkan menurutnya, pada aspek-aspek tertentu ajaran Confusius justru
semakin memperparah kehidupan rakyat.
Bertolak dari hal ini, akhirnya Mo Tzu melepaskan diri
dari faham Confusianisme dan mendirikan fahamnya sendiri. Walaupun Mo Tzu cukup
menentang ajaran Confusius, namun dalam beberapa hal, Mo Tzu justru sependapat
dengan Confusius, seperti ajaran akan pemahaman jalan ‘tao’ (sifat kodrat
manusia) mirip dengan pemahaman Confusius mengenai jalan ‘tao’ itu sendiri.
Pada aspek lain, Mo Tzu juga memiliki pemikiran yang
sejalan dengan pemikiran Confusius bahwa keduanya menginginkan bahwa
pemerintahan haruslah diserahkan pada orang yang bijaksana dan cakap dalam
menjalankan tugasnya di roda pemerintahan, guna memenuhi kebutuhan rakyat untuk
mencapai kebahagiaan yang merupakan suatu batu loncatan menuju perdamaian dan
ketertiban.
Mo Tzu berpendapat bahwa pemerintahan yang baik merupakan
pemerintahan yang memperhatikan kebutuhan rakyatnya dengan penempatan orang-orang
yang bijak didalam pemerintahan. Namun Mo Tzu juga melontarkan kritik terhadap
kebiasaan masyarakat cina yang dianggap berlebihan dan justru cenderung
merugikan seperti upacara pemakaman yang rumit, yang menelan biaya yang tidak
sedikit, serta kebiasaan berkabung dalam waktu yang cukup lama. Menurut Mo Tzu,
kebiasaan-kebiasaan seperti ini lah yang mengganggu proses ekonomi, serta
memboroskan dana, mengganggu ketertiban pemerintahan, sehingga kebiasaan-kebiasaan
seperti ini haruslah dihapuskan. Dengan dihapuskannya kebiasaan-kebiasaan ini,
diharapkan menjadi pendukung terwujudnya perdamaian dan ketertiban.
Pada aspek lain, misalnya perang, ternyata Mo Tzu juga
memiliki paham yang sejalan dengan para penganut Confusianisme, yang pada
dasarnya memandang perang sebagai suatu jalan yang dilakukan negara-negara
besar terhadap negara kecil yang merupakan suatu keburukan terbesar. Mo tzu
berpendapat bahwa peperangan tidaklah membawa keuntungan sama sekali.
Menurut Mo Tzu, dunia pada dasarnya tidak akan dapat
ditaklukkan dengan peperangan, dan pedang atau senjata. Tetapi dunia akan bisa
ditaklukkan dengan kebajikan, keadilan dan rasa sikap saling percaya. Menurut
Mo Tzu, dengan cara seperti ini lah akan dicapai suatu perdamaian dan
ketertiban.
Mo Tzu telah berusaha untuk memberikan pembenaran atas
tindakan dan filsafatnya dengan semata-mata menggunakan akal pikiran dengan
mengesampingkan emosi atau perasaan. Bahkan kasih semesta yang diajarkannya
bukanlah berdasarkan pada emosi tetapi justru berdasarkan pertimbangan akal
pikiran.
Terlepas dari segala pemikiran Mo Tzu tentang perdamaian
dan ketertiban, ternyata ajaran Mo Tzu kurang memiliki daya tarik bagi bangsa
cina khususnya. Hal ini dikarenakan ajarannya yang bersistem otoriter tentang
‘kemanunggalan dengan atasan’ dan ajarannya dengan nada dogmatik yang
kebanyakan bertentangan dengan ajaran atau nilai kepantasan didalam masyarakat
Cina.
3. Mencius
Pengetahuan mengenai kehidupan Mencius, bisa dikatakan
cukup minim. Hal ini dikarenakan masih simpang siurnya pengetahuan tentang Mencius,
bahkan hingga pada saat ini, masih belum terdapat data yang relevan dan
terpercaya mengenai kapan Mencius lahir dan kapan pula dia wafat. Namu walaupun
demikian adanya, banyak orang yang berasumsi berdasarkan data-data tertentu dan
akhirnya sepakat, bahwa Mencius hidup sekitar tahun 372 sebelum masehi hingga
pada tahun 289 sebelum masehi. Berdasarkan kesepakatan ini, bisa ditarik sebuah
pernyataan sederhana, bahwa Mencius hidup pada masa pasca Confusius dan pemikiran
Mencius sendiri akan banyak merujuk pada pemikiran-pemikiran confusius.
Mencius telah belajar pada murid-murid cucu Confusius. Mencius
sendiri merasa agak sedikit kecewa, karena dia tidak bisa langsung mendapat
pengajaran dari sang guru besar. Mencius sendiri diketahui juga memiliki murid-murid
yang jumlahnya cukup besar. Sebagai seorang filsuf dan pemikir, Mencius juga
memiliki karya yang memberikan gambaran mengenai pemikirannya. Namun walaupun
demikian, karya Mencius dianggap tidak memberikan penjelasan ataupun gambaran
yang jelas mengenai metode-metode pengajaran Mencius sebagai seorang guru.
Namun, dapat ditarik suatu pernyataan bahwa, Mencius tidak memiliki atensi atau
perhatian yang dalam pada seni pengajaran, hal ini dapat dibuktikan dengan karyanya.
Terdapat perbedaan unik antara Confusius dan Mencius,
walaupun Mencius sendiri berpendapat bahwa dia adalah penerus ajaran
Confusianisme, namun terdapat keunikan dalam komparasi dua tokoh ini, yang pertama
bahwa bahwa Mencius dan Confusius adalah orang yang berbeda walaupun Mencius
sendiri berpendapat dia adalah penerus Confusius. Perbedaan lainnya adalah
bahwa pernyataan-pernyataan Confusius yang kerapkali menjustifikasi atau
menilai bahwa dirinya keliru. Hal ini bertentangan atau setidaknya tidak
terlalu seiringan dengan Mencius yang tidak menilai bahwa dirinya salah.
Pemikiran Mencius mengenai kebaikan asli kodrat manusia
sebenarnya memberikan jawaban dari pernyataan Confusius mengenai keharusan
manusia untuk berbuat kebaikan dan kebajikan dan hidup sebagaimana mestinya
manusia itu hidup. Namun Confusius tidak bisa menjelaskan alasan mengapa
manusia mesti berbuat demikian. Bertolak dari hal ini, maka Mencius berusaha
untuk memberikan penjelasannya.
Sebenarnya, yang menjadi pokok pembahasan dari filsafat Cina
adalah mengenai apakah kodrat manusia itu baik ataukah buruk. Mencius hadir dan
berusaha memberikan gambaran segamblang mungkin dan sejelas mungkin. Dalam
menyikapi permasalahan kodrat baik-buruknya manusia ini. Menurut Mencius, dalam
masa kehidupannya, terdapat tiga teori lain diluar teorinya mengenai permasalahan
kodrat manusia ini. Pada teori pertama menyatakan bahwa, manusia itu berkodrat
tidak baik, namun tidak pula buruk. Teori kedua menyatakan bahwa kodrat manusia
itu, bisa jadi baik tetapi bisa pula buruk. Hingga pada teori ketiga yang
menyatakan bahwa pada dasarnya, sebagian manusia berkodrat baik, dan sebagian
lainnya berkodrat buruk. Dengan adanya berbagai teori-teori mengenai kodrat
manusia ini sendiri, telah menimbulkan berbagai perdebatan antar para filsuf-filsuf,
khususnya filsuf bangsa Cina, tidak terkecuali Mencius.
Teori Mencius sendiri mengenai kodrat manusia adalah
pada dasarnya manusia berkodrat baik, namun menurut Mencius, didalam diri manusia
itu masih terdapat unsur-unsur tertentu yang tidak dapat dijelaskan apakah
unsur itu baik atau buruk. Namun yang jelas, apabila unsur ini tidak dapat
dikendalikan atau dimanajemen dengan baik, maka unsur ini dapat menjadi suatu keburukan