Halaman

Sabtu, 28 November 2020

Dimana Posisi Teori Non-Barat Dalam Studi Hubungan Internasional?

Sesiapa saja yang mempelajari studi Hubungan Internasional (HI), pasti akan menemukan istilah-istilah teoritik seperti Idealisme, Realisme, Marxisme, Feminisme, dan banyak istilah teori lainnya. Selama mempelajari beragam teori tersebut, para pelajar HI akan disuguhi pula berbagai macam literatur dan kuliah sejarah yang menjadi konteks kemunculan ragam teori tersebut. Terdapat sebuah benang merah dari pembelajaran teoritik dan sejarah dalam studi HI, yaitu pembelajaran HI sangat didominasi filsafat dan sejarah Barat. Kalau seandainya tidak begitu vulgar, maka saya bisa katakan bahwa studi HI adalah studi yang Barat-sentris. Barat dalam artian berpusat pada sejarah dan pemikiran Eropa-Amerika.

Beragam konsep dan teori yang muncul dalam studi HI, mulai dari sistem internasional yang anarki, kedaulatan berbasis wilayah teritorial, individualisme dan pasar bebas hingga teori perdamaian demokrasi kesemuanya berasal dari konteks sejarah bangsa Barat. Konteks sejarah dan filosofis yang menjadi latar belakang munculnya teori-teori HI pada akhirnya menciptakan studi HI yang berusaha memahami, menjelaskan bahkan mengubah dunia sesuai dengan teori dan perspektif Barat tersebut. 

Robert Cox pernah berkata bahwa “teori selalu untuk seseorang/sesuatu dan untuk tujuan-tujuan tertentu”. Maksudnya adalah, teori pasti mengandung kepentingan. Pemaknaan teori oleh Cox sepertinya lebih cocok diterapkan pada bidang ilmu sosial yang memang sangat kompleks dan kontekstual. Pemaknaan teori oleh Cox yang menggarisbawahi bahwa teori tidak bersifat netral, tentu saja berbeda dengan pemaknaan teori dalam disiplin kajian lain yang bersifat eksakta yang memaknai teori sebagai hal yang netral dan bebas nilai.

Apabila kita amati, setiap teori dalam HI seperti Realisme, Liberalisme, English School, Marxisme, Feminisme dll, kesemuanya memiliki perbedaan pada banyak aspek seperti asumsi keyakinan, kepentingan, dan gagasan yang berusaha untuk diwujudkan. Artinya, setiap teori memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kepentingan yang terkandung dalam Realisme akan berbeda dengan kepentingan yang terkandung di dalam Liberalisme, Marxisme, Feminisme dll.



Perdebatan dalam studi HI dalam sejarah perkembangannya didominasi oleh perdebatan teoritik dari teori-teori Barat. Meskipun teori-teori Barat itu beragam, namun mereka semua punya kesamaan, yaitu muncul dari konteks sosial Barat. Akibatnya, saat ini bisa dikatakan bahwa teori-teori HI dari Barat seolah memiliki kualitas “universal truth” yang bermakna tidak dapat dibantah kebenarannya dan bisa diimplementasikan pada seluruh situasi dan kondisi di seluruh dunia. Misalnya saat ini, pandangan tentang teori perdamaian demokrasi, anarkisme sistem internasional, kesetaraan gender yang di usung oleh teori Barat menempati posisi seolah harus diimplementasikan tidak hanya pada level akademik namun pada setiap level kehidupan negara dan manusia. 

Terdapat semacam “stigma negatif” bagi negara, maupun anggota komunitas internasional yang tidak setuju atau tidak menjalani nilai-nilai dari teori Barat tersebut. Misalnya kemunculan mengaitkan antara demokrasi dengan perdamaian. Sesiapa yang tidak setuju dengan gagasan demokrasi (yang biasanya bersumber dari teori liberalisme) akan dianggap sebagai penentang perdamaian. Contoh lainnya, sesiapa yang tidak setuju dengan nilai dan metode kesetaraan gender (yang biasanya bersumber dari Feminisme) akan dianggap sebagai kalangan patriarkis penindas. Dan masih banyak contoh-contoh diskriminasi teoritik yang berdampak pada kehidupan politik internasional dan domestik lainnya.

Teori-teori HI Barat menurut hemat saya telah mencapai derajat “Gramscian Hegemony” dalam politik global dan studi HI. Derajat ini pada akhirnya membuat aktor HI akan “secara tidak sadar” meyakini nilai-metode dalam teori HI Barat seolah sebagai “universal truth” bahkan pada spektrum yang lebih ekstrim, bisa menjadi “absolute truth”. Aktor HI akan menjalankan nilai-metode teori-teori Barat dengan berdasarkan keyakinannya tersebut.

Masalah yang jelas muncul dari dominasi teori HI barat baik dalam politik global maupun diskursus akademik HI adalah terjadinya diskriminasi terhadap dunia non-Barat. Kebajikan dan kebenaran adalah “Western Way” sementara dunia non-Barat berada pada ketertinggalan sehingga perlu kiranya untuk menerapkan dan “maju” dengan menerapkan “Western Way” tersebut.

Perkembangan politik dunia, globalisasi, dan peningkatan arus informasi sedikit banyak telah membuka mata para akademisi HI untuk melihat bahwa teori-teori HI Barat ternyata tidak universal dan sangat kontekstual. Maka dari itu perlu untuk melihat sejarah, falsafah, dan konteks sosial dari dunia non-Barat. Muthia Alagappa pernah berkata bahwa dunia non-Barat, khususnya Asia bisa menjadi tempat yang sangat subur bagi pengujian, pengkritikan dan pengembangan dari teori HI Barat. Pendapat Alagappa ini pada hakikatnya memberi peluang bagi pandangan non-Barat untuk berkontribusi dalam perkembangan teori HI.

Namun ada suatu hal yang harus diingat, bahwa pada dasarnya, pandangan non-Barat bukannya tidak punya kontribusi apa-apa terhadap teori HI. Sebaliknya, terdapat beberapa pandangan-pandangan non-Barat didalam teori HI. Sebut saja karya-karya klasik dari para tokoh non-Barat seperti Sun Tzu, Kautilya, dsb telah memberikan inspirasi bagi para akademisi dan praktisi HI dan politik. Tetapi, kontribusi yang didapatkan dari karya mereka bisa dikatakan terbatas pada memberikan dukungan pada teori barat tanpa membangun suatu bangunan teori tersendiri yang mandiri.

Inilah yang perlu dilakukan para akademisi HI dari belahan dunia non-Barat khususnya, yaitu menggali sejarah dan nilai-nilainya untuk membangun bangunan teori yang baru, bukan hanya menjadikan sejarah dan falsafah itu untuk menjadi bagian “pendukung” dari teori HI Barat namun seharusnya menjadi bagian “utama” dari teori HI tersebut.

Sebenarnya sudah ada langkah-langkah yang dilakukan oleh akademisi untuk membangun teori HI non-Barat, namun langkah-langkah yang dilakukan ini masih terbilang minim dan belum terstruktur. Minim dan belum terstruktur dalam artian khusus membangun kerangka berpikir HI. Maka dari itu dibutuhkan langkah sistematis dan masif untuk menggali sejarah dan literatur non-Barat. Dan salah satu kendala terbesar untuk menjalankan langkah ini adalah: kendala bahasa (biasanya sumber-sumber non-Barat menggunakan bahasa yang kurang umum dipakai dalam studi HI), dan kendala akses terhadap sumber belajar dan literatur.

Jumat, 27 November 2020

Jalan Adam BB : Sekilas Kisah Hidup Syekh Adam Balai-Balai

Di kota kelahiranku, Kota Padang Panjang, ada sebuah jalan. Jalan yang tidak jauh dari rumahku, diberi nama Jalan Adam Balai-Balai atau di singkat Jalan Adam BB. Jalan ini memang terletak di wilayah Kelurahan Balai-Balai. Selama ini, aku hanya lewat dari jalan itu dengan tanpa begitu mengacuhkan nama jalan tersebut. Biasa saja, pikirku dalam hati. Bertahun-tahun lewat dari jalan itu, bertahun-tahun itu juga aku abaikan nama jalan itu.



Ketidak pedulianku pada nama Jalan Adam BB itu tiba-tiba berubah setelah suatu hari aku membaca buku Buya Hamka yang berjudul “Ayahku”. Ya, buku dimana Buya bercerita tentang hidup ayah beliau, Haji Abdul Karim Amrullah atau Inyiak Rasul. 

Inyiak Rasul adalah seorang pendakwah Islam, ulama yang terkenal di Ranah Minang, bahkan di Indonesia. Walaupun beliau wafat sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, tepatnya Inyiak Rasul wafat pada 2 Juni 1945. Semoga jasa beliau pada Islam diberikan ganjaran pahala oleh Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih.

Inyiak Rasul terkenal dengan ketegasannya dalam berdakwah dan menyampaikan ajaran Islam. Buya Hamka mengisahkan bahwa kadang sikap tegas Inyiak Rasul dalam berdakwah dianggap keras oleh para tokoh adat maupun tokoh agama kalangan tradisionalis. Tidak heran perdebatan yang sengit menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Inyiak Rasul dalam berdakwah, menyampaikan ajaran agama dan berusaha “meluruskan” masyarakat yang menurut Inyiak Rasul telah menyimpang dari ajaran Islam yang berasas tauhid yang murni. Inyiak Rasul punya banyak murid di Ranah Minang pada masanya. Ternyata Adam Balai-Balai merupakan salah satu murid dari Inyiak Rasul.




Tersebutnya nama Adam Balai-Balai dalam tulisan Buya Hamka memunculkan rasa keingintahuanku untuk lebih jauh menyelidiki siapa sebenarnya tokoh ini, Syekh Adam BB yang namanya diabadikan jadi nama jalan di Kelurahan Balai-Balai, di kampung halamanku Kota Padang Panjang. Teknologi internet sungguh memudahkanku untuk mengetahui lebih jauh tentang Syekh Adam BB. Segera aku tulis kata “Adam Balai-Balai” di mesin pencari google dan ternyata muncul informasi tentang beliau. Diketahui Syekh Adam BB lahir pada tanggal 31 Agustus 1889 dan wafat pada tanggal 15 Juli 1953.

Syekh Adam BB terkenal dengan kemampuannya dalam “basilek” atau bersilat. Kemampuan beliau dalam silat itu pada akhirnya mengantarkan beliau menjadi orang yang disegani bahkan ditakuti, melekatlah julukan sebagai “parewa gadang” ke diri beliau. Julukan yang punya padanan sebagai preman, jagoan, jawara, dan sebagainya. Buya Hamka mengisahkan bahwa Syekh Adam BB dulunya sebelum mendapat hidayah dari Allah untuk mendalami Islam adalah orang yang liar, tak tentu tempat bermalam, hidup dari bermain sepak raga, layang-layang dan pencak silat. Siapa sangka seorang “parewa gadang” pada akhirnya bisa punya perhatian yang besar terhadap ilmu dan ajaran Islam bahkan menjadi salah satu yang paling keras dalam mengajarkannya terhadap masyarakat Padang Panjang? Kurang lebih demikianlah pandangan Buya Hamka terhadap Syekh Adam BB.

Sebelum belajar dan mendalami ajaran Islam, Syekh Adam BB konon pernah bekerja sebagai mandor di kota tambang batubara, Kota Sawahlunto. Konon beliau menjadi mandor untuk “orang rantai” yaitu istilah yang biasa dipakai untuk menyebut para tahanan pekerja paksa oleh Penjajah Belanda. Disebut “orang rantai” karena memang para pekerja paksa tersebut dirantai tubuhnya sehingga mereka tidak bisa melarikan diri. Konon pula ketika bekerja sebagai mandor ini, Syekh Adam BB mendapatkan gaji yang cukup besar pada masa itu. Namun segala pencapaian Syekh Adam BB muda tidak begitu membahagiakan Ibunda beliau. Sang Ibunda ternyata tidak memandang kesuksesan dari pangkat dan harta yang telah dikumpulkan Syekh Adam BB muda.

Sikap Sang Ibunda yang demikianlah yang pada akhirnya membuat Syekh Adam BB merenungi kembali makna kehidupan yang sejati. Apa sebenarnya yang menjadi tujuan manusia di dunia ini? Apa kebahagiaan yang sejati itu? Aku membayangkan barangkali pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang berkecamuk dalam pikiran Syekh Adam BB pada masa itu.

Buya Hamka bercerita, Syekh Daud Rasyidi yang merupakan ulama Minangkabau yang sezaman dan bersahabat dengan Inyiak Rasul yang menggugah hati Syekh Adam BB untuk mendalami ajaran agama, ajaran Islam. Syekh Daud adalah ulama yang lapang hati, kata Buya. Sikap Syekh Daud inilah yang pada akhirnya meluluhkan jiwa Syekh Adam BB untuk tobat dari hidup sebagai “parewa gadang”. Akhirnya Syekh Adam BB belajar di Pahambatan dibawah bimbingan Syekh Daud Rasyidi. 

Syekh Adam BB ternyata punya pikiran yang cerdas sehingga cepat pula beliau menerima pelajaran agama dari gurunya. Ketika Haji Abdul Karim Amrullah atau Inyiak Rasul membuka pengajaran di Kota Padang Panjang, Syekh Adam BB ikut pula bergabung menjadi murid dari Inyiak Rasul. Begitu besar hormat dari Syekh Adam BB kepada Inyiak Rasul. Sehingga tidak boleh ada orang yang berani mencela Inyiak Rasul apalagi didepan Syekh Adam BB. Tentu saja jika hal itu terjadi, Syekh Adam BB akan tersinggung.

Buya Hamka bercerita, suatu hari ada seorang yang menurut tokoh agama yang tradisionalis sebagai ulama bernama Syekh Abdul Hadi. Orang ini (Syekh Abdul Hadi) kemudian sampai ke Ranah Minang dan berceramah berfatwa pula. Abdul Hadi membangkitkan tradisi-tradisi yang ditentang oleh kalangan “ulama muda” atau “Kaum Muda” yang menghendaki Islam kembali pada asas kemurniannya. Syekh Abdul Hadi berusaha menghidupkan kembali tradisi-tradisi “berburu berkah” seperti makan sisa makanan guru, mengambil berkah dari air liur guru dan lain sebagainya yang berkesuaian dengan pandangan para “Kaum Tua”. Tradisi-tradisi tersebut berusaha di kikis oleh “Kaum Muda” karena tidak sesuai dengan ajaran Islam, termasuk berlebihan dalam beragama yang dikhawatirkan bisa menjerumuskan pada kesyirikan.

Suatu hari, Syekh Abdul Hadi berceramah pula di daerah Jaho, Padang Panjang. Daerah Jaho adalah daerah dimana Syekh Jamil Jaho (ulama yang sezaman dengan Inyiak Rasul –pen) mengajar. Syekh Abdul Hadi pada waktu itu sangat asyik berceramah. Namun ceramah yang disampaikannya menurut penjelasan Buya Hamka, adalah ceramah yang melantur dan mencela. Tentu saja yang dicela adalah ulama muda atau “Kaum Muda”. Sudah jelas pula, apabila “Kaum Muda” dicela, maka akan tersebutlah nama-nama seperti Haji Abdul Karim Amrullah, Haji Abdullah dan lainnya sebagai golongan yang sesat, wahabi katanya.

Ternyata ketika Abdul Hadi menyampaikan ceramah celaan dan melanturnya, Syekh Adam BB ada disana mendengarkan ceramahnya. Jelas saja, Syekh Adam BB merasa murka dan naik pitam. Perdebatan antara keduanya, Syekh Adam BB dan Syekh Abdul Hadi tidak dapat dihindari. Buya Hamka mengisahkan pada akhirnya, Syekh Abdul Hadi melarikan diri dari tempat ceramah itu, dan ketika melarikan diri, dia terpeleset dan tercebur pula ke sebuah “tabek” atau kolam. Dari kisah ini, aku (Arif) paham betapa tinggi kecintaan dan hormat Syekh Adam BB kepada guru beliau, Inyiak Rasul.

Hubungan Syekh Adam BB dan Inyiak Rasul sempat merenggang karena peraturan pembagian kelas dalam pengajaran agama dijalankan di Padang Panjang. Syekh Adam BB tidak setuju dengan adanya kelas-kelas dalam pembelajaran. Sedangkan Inyiak Rasul pada masa itu setuju dan menjalani proses pengajaran dengan pembagian kelas dari yang rendah ke kelas yang tinggi. Meskipun hubungan mereka sempat renggang, tapi hal tersebut tidak menjadikan Syekh Adam BB berkurang hormatnya pada gurunya. Pada akhirnya Syekh Adam BB menerima bahwa mengadakan kelas dalam pembelajaran mulai dari kelas yang rendah, bertingkat dan bertahap menjadi kelas yang tinggi memang dibutuhkan dalam proses pendidikan.

Dalam perjalanan dakwah Islamnya, Syekh Adam BB diketahui telah membuka “halaqah” atau majelis kajian agama sederhana di Surau Kampung Baru, Kampung Pasar Baru, Kota Padang Panjang. Surau Kampung Baru saat ini telah menjadi Masjid Raya Jihad Kota Padang Panjang. Kemudian beliau juga mendirikan sekolah agama Islam atau Madrasah yang diberinya nama Madrasah Irsyadunnas dan beliau juga memberi bagian kelas khusus untuk perempuan yang hendak belajar agama dengan nama Irsyadunnisa. Dibangunnya madrasah ini, aku pikir merupakan bukti bahwa beliau (Syekh Adam BB) menerima sistem kelas dalam proses pembelajaran. Aku berusaha untuk mencari informasi tentang madrasah yang beliau dirikan, namun aku masih belum menemukan informasi tentang madrasah itu saat ini. Informasi yang aku dapatkan bahwa Madrasah Irsyadunnas ini terletak dekat dengan lokasi Masjid Jihad Kota Padang Panjang, dan madrasah ini sudah tidak ada lagi. Semoga lain kali aku bisa mencari tahu lebih jauh tentang madrasah yang didirikan Syekh Adam BB ini.

Syekh Adam BB meninggal pada tahun 1953 dan dimakamkan di Kota Padang Panjang. Makamnya berdekatan dengan lokasi Masjid Raya Jihad Kota Padang Panjang. Kabar yang aku ketahui, makam beliau memang tersembunyi, cukup sulit untuk diakses. Namun baru-baru ini, aku membaca berita bahwa makam tersbut telah dibersihkan, dan ada rencana dari Pemerintah Kota Padang Panjang untuk memperbaiki makam tersebut sehingga menjadi lebih mudah aksesnya bagi yang ingin berziarah. Aku sangat senang dan mengapresiasi usaha yang direncanakan oleh Pemerintah Kota Padang Panjang. Tentu saja aku berharap semoga makam beliau tidak dikeramatkan orang, dijadikan tempat untuk tujuan dan ritual yang dikhawatirkan bisa menjerumuskan pada kesyirikan, hal yang paling ditentang oleh Syekh Adam BB sendiri.


Pada akhirnya, aku hanya bisa kagum pada sekeping kecil perjalanan hidup Syekh Adam BB, yang nama beliau jadi nama jalan yang sering aku lewati tapi aku tidak pedulikan. Selain itu aku juga berdoa dan berharap pada Allah agar memberikan ampunan dan rahmatNya kepada Syekh Adam BB. Aku hanya bisa mengambil pelajaran dari sejarah dan perjalanan hidup seorang Syekh Adam BB, seorang ahli pencak silat, pendidik yang pemberani dalam membela kebenaran.


Kota Padang Panjang dalam Kenanganku

Beberapa waktu yang lalu, aku menelpon Ibuku di kampung halamanku, di Kota Padang Panjang, Sumatra Barat. Seperti biasa, obrolan berputar pada hal-hal yang dibicarakan Ibu dan anak pada umumnya. Entah bagaimana ceritanya bisa sampai pada bahasan ini, Ibuku berkata bahwa sebagian besar sawah ladang di kota tempat kampung halamanku telah terjual.

“Oh, udah di jual ya ma? Sayang betul rasanya sawah-sawah itu dijual ya” Kurang lebih itulah tanggapanku ketika Ibuku menceritakan kisah terjualnya sawah-sawah di sekitaran rumah kami itu. Kampung halamanku, di Kota Padang Panjang, Sumatra Barat.



Ya, ketika disebut kata “Sumatra Barat”, aku percaya bahwa dibenak kita akan terbayang keindahan alam, dan ragam pesona wisatanya yang mempesona. Kota Padang Panjang juga demikian. Kota kelahiranku itu bukan kota besar. Kota kecil dengan suhu dingin yang dikelilingi gunung dan bukit. Sawah dan ladang terbentang dari ujung ke ujung kota ini. Sungguh kota yang sangat indah. Keindahan kota ini adalah rahmat Allah yang patut aku syukuri. Keindahan kota ini menurutku tidak bisa dilepaskan dari keasrian kota ini. Alam yang hijau, sawah ladang subur membentang sepanjang kota. Ah, indah nian kota kelahiranku ini. Itulah yang aku pikirkan.

Dengan pikirku demikian, maka jelas saja aku merasa sedih, kecewa dengan dijualnya sawah-sawah dan ladang hijau di kampungku itu. Bagaimana tidak sedih? Kampungku yang indah itu ya karena hijau dan asrinya, bukankah demikian? 

Tapi apalah dayaku? Tentu saja tanah itu bisa dijual pemilik sahnya. Dan pemilik sahnya bukan aku, maka aku cuma bisa sedih dan meringis dalam hati saja. Pemandangan hijau menyejukkan mata yang selama ini menyejukkan hatiku bakal berganti dengan barisan beton perumahan dan perkantoran. Ah andai saja itu sawah ladangku, tentu aku tidak sudi menjualnya. Paling tidak itulah yang aku rasakan.

Memang perkembangan pembangunan di Kota Padang Panjang, kampung halamanku itu terbilang cukup cepat. Itulah yang aku rasakan. Banyak perubahan yang aku rasakan, perbedaan ketika masa aku kecil dan saat ini, ketika aku menulis coretan ini. Ya, aku sadar perubahan pasti terjadi, cepat atau lambat. Zaman pasti berubah. Hanya mungkin aku saja yang masih tidak bisa melepaskan diri dari gambaran Kota Padang Panjang hijau yang menempel di benakku. Dan aku tidak hendak pula melupakan gambaran indah itu dari kepalaku. Jauh di lubuk hati masih berharap sawah ladang, bukit hijau itu muncul kembali.

Seringkali hati bertanya-tanya sendiri. Tak pula aku cari jawaban dari pertanyaan itu. Entah karena aku sudah tahu jawabnya, tapi aku takut membuktikannya. Atau rasa sedih yang terlanjur menggulita dalam sanubari. 

Mengapa pembangunan harus diidentikkan dengan pembangunan gedung-gedung megah? Menggerus asri dan hijaunya alam

Mengapa kita meninggalkan hidup penuh kesahajaan yang damai demi mengejar hidup sibuk nan glamor yang sering penuh kepalsuan?

Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang terus terngiang di sanubari tapi tak hendak pula aku menjawabnya. Ya, mungkin aku takut untuk mencari jawabannya.

Entahlah, mungkin kampung halamanku sudah tidak seperti dulu lagi, sawahnya sudah mengering, ladangnya sudah tandus, anginnya makin hangat.  Aku mungkin tidak bisa berbuat banyak. Namun paling tidak, kenangan Kota Padang Panjang ku, yang dingin, hijau, sawah ladang asri membentang, tidak akan mau aku lupakan dari sanubariku.

Paling tidak aku merasa beruntung punya kenangan itu. Kenangan itu milikku, tidak akan bisa dijual dan tak hendak pula aku menjualnya. Sekali-sekali aku lihat kenanganku itu, sekali-sekali aku pasang pula pengharapan, semoga kenangan itu jadi nyata. Semoga.

Pengantar Manajemen Bencana : Hakikat Bencana

Bencana merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan dan sejarah manusia. Usia bencana pada hakikatnya sama tuanya dengan usia manusia itu sendiri di bumi ini. Pada sisi lain, bencana pada umumnya dianggap sebagai fenomena yang merugikan manusia baik secara materi maupun non-materi.

Tidak ada manusia yang bisa terbebas dan imun dari bencana tidak peduli betapa kaya dan maju teknologi yang dimiliki oleh manusia tersebut. Manusia hanya bisa melakukan tindakan untuk mencegah kerugian dan menanggulangi kerugian agar tidak meluas. Oleh karena itu, sepanjang sejarah kehidupan manusia, telah dilakukan berbagai macam upaya untuk mengurangi kerugian yang bisa ditimbulkan oleh bencana. Sebut saja membangun rumah dengan jenis rumah panggung, yang pada umumnya bisa terlihat pada rumah-rumah adat di Indonesia. Rumah panggung dibangun dengan sudut pandang menghindari banjir misalnya, atau menghindari binatang buas yang bisa membahayakan manusia penghuni rumah. Inilah yang disebut dengan manajemen bencana.



Bencana pada hakikatnya bersifat politis. Apa yang dimaksud dengan politis? Bukankan bencana itu adalah fenomena alam?

Tentu saja gempa bumi, aktifitas tinggi gunung berapi hingga tsunami merupakan fenomena alam. Namun semua fenomena alam tersebut akan dianggap fenomena alam biasa dan bukan bencana apabila terjadi pada wilayah yang tidak ada manusia, atau tidak berdampak apapun pada kehidupan manusia. Sebaliknya, fenomena tersebut menjadi bencana ketika terjadi pada wilayah tinggal manusia dan berdampak negatif pada keberlangsungan hidup manusia.

Pada sisi lain, sebagaimana yang telah saya jelaskan diatas, perlu ada usaha manusia untuk mencegah dan mengurangi dampak bencana. Usaha manusia untuk mencegah dan mengurangi dampak bencana ini lah yang bersifat politis. Disebut politis karena kemampuan dan pengetahuan manusia berbeda-beda. Pada level lebih tinggi, kapasitas dan kapabilitas negara dalam mencegah dan mengurangi dampak bencana berbeda-beda, dan ada banyak faktor sosial-politik lain yang mempengaruhinya.

Seiring dengan perkembangan politik dan ekonomi manusia, semakin berkembang pula jenis-jenis bencana yang mengintai manusia tersebut. Jika zaman dahulu kala, bencana selalu diidentikkan dengan fenomena alam murni tanpa campur tangan manusia, saat ini bencana justru dihasilkan dari ulah tangan manusia itu sendiri. Tentu saja manusia tidak akan menciptakan gempa bumi, tsunami dan lain-lain. Tapi manusia melakukan tindakan-tindakan dengan alasan politik-ekonomi yang berdampak pada alam, merusak alam. Sebut saja tindakan-tindakan merusak hutan, aktifitas manusia yang menghasilkan polusi masif seperti industrialisasi, eksploitasi berlebih terhadap hasil bumi dan laut, hingga polusi transportasi. Belum lagi dengan kebijakan pembangunan yang tidak memperhatikan keberlangsungan lingkungan. Semua tindakan yang menurut saya cukup egois ini pada akhirnya merusak alam. Manusia mungkin berpikir bahwa alam yang rusak adalah hal biasa, dan tidak akan berdampak pada kehidupannya saat ini. Tentu pola pikir ini adalah pola pikir yang keliru. Manusia hidup di dalam alam, jika alam rusak tentu saja kehidupan manusia di dalamnya akan terganggu. Hanya saja egoisme materi manusia dengan alasan politik, ekonomi-pembangunan membutakan pikiran yang sehat.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapatlah kita paham bahwa terdapat paling tidak 2 jenis bencana yang perlu kita kenal berdasarkan asal-usul bencana itu, yakni:

1. Bencana akibat fenomena alam

2. Bencana akibat ulah manusia

2 jenis bencana inilah yang akan menjadi perhatian para manajer bencana untuk mengatur dan menjalankan program manajemen bencana dengan tujuan mencegah dan menanggulangi kerugian agar tidak meluas dan membesar.


Tren Bencana Kekinian

Salah satu isu yang menjadi isu hangat pada abad 21 ini adalah isu pemanasan global. Isu ini ramai dibahas oleh negara-negara maupun beragam organisasi di seluruh dunia pada berbagai forum. Intinya adalah, telah terjadi fenomena yang merugikan manusia di seluruh dunia, mulai dari meningkatnya suhu bumi, meningkatnya air permukaan laut, banjir, kelaparan, penebangan liar, desertifikasi (kekeringan akibat berkurangnya hutan -pen) dan seterusnya. Semua isu yang baru saja disebutkan pada hakikatnya adalah bencana akibat ulah manusia atas nama pembangunan.

Pada akhirnya permasalahan bencana saat ini menjadi permasalahan global. Jumlah bencana semakin meningkat setiap tahun dan pihak yang terdampak bencana semakin beragam mulai dari negara maju hingga negara miskin. Namun negara miskin sangat rentan dengan bencana. Maksudnya, kemiskinan yang dihadapi oleh suatu negara akan sangat bisa memperburuk dampak negatif yang diakibatkan bencana. 

Kemiskinan, pembangunan yang tidak mempedulikan kelestarian lingkungan, hingga pola hidup individualis yang konsumtif menjadi isu sentral dalam manajemen bencana pada abad 21. Bukan berarti abad 21 adalah abad yang terbebas dari bencana akibat fenomena alam, namun bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia semakin meningkat kuantitasnya pada abad 21 ini.


Rekomendasi

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dipahami bahwa perilaku manusia memegang peranan penting dalam upaya mengurangi dan menanggulangi dampak bencana, baik bencana yang ditimbulkan fenomena alam maupun bencana yang ditimbulkan akibat ulah manusia. Sudah seharusnya pembangunan manusia dan pembangunan negara menjadikan alam sebagai bagian integral yang tidak boleh dipisahkan. Artinya manusia harus mempertimbangkan keberlangsungan kelestarian alam sama pentingnya dengan eksistensi manusia itu sendiri. Sudah saatnya pembangunan yang terpusat pada manusia, manusia-sentris menjadi pembangunan yang berpusat pada alam, alam-sentris. 

Perlu ada perhatian khusus bagi kelompok paling rentan terhadap dampak bencana yang biasanya ada pada golongan miskin. Kemiskinan akan meningkatkan dampak negatif dari bencana. Maka dibutuhkan langkah komprehensif dan holistik untuk menanggulangi kemiskinan, tentunya dengan langkah yang alam -sentris misalnya dengan membuka kegiatan pemberdayaan ekonomi dengan basis kelestarian alam yang difasilitasi pihak berwenang, seperti pemerintah atau bisa juga dengan swadaya masyarakat.