Halaman

Minggu, 22 Desember 2024

Agama Druze: Sejarah Singkat, Keyakinan, dan Sikap Islam Terhadapnya

Agama Druze adalah kepercayaan esoterik yang muncul pada abad ke-11 di Timur Tengah, tepatnya di wilayah yang kini dikenal sebagai Lebanon modern. Kepercayaan ini berkembang dari cabang Ismailiyah dalam Syiah dengan mengintegrasikan elemen filsafat Yunani, gnostisisme, neoplatonisme, dan tradisi spiritual lainnya. Populasi Druze diperkirakan mencapai 1 juta jiwa, dengan konsentrasi utama di Suriah, Lebanon dan wilayah pendudukan Israel, serta juga komunitas kecil di Yordania dan diaspora di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Kepercayaan Druze berakar pada abad ke-10 di Kairo, selama masa Dinasti Fatimiyah. Dinasti ini penganut Syiah Ismailiyah, tetapi seiring berjalannya waktu, Druze berkembang menjadi keyakinan agama yang berbeda.

Istilah Duruz/Druze berasal dari tokoh bernama Abu ‘Abdullah Muhammad ibnu Isma‘il al-Durzi, yang hidup pada masa pemerintahan al-Hakim bi Amrillah, seorang penguasa dari Dinasti Fatimiyah. Al-Durzi awalnya merupakan pengikut sekte Syiah Ismailiyah sebelum beralih menjadi pendukung al-Hakim dan mempromosikan keyakinan bahwa al-Hakim adalah inkarnasi/jelmaan/titisan Allah. Ia dianggap sebagai manifestasi Allah oleh pengikut Druze. Pada tahun 1017, ia memproklamirkan agama baru yang kemudian sekarang dikenal dengan nama Duruz/Druze. Keyakinan ini ditentang oleh umat Islam di Mesir, sehingga al-Durzi melarikan diri ke Suriah untuk menyebarkan ajarannya.

Kelompok ini memperoleh dukungan di wilayah Wadi Taym-Allah ibn Tha’labah di barat Damaskus, tempat di mana keyakinan Druze mulai berkembang pesat. Tokoh penting lainnya dalam sejarah Druze adalah Hamzah ibnu ‘Ali al-Hakimi, seorang Persia, diangkat oleh Al-Hakim sebagai pemimpin agama Druze yang juga mempromosikan ajaran deifikasi atau penyembahan al-Hakim sebagai Allah secara terang-terangan. Setelah hilangnya Al-Hakim pada tahun 1021, Hamzah melanjutkan kepemimpinan agama Druze dan menutup agama ini untuk pengikut baru pada tahun 1043, sehingga sejak saat itu orang diluar agama Druze tidak diperkenankan untuk masuk ke agama Druze ini.

Druze memiliki sejumlah keyakinan yang sangat menyimpang dari ajaran Islam. Berikut adalah beberapa doktrin utama mereka:

1. Keyakinan tentang Inkarnasi Allah. Druze percaya bahwa Allah menjelma dalam diri ‘Ali ibn Abi Thalib, kemudian berlanjut ke keturunannya, hingga mencapai al-Hakim bi Amrillah. Mereka juga meyakini bahwa al-Hakim akan kembali di akhir zaman.

2. Taqiyah (Penyamaran). Druze mempraktikkan taqiyah, yaitu menyembunyikan keyakinan mereka yang sebenarnya dan hanya mengungkapkan kepada anggota yang telah dipercaya. Ini menyebabkan kesulitan dalam mendeteksi keyakinan mereka yang sebenarnya. Druze sering kali berpura-pura sebagai pengikut Ahlul Bayt (keluarga Nabi Muhammad) untuk menarik simpati umat Islam. Namun, mereka secara bertahap memperkenalkan keyakinan yang lebih menyimpang, termasuk penghinaan terhadap para sahabat Nabi dan bahkan para nabi itu sendiri. Praktik ini menunjukkan sifat hipokrit dari misi mereka dan memang merupakan bagian dari keyakinan taqiyah pada agama Druze.

3. Interpretasi Esoterik (Baatiniyah) Mereka meyakini bahwa teks-teks syariat memiliki makna tersembunyi yang berbeda dari makna literalnya. Misalnya, shalat dianggap sebagai pengetahuan tentang rahasia mereka, bukan ibadah lima waktu. Puasa diartikan sebagai menyembunyikan rahasia mereka, dan haji dianggap sebagai kunjungan kepada pemimpin spiritual mereka.

4. Reinkarnasi (Tanāsus Ruh). Druze tidak mempercayai hari kebangkitan, surga, atau neraka. Sebaliknya, mereka percaya pada perpindahan jiwa manusia atau hewan ke tubuh lain setelah kematian.

5. Penolakan terhadap Ajaran Dasar Islam. Druze menolak banyak ajaran dasar Islam, termasuk keimanan kepada para nabi, malaikat, dan hari akhir. Mereka juga menghalalkan perbuatan maksiat, termasuk hubungan inses yang terjadi dalam konsep endogami mereka, yang jelas bertentangan dengan syariat Islam.

Ajaran Druze sangat dipengaruhi oleh filsafat Aristotelian dan doktrin Zoroastrianisme. Mereka mengadopsi pandangan materialistik tentang alam semesta dan kehidupan, dengan keyakinan bahwa dunia ini abadi dan berulang dalam siklus kelahiran dan kematian. Pandangan ini bertentangan langsung dengan ajaran Islam tentang penciptaan oleh Allah dan hari kebangkitan. Agama Druze tidak memiliki ritual ibadah formal. Ibadah mereka berupa kegiatan berkumpul di rumah doa (Khalwat) untuk diskusi dan membaca kitab mereka (Kitabul Hikmah/ Rasa’il Hikmah/ The Epistle of Wisdom) setiap Kamis malam. Komunitas Druze hidup dalam kelompok yang tertutup. Praktik endogami (pernikahan dalam komunitas sendiri, termasuk hubungan inses) menjadi salah satu aturan utama keyakinan mereka. Komunitas Druze juga beribadah dengan mengunjungi kuil-kuil yang didirikan diatas makam-makam tokoh mereka. Hal ini memperkuat pandangan ulama bahwa Druze adalah kelompok yang menyimpang secara moral dan akidah dari ajaran Islam, sehingga benar saja bahwa Druze adalah agama yang berbeda dari Islam.

Pengikut Druze dibagi menjadi dua golongan:

1. Uqqal, yaitu kelompok orang kalangan ulama Druze yang berhak membaca dan memahami kitab suci mereka.

2. Juhhal yaitu kelompok orang Druze kalangan awam yang tidak berhak membaca kitab suci mereka

Para ulama Islam telah lama menganggap Druze sebagai kelompok yang menyimpang dari ajaran Islam. Berikut adalah beberapa pandangan utama:

1. Kekufuran Druze. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah, Druze adalah kelompok kafir berdasarkan konsensus para ulama. Mereka tidak termasuk dalam kategori Ahlul Kitab atau kaum musyrikin biasa. Mereka dianggap sebagai kelompok murtad yang ajarannya bertentangan dengan dasar-dasar Islam.

2. Hukum terhadap Druze. Ibnu Taymiyah menjelaskan bahwa daging hewan yang disembelih oleh Druze tidak halal dikonsumsi, dan pernikahan dengan mereka tidak sah. Mereka juga tidak memenuhi syarat untuk membayar jizyah, karena mereka bukan bagian dari Ahlul Kitab. Hukuman bagi mereka adalah hukuman yang keras karena mereka dianggap sebagai ancaman bagi akidah umat Islam.

3. Kesesatan Akidah. Druze menolak prinsip-prinsip dasar Islam, seperti keesaan Allah dalam rububiyah, peribadatan, nama dan sifat Allah (tauhid), kenabian, dan kitab suci. Mereka juga mendistorsi ajaran Islam dengan memberikan interpretasi esoterik yang menyimpang terhadap teks-teks syariat.

Dukungan Druze Kepada Zionisme Israel

Dalam konteks modern, Druze memiliki hubungan yang unik dengan Zionisme Israel. Komunitas Druze di Israel dikenal memberikan dukungan dan loyalitas yang signifikan kepada Israel, termasuk melalui partisipasi aktif dalam dinas militer Angkatan Pertahanan Israel (IDF). Selain sebagai kewajiban legal, banyak anggota Druze melihat partisipasi ini sebagai peluang untuk mendapatkan pengakuan sosial dan memperkuat posisi komunitas mereka dalam struktur negara Israel. Dukungan politik Druze kepada Israel juga terlihat dalam keterlibatan mereka secara aktif di parlemen Israel dan kontribusi mereka dalam administrasi negara. Sebagian besar Druze di Israel mendukung kebijakan Zionisme Israel yang menjajah tanah Palestina. Hal ini menciptakan jarak antara komunitas Druze dengan komunitas Arab Palestina, meskipun mereka memiliki kesamaan etnis. Dalam beberapa kasus, Druze bahkan dianggap sebagai sekutu strategis Israel dalam mengontrol penduduk Palestina.

Sebagai penutup, akhirnya yang harus ditekankan adalah memahami bahwa Druze adalah kelompok yang berasal dari sekte esoterik dengan keyakinan dan praktik yang sangat menyimpang jauh dari ajaran Islam. Mereka tidak hanya menolak ajaran dasar Islam, tetapi juga mempromosikan ide-ide yang bertentangan dengan moralitas dan akhlak Islam. Para ulama sepakat bahwa Druze adalah bukan Islam.