Halaman

Rabu, 17 April 2019

Hakikat Manusia Menurut Mencius dan Mistisisme Tao

Oleh: Arif Wicaksa

Pengetahuan mengenai kehidupan Mencius atau Mengzi, cukup minim. Hingga saat ini, masih belum terdapat data yang valid dan terpercaya mengenai kapan Mencius lahir dan kapan pula dia wafat. Namun demikian, banyak orang yang berasumsi berdasarkan data tertentu bahwa Mencius hidup sekitar tahun 372 sebelum masehi hingga pada tahun 289 sebelum masehi. Berdasarkan kesepakatan ini, diketahui bahwa Mencius hidup pada masa pasca Confucius, sehingga pemikiran Mencius akan banyak merujuk pada pemikiran Confucius.


Mencius belajar pada murid-murid cucu Confucius. Mencius sendiri merasa agak sedikit kecewa, karena dia tidak bisa langsung mendapat pengajaran dari Confucius. Mencius sendiri diketahui juga memiliki murid yang jumlahnya cukup besar. Sebagai seorang filsuf, Mencius memiliki karya. Namun karya Mencius dianggap tidak memberikan penjelasan ataupun gambaran yang jelas mengenai metode pengajaran Mencius sebagai seorang guru. Dapat ditarik semacam simpulan bahwa, Mencius kurang memiliki atensi atau perhatian yang dalam pada seni pengajaran.


Mengenai kodrat sejati manusia, Mencius berusaha memberikan jawaban yang barangkali belum sempat dijawab oleh Confucius, yakni mengapa manusia mesti berbuat kebajikan. Confucius meyakini bahwa manusia adalah baik secara kodrati. Mencius cenderung memegang pendapat Confucius, namun Mencius memberikan pengayaan bahwa walaupun manusia secara kodrati adalah baik, terdapat kemungkinan yang mampu menjadikan manusia menyalahi kodratnya. Bagi Mencius, dalam satu kesatuan manusia yang berkodrat baik terdapat unsur yang tidak bisa dijelaskan apakah unsur tersebut baik atau tidak. Unsur yang tidak dapat digambarkan itu kemudian sangat bergantung pada pengendalian diri dan hawa nafsu untuk mengarahkannya pada kebaikan, jika pengendalian diri dan pengekangan hawa nafsu gagal dilakukan oleh manusia, maka dia akan terjerumus kedalam keburukan. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Mencius melihat kebajikan yang dilakukan manusia adalah upaya untuk menyelamatkan diri manusia itu sendiri dari kehancuran karena tidak mampu menciptakan keseimbangan dalam dirinya sendiri.

Menurut Mencius, terdapat tiga pandangan lain diluar pandangannya mengenai permasalahan kodrat manusia ini. Pandangan pertama menyatakan bahwa, manusia itu berkodrat tidak baik, namun tidak pula buruk. Pandangan kedua menyatakan bahwa kodrat manusia itu, bisa jadi baik tetapi bisa pula buruk. Pandangan ketiga yang menyatakan bahwa pada dasarnya, sebagian manusia berkodrat baik, dan sebagian lainnya berkodrat buruk. Pandangan mengenai kodrat manusia adalah arena perdebatan sengit diantara para filsuf Cina kuno tanpa terkecuali Mencius dengan pandangannya.

Selain ajaran Confucius dan Mencius, ada sebuah pemikiran atau faham yang cukup berkembang diwilayah cina, yaitu ajaran Tao. Faktor fundamental secara filosofis yang mempengaruhi ajaran Tao yaitu pemberontakan. Biasanya pemberontakan dilakukan oleh kalangan masyarakat kelas bawah terhadap kaum masyarakat kelas atas, seperti bangsawan atau ningrat yang dianggap mempermainkan masyarakat kelas bawah. Pemberontakan merupakan hal mendasar yang menjadi landasan munculnya faham Taoisme. Tokoh yang dinilai menjadi pemikir dari faham ini adalah Yang Chu.

Yang Chu sendiri sangat terpengaruh dari ajaran Lao Tzu yang menekankan bahwa kebahagiaan hakiki manusia bisa didapatkan melalui penyatuan manusia dengan alam. Bagi Lao Tzu, manusia dan alam adalah satu kesatuan yang berasal dari satu sumber universal yakni Tao. Tao adalah sumber dari segala sumber, Tao itu sederhana, Tao tidak memiliki bentuk, Tao tidak memiliki hasrat, Tao telah ada sebelum adanya langit dan bumi. Pemikiran ini kemudian menginspirasi Yang Chu yang merasa prihatin atas degradasi moral masyarakat dan eksploitasi yang dilakukan masyarakat kelas atas terhadap masyarakat kelas bawah. Yang Chu menyarankan bahwa pemberontakan harus dilakukan dan pemberontakan yang paling sesuai adalah melepaskan atribut hasrat duniawi dan kembali pada unsur universal demi melepaskan diri dari kesengsaraan duniawi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.