Oleh: Arif Wicaksa
Pada awal kemunculannya, internet dapat dimiliki dan digunakan oleh kalangan tertentu yang biasanya memiliki kemampuan ekonomi menengah keatas, dan itupun jumlahnya masih terbatas. Keadaan internet yang dimiliki oleh kalangan terbatas membuat internet dulu dipandang sebagai suatu hal yang tidak begitu signifikan dalam masyarakat, dan tidak berlebihan jika dikatakan internet pada masa itu tidak memiliki pengaruh yang besar dalam politik. Pada masa lalu, diawal kemunculannya, internet terpersepsikan sebagai elemen ”politik rendah” yang dikonotasikan tidak memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan politik.
Pada awal kemunculannya, internet dapat dimiliki dan digunakan oleh kalangan tertentu yang biasanya memiliki kemampuan ekonomi menengah keatas, dan itupun jumlahnya masih terbatas. Keadaan internet yang dimiliki oleh kalangan terbatas membuat internet dulu dipandang sebagai suatu hal yang tidak begitu signifikan dalam masyarakat, dan tidak berlebihan jika dikatakan internet pada masa itu tidak memiliki pengaruh yang besar dalam politik. Pada masa lalu, diawal kemunculannya, internet terpersepsikan sebagai elemen ”politik rendah” yang dikonotasikan tidak memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan politik.
Paling
tidak dalam dua dekade terakhir, terjadi lompatan yang sangat jauh terhadap
internet dan bagaimana internet digunakan. Internet tidak lagi menjadi barang
mewah yang dimiliki hanya oleh kalangan dengan ekonomi yang mapan. Internet
kini dimiliki oleh hampir seluruh lapisan masyarakat melalui tidak hanya komputer
namun juga telepon genggam yang berada persis didalam genggaman tangan
penggunanya.
Lompatan
dalam bidang internet, dan teknologi informasi secara umumnya, tentu
menimbulkan dampak yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Terjadinya peretasan
(hacking) jaringan internet yang dilakukan oleh pelaku yang seringkali tidak
diketahui identitas dan lokasinya merupakan kasus yang tidak bisa diabaikan,
karena ternyata peretasan tersebut tidak luput mengintai fasilitas internet
yang dimiliki oleh pemerintah. Merusak atau paling tidak “mengintip” informasi
penting berkaitan dengan keamanan, ekonomi, dan sebagainya merupakan hal yang
sering terjadi dalam dinamika internet dan segala hal yang berkaitan dengannya.
Hari
ini, internet merupakan basis utama dari suatu tren dunia dalam interaksi sosialnya,
yakni media sosial. Siapa sangka, suatu situs internet yang pada awalnya dirancang
untuk komunikasi dalam komunitas, kemudian bisa bertransformasi menjadi
kekuatan ekonomi bahkan politik yang sangat besar. Kemudahan dan kecepatan
akses membuat setiap informasi menjadi begitu mudah tersalurkan, perhatian
massa menjadi cepat terarahkan, opini pun mudah terbentuk/dibentuk. Fasilitas
yang terdapat pada sosial media ini kemudian menjadi semacam ruang baru bagi
kontestasi politik yang ternyata bisa dimanfaatkan oleh politikus untuk
berpolitik.
Dua
kondisi yang dipaparkan diatas, yakni pada level tinggi dipemerintahan maupun
pada level bawah dimasyarakat, sudah cukup menjadi landasan dalam memberikan
perhatian dan meninjau kembali konstruksi persepsi terhadap internet. Saat ini
internet ternyata menjadi ruang bagi terjadinya interaksi yang bisa memberikan
dampak terhadap proses-proses politik pada berbagai tingkatan dan lapisan
sosial.
Pertanyaan
penting yang harus ditanyakan adalah siapa, bagaimana, dan mengapa menggunakan
internet ? Sebagaimana layaknya politik secara tradisional yang biasanya
mengambil latar ruang dan tempat fisik, maka politik secara non-tradisional
kemudian hadir melalui transformasi terhadap konsep ruang dan tempat yang
ternyata tidak melulu mengenai fisik. Hal inilah yang penulis maksud dengan
meninjau kembali internet, ruang siber/digital tidak hanya sebagai instrumen
atau alat komunikasi belaka, namun menjadi arena bagi kontestasi politik.
Tentu
saja sebagaimana ruang dan tempat yang dipahami dalam politik secara
tradisional, internet sebagai ruang dan tempat non-tradisional sangat
memungkinkan untuk terjadi eksploitasi, marginalisasi, diskriminasi hingga
kolonialisasi. Kembali pada pertanyaan yang penulis tanyakan sebelumnya, siapa
aktor yang berperan dalam kontestasi ruang siber? Pertanyaan ini akan menghasilkan
banyak jawaban dan apabila pertanyaan itu diteruskan menjadi apakah aktor yang
terlibat memiliki akses, kapasitas dan kapabilitas yang sama? Tentu saja akan
menjadi perdebatan yang panjang karena betapa beragamnya aktor yang terlibat
beserta segala kuasa, sumber daya yang melekat pada aktor tersebut.
Tidak
berlebihan jika kemudian muncul istilah cyberpolitics atau politik-siber
yang merangkum dinamika yang terjadi disekitar dunia digital dan internet
karena memang pola yang terjadi adalah politik yang secara tradisional dapat
dimaknai sebagai upaya untuk mendapatkan kekuasaan dan bagaimana cara mempertahankannya
terjadi pada ruang dan arena yang baru, ruang-siber (cyberspace).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.