Halaman

Senin, 15 April 2019

Cyberpolitics: Sebuah Sketsa Pengantar Konstruksi Arena Politik Kontemporer

Oleh: Arif Wicaksa

Pada awal kemunculannya, internet dapat dimiliki dan digunakan oleh kalangan tertentu yang biasanya memiliki kemampuan ekonomi menengah keatas, dan itupun jumlahnya masih terbatas. Keadaan internet yang dimiliki oleh kalangan terbatas membuat internet dulu dipandang sebagai suatu hal yang tidak begitu signifikan dalam masyarakat, dan tidak berlebihan jika dikatakan internet pada masa itu tidak memiliki pengaruh yang besar dalam politik. Pada masa lalu, diawal kemunculannya, internet terpersepsikan sebagai elemen ”politik rendah” yang dikonotasikan tidak memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan politik.

Paling tidak dalam dua dekade terakhir, terjadi lompatan yang sangat jauh terhadap internet dan bagaimana internet digunakan. Internet tidak lagi menjadi barang mewah yang dimiliki hanya oleh kalangan dengan ekonomi yang mapan. Internet kini dimiliki oleh hampir seluruh lapisan masyarakat melalui tidak hanya komputer namun juga telepon genggam yang berada persis didalam genggaman tangan penggunanya.


Lompatan dalam bidang internet, dan teknologi informasi secara umumnya, tentu menimbulkan dampak yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Terjadinya peretasan (hacking) jaringan internet yang dilakukan oleh pelaku yang seringkali tidak diketahui identitas dan lokasinya merupakan kasus yang tidak bisa diabaikan, karena ternyata peretasan tersebut tidak luput mengintai fasilitas internet yang dimiliki oleh pemerintah. Merusak atau paling tidak “mengintip” informasi penting berkaitan dengan keamanan, ekonomi, dan sebagainya merupakan hal yang sering terjadi dalam dinamika internet dan segala hal yang berkaitan dengannya.

Hari ini, internet merupakan basis utama dari suatu tren dunia dalam interaksi sosialnya, yakni media sosial. Siapa sangka, suatu situs internet yang pada awalnya dirancang untuk komunikasi dalam komunitas, kemudian bisa bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi bahkan politik yang sangat besar. Kemudahan dan kecepatan akses membuat setiap informasi menjadi begitu mudah tersalurkan, perhatian massa menjadi cepat terarahkan, opini pun mudah terbentuk/dibentuk. Fasilitas yang terdapat pada sosial media ini kemudian menjadi semacam ruang baru bagi kontestasi politik yang ternyata bisa dimanfaatkan oleh politikus untuk berpolitik.

Dua kondisi yang dipaparkan diatas, yakni pada level tinggi dipemerintahan maupun pada level bawah dimasyarakat, sudah cukup menjadi landasan dalam memberikan perhatian dan meninjau kembali konstruksi persepsi terhadap internet. Saat ini internet ternyata menjadi ruang bagi terjadinya interaksi yang bisa memberikan dampak terhadap proses-proses politik pada berbagai tingkatan dan lapisan sosial.

Pertanyaan penting yang harus ditanyakan adalah siapa, bagaimana, dan mengapa menggunakan internet ? Sebagaimana layaknya politik secara tradisional yang biasanya mengambil latar ruang dan tempat fisik, maka politik secara non-tradisional kemudian hadir melalui transformasi terhadap konsep ruang dan tempat yang ternyata tidak melulu mengenai fisik. Hal inilah yang penulis maksud dengan meninjau kembali internet, ruang siber/digital tidak hanya sebagai instrumen atau alat komunikasi belaka, namun menjadi arena bagi kontestasi politik.

Tentu saja sebagaimana ruang dan tempat yang dipahami dalam politik secara tradisional, internet sebagai ruang dan tempat non-tradisional sangat memungkinkan untuk terjadi eksploitasi, marginalisasi, diskriminasi hingga kolonialisasi. Kembali pada pertanyaan yang penulis tanyakan sebelumnya, siapa aktor yang berperan dalam kontestasi ruang siber? Pertanyaan ini akan menghasilkan banyak jawaban dan apabila pertanyaan itu diteruskan menjadi apakah aktor yang terlibat memiliki akses, kapasitas dan kapabilitas yang sama? Tentu saja akan menjadi perdebatan yang panjang karena betapa beragamnya aktor yang terlibat beserta segala kuasa, sumber daya yang melekat pada aktor tersebut.

Tidak berlebihan jika kemudian muncul istilah cyberpolitics atau politik-siber yang merangkum dinamika yang terjadi disekitar dunia digital dan internet karena memang pola yang terjadi adalah politik yang secara tradisional dapat dimaknai sebagai upaya untuk mendapatkan kekuasaan dan bagaimana cara mempertahankannya terjadi pada ruang dan arena yang baru, ruang-siber (cyberspace).

Pada akhirnya, “ruang” dan “tempat” baru yang disebut ruang-siber bisa memberikan keuntungan dan kerugian sebagaimana ruang dan tempat politik secara tradisional. Apa yang harus diperhatikan dimasa depan adalah bagaimana cara agar keuntungan yang didapatkan dari internet, bisa maksimal dan merata. Pada sisi lain, bagaimana cara agar kerugian akibat internet dapat diminimalisir? Tentu pertanyaan-pertanyaan ini sangat terbuka bagi mereka yang ingin melakukan penelaahan lebih jauh tentang internet dan politik-siber.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.