Halaman

Jumat, 02 Oktober 2020

Aliran Religi Jepang (Shinto, Buddha, Kristen, Neo-Confusius)

Religi Jepang Pada Masa Tokugawa

Pada dasarnya, religi yang menjadi acuan di Jepang adalah pemujaan terhadap leluhur. Nilai-nilai pemujaan terhadap leluhur ini, merupakan cara bagi bangsa Jepang, pada masanya dalam rangka mengenang dan mengingat arti garis leluhur yang dianggap sakral dan dan suci, dan secara prinsipal merupakan representasi dari tanggung jawab oleh seluruh keluarga terhadap leluhur. Namun pada masa Tokugawa ini, terjadi peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan keagamaan, seperti ultimatum bahwa agama Budha ditetapkan sebagai agama Negara oleh rejim Tokugawa pada masa itu. Dengan dikeluarkannya pernyataan ultimatum tersebut, menimbulkan berbagai penolakan-penolakan, terutama dari kalangan fundamentalis atau radikal, namun penolakan atau penentangan terhadap ultimatum ini pada kenyataannya tidaklah dengan terang-terangan, hal ini disebabkan karena kelompok penentang pada dasarnya merasa khawatir terhadap posisinya. 

Apabila penjelasan mengenai religi Jepang pada masa Tokugawa dijelaskan dengan poin-poin religi yang berlaku dan dianut masyarakat Jepang, maka dapat digambarkan bahwa religi-religi yang berlaku sebagai berikut :

Shinto

Pada dasarnya, ajaran tentang Shinto adalah ajaran yang mendasar yang mana tidak diketahui dengan pasti siapa pembawa ajaran ini. Namun, dapat ditarik pernyataan bahwa ajaran Shinto lahir dari pertemuan antara kebudayaan asli dari tradisi-tradisi Jepang terhadap pengaruh-pengaruh eksternal yang datang dari luar. Ajaran Shinto pada dasarnya mengarah pada ajaran-ajaran animisme dan dinamisme. Dalam ajaran Shinto, terdapat konsep tentang tuhan atau dewa, yaitu Kami. Dewa Matahari atau Dewa Amaterasu yang dalam istilah Jepang dikenal dengan Amaterasu Omikami merupakan dewa atau kami paling penting bagi bangsa Jepang. Namun masih terdapat Kami-Kami lain didalam kepercayaan religious dari bangsa Jepang, seperti Kami Leluhur dan Kami Pelindung.

Budha

Masuknya ajaran Budhisme atau Budha ke Jepang, berasal dari India, tepatnya sudah masuk sejak abad 6 Sebelum Masehi. Terdapat banyak variasi didalam ajaran Budha, namun ajaran yang berkembang dan dianut oleh bangsa Jepang pada masa Tokugawa adalah ajaran Zen Budha, yang mana didalam ajaran Zen Budha mengutamakan meditasi didalam mencari pencerahan bagi diri sendiri, tanpa pengaruh-pengaruh dari luar. Pada dasarnya ajaran Zen Budha tidak terlalu menekankan pemahaman tentang Tuhan tetapi lebih memberikan pemahaman mengenai alam sebagai guru.

Kristen

Ajaran Kristen masuk ke Jepang seiring dengan masuknya orang-orang Eropa di Kyushu dengan misi 3G nya (1542). Namun didalam penyebarannya, ajaran Kristen ini mendapat penolakan, terutama dari pemerintah, karena dianggap dapat mempengaruhi pemikiran bangsa Jepang.

Neo-Confusius

Dalam pembahasan religi pada masa Tokugawa di Jepang, dinilai cukup relevan untuk memasukkan pembahasan mengenai neo-Confusianisme di Jepang, walaupun pada dasarnya neo-Confusianisme di Jepang, bukanlah suatu agama, tetapi ajaran ini telah menjadi pandangan hidup. Seperti ajaran Bushido yang merupakan adaptasi dari ajaran Confusius.

---------------------------------------------

Didalam religi Jepang, yang merupakan suatu kesatuan, yang mana didalam kenyataanya terdapat banyak perbedaan, yang menjadi suatu keberagaman tersendiri. Dalam pandangan mengenai Tuhan, religi Jepang memiliki dua pandangan atau dua konsep mengenai ketuhanan, konsep pertama adalah bahwa Tuhan merupakan kesatuan yang mempunyai tingkatan yang lebih tinggi yang memelihara, memberikan perlindungan dan cinta kasih, seperti dewa-dewa langit dan dewa-dewa bumi yang terdapat diajaran Shinto, Confusius, Budha, hingga arwah para nenek moyang.



Konsep atau pemahaman kedua pada dasarnya merupakan konsep yang tidak dianggap sebagai suatu konsep atau pandangan yang bertentangan dengan konsep pertama, yang mana konsep kedua memiliki persepsi bahwa Tuhan adalah dasar dari segala sesuatu yang ada dan merupakan inti terdalam dari realitas. Dalam konsep kedua ini, terkandung pemahaman bahwa Tuhan dalam bberbagai wujudnya memberikan rahmat atau berkah, dan sudah menjadi keharusan bagi manusia yang menerima berkah tersebut untuk membalas  berkah dari Tuhan. Kegiatan-kegiatan religious, dipercaya sebagai suatu tanda bagi manusia dalam membalas kemurahan dan berkah dari Tuhan, namun didalam konsep ini terkandung bahwa manusia merupakan makhluk yang sangat lemah dan tidak berdaya, sehingga setiap balasan yang ditujukan untuk membalas kemurahan dan berkah dari Tuhan dianggap sangat kecil nilainya, dan secara tidak langsung menyatakan bahwa manusia tidak mampu membalas berbagai kemurahan dan berkah dari Tuhan, namun perbuatan pengabdian diri sepenuhnya kepada Tuhan dianggap suatu cara bagi manusia didalam melenyapkan kelemahannya sebagai manusia. Selain kedua konsep diatas, terdapat pula konsep mengenai alam, bahwa alam merupakan kekuatan pemelihara yang harus dihargai oleh manusia, dan alam merupakan perwujudan dari sumber-sumber kehidupan.

Berdasarkan pemaparan ringkas diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya religi di Jepang pada hakekatnya merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari banyak paham pemikiran yang menyebabkan variasi religi maupun pemahaman, yang mana dalam konsep ini yaitu pada masa rejim Tokugawa (1603-1868), yang secara langsung mengeluarkan ultimatum bahwa ajaran Budha, merupakan ajaran atau agama resmi Negara, namun walaupun demikian halnya, masih terdapat ajaran-ajaran lain yang bernilai religius, yang berkembang di Jepang pada masa Tokugawa yang sedikit banyaknya telah memberikan sumbangsih pemikiran didalam pemikiran bangsa Jepang. Dan ajaran-ajaran tentang konsep ketuhanan yang dianut oleh bangsa Jepang, yang secara garis besar dapat dibagi menjadi dua konsep, dan ditambah dengan pemahaman mengenai alam.

Kamis, 01 Oktober 2020

Jepang, Shintoisme dan Ragam Falsafah Kemasyarakatannya

Sejarah Jepang menunjukkan bahwa ajaran Shinto menampilkan suatu kultus Negara dari religi kesukuan yang primitif yang eksis pada masa tersebut. Sementara dalam tahapan awal perkembangan nya, para penganut ajaran Shinto yang diyakini oleh orang-orang Yamato, berupaya untuk memperkuat hegemoninya terhadap agama di Jepang. Dalam rangka upaya tersebut, mereka bergerak pada lingkup politik dan mereka berhasil dalam memciptakan mitologi mereka sendiri, yang pada dasarnya mencakup terhadap hubungan politik terhadap Negara yaitu dengan menghubungkan kekuasaan dari Dewa Amaterasu Omikami atau Dewa Matahari dan dewa-dewa leluhur mereka sebagai dewa yang lebih tinggi dan utama ketimbang dewa-dewa lainnya.





Kaum Yamato juga merancang suatu konsep pimpinan yang mempengaruhi kekuasaan politik  yang menduduki jabatan religius dan suci. Didalam tugas-tugas pemimpin politik yang dianggap suci, ada pula tugas sebagai pendeta/ suhu agung kultus Negara. Matsurigo, atau yang dalam bahasa Jepang berarti pemerintahan, juga memiliki arti ibadat religius atau pemujaan. Dalam pembahasan mengenai Shintoisme dan Negara Jepang, ada pengaruh agama atau ajaran lain, yaitu agama yang sempat mempengaruhi Cina, yaitu ajaran Confusius menjelang abad ke-17, yang mana ajaran ini melahirkan suatu konstitusi Shotoku Taishi yang dikeluarkan pada tahun 604 Masehi. Meskipun mengandung elemen-elemen Confusius dan Budha, pada kenyataannya corak Confusius bisa dikatakan lebih besar pengaruhnya pada nilai sosial misalnya pengakuan setiap orang terhadap kekuasaan tertinggi dari Kaisar.

Bushido

Secara istilah, Bushido memiliki makna Jalan Prajurit atau Jalan Ksatria, merupakan poin penting dalam mempelajari ajaran-ajaran pada masa Tokugawa atau pada masa Jepang Modern. Hal ini dikarenakan oleh nilai-nilai dasar Bushi dan Samurai yang melekat pada masyarakat Jepang. Etika Bushido telah menjadi etika nasional Jepang, hal ini dikemukakan oleh Kawakami Tasuke yang dikutip didalam buku Robert N. Bellah yang berjudul ‘Religi Jepang Pada Masa Tokugawa : Akar-Akar Budaya Jepang’ yang menulis bahwa “Bushido yang pada awalnya berkembang dari kebutuhan-kebutuhan praktis para prajurit, selanjutnya dipopulerkan oleh ide-ide moral Confusius tidak hanya sebagai moralitas kelas prajurit, tetapi juga sebagai landasan moral nasional’ Bushido disusun pada awal abad 18 di wilayah Nabeshima, provinsi Hizen, Kyusu. Bushido dikenal dengan sumpahnya yang menggambarkan nilai-nilai kesetiaan, yaitu :
    1. Kita tidak akan kalah dibandingkan dengan siapapun dalam pelaksanaan kewajiban kita.
    2. Kita akan membuat diri kita berguna bagi pangeran kita.
    3. Kita akan patuh pada orang tua kita.
    4. Kita akan mencapai kejayaan dalam derma.

Sonno dan Kokutai

Pada masa Tokugawa menjadi saksi dari perkembangan sikap baru terhadap Kaisar dan konsep Politik religius baru tentang Negara. Dua hal yang memiliki pengaruh adalah jargon ‘Sonno’ atau pemujaan Kaisar, yang merepresentasikan perhatian baru yang besar terhadap Kaisar dan jargon ‘Kokutai’ yang secara harfiah berarti Badan Nasional. Aliran Kokugaku mulai dengan minat yang baru terhadap sejarah Jepang, kesusastraan dan agama yang berkembang pada abad ke-17, yang mana ajaran ini didirikan oleh Keichu (1640-1701) dan Kada Azumamaro (1668-1736). Gerakan Kokugaku merupakan gerakan yang bersifat politik dan religius, yang memiliki misi untuk menghidupkan kembali budaya-budaya Jepang kuno, dan ajarannya menolak nilai-nilai ajaran Confusianisme dan Budhisme, yang pada dasarnya lebih dahulu mempengaruhi budaya Jepang, sehingga mengakibatkan ketidak sesuaian terhadap masyarakat Jepang yang justru lebih cenderung terhadap Shintoisme, sehingga Kokugaku bisa dianggap sebagai semacam gerakan ‘Ratu Adil’.


Shintoisme, Konfusianisme dan Ekonomi

Pada dasarnya, ajaran Shinto di Jepang tidak hanya berfungsi sebagai nilai-nilai kepercayaan agama, tetapi ajaran Shintoisme telah memberi pengaruh pada setiap segi kehidupan di Jepang, termasuk ekonomi. Bahkan ajaran Shinto menjadi landasan dalam akitifitas ekonomi di Jepang. Hubungan antara ekonomi dan Negara dapat dipahami melalui teori Confusius yang mempunyai pengaruh yang dinilai cukup besar di Jepang. Dasar pemikiran Confusius mengenai hal ini adalah ‘Kemanunggalan Ekonomi dan Negara’. Maka pada masa Tokugawa, dalam penggunaan modernnya, kata Keizai memiliki makna sebagai Ekonomi, sementara didalam ungkapan Dazai Shundai berarti ‘memerintah kekaisaran dan membantu rakyat’ sementara para penganut pemikiran Confusius memandang adanya kaitan yang langsung antara kesejahteraan ekonomi dan moralitas, dan nilai ajaran inilah yang dianggap diatas segalanya, yang mana menurut pemikiran para penganut ajaran Confusius memiliki kontribusi dalam menentukan nilai politik dari kehidupan ekonomi.

Pemerintahan Tokugawa juga menerapkan konsep ekonomi rakyat, hal ini dikarenakan anggapan Tokugawa bahwa rakyat harus memiliki tingkat kesejahteraan hidup tertentu, apabila hal ini tidak terlaksana, maka dikhawatirkan rakyat akan menjadi ‘tidak bisa diatur’ sehingga sedikit banyaknya dinilai juga akan mempengaruhi stabilitas pemerintahan Tokugawa. Inti dari kebijakan para penganut ajaran Confusius yang disusun dalam menjamin stabilitas politik tercakup dalam pernyataan dari Ta HsUeh yang sangat sering dikutip, bahwa sebenarnya terdapat jalan utama (tao) untuk menghasilkan kekayaan, yang hendaknya produsen lebih banyak ketimbang konsumen, banyak kegiatan produksi, tetapi tetap menerapkan penghematan dalam pembelanjaan, sehingga akan selalu cukuplah kekayaan yang ada.

Konsep Shingaku

Shingaku pada dasarnya merupakan gerakan yang dimulai ketika Ishida Baigan (1685-1744) yang memajang papan namanya dan memberikan pemahaman dan ajarannya melalui ceramah. Ceramah umum pertamanya pada tahun 1729. Hingga pada awal abad ke19 telah ada banyak tempat ceramah Shingaku diseluruh wilayah Jepang, bahkan setelah pendirinya wafat yaitu Ishida Baigan. Hal ini dikarenakan ajaran Shingaku menarik banyak orang dan menjadi pergerakan yang besar pada masa Tokugawa. Dari segi penyampaian, tidak hanya berbatas pada ceramah, tetapi telah mencakup media baca, yang juga banyak dibaca oleh kalangan umum yang luas. Pada dasarnya konsep Shingaku yang diperkenalkan oleh Ishida Baigan mempelajari mengenai hati. Didalam ajarannya terdapat nilai bahwa orang baik, hatinya akan menyatu dengan langit dan bumi, beserta segala hal, tidak ada sesuatu apapun yang dikatakan bukan dirinya, sehingga manusia bisa menembus batas langit dan bumi dengan hatinya. 

Berdasarkan pemaparan ringkas diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya setiap lini kehidupan di Jepang, terdapat pengaruh-pengaruh dari ajaran dan nilai-nilai Shintoisme, mulai dari implementasi ajaran Shintoisme dalam hal kenegaraan, hingga ekonomi, yang sedikit banyaknya dikaji didalam ajaran Shintoisme, dan Shintoisme memang memiliki corak tersendiri didalam memandang persoalan Negara, seperti konsepsi Bushido atau Jalan Ksatria, yang sangat melekat pada masyarakat Jepang, ditambah dengan slogan Sonno dan Kokutai, yang memiliki kontribusi tersendiri didalam Negara Jepang. Dari bidang lain, yaitu ekonomi, yang juga diresapi dari ajaran-ajaran Shintoisme, yang secara mendasar memiliki ajaran untuk mensejahterakan rakyat, hingga pada konsep Shingaku yang dinilai sebagai suatu pergerakan yang besar pada masa Tokugawa, dan cukup menarik minat masyarakat Jepang pada masanya.