Beberapa minggu lalu, saya melihat berita tentang respon masyarakat Amerika Serikat terhadap Covid-19 dimana masyarakat disana dengan panik membeli kebutuhan-kebutuhan pokok, seperti obat-obatan, makanan dan tisu toilet.
Hal yang unik adalah, viral di media sosial Amerika Serikat bahwa terjadi krisis tisu toilet disana bahkan hingga detik ini. Warga Amerika secara berbondong-bondong menyerbu toko-toko kebutuhan rumah tangga untuk memborong tisu toilet sebanyak mungkin. Mungkin teman-teman pernah melihat video dimana warga Amerika Serikat sana saling baku hantam karena berebut tisu toilet. Mereka begitu panik dengan menipisnya persediaan tisu toilet dan panik mencari penggantinya. Bersyukur kita orang Indonesia terbiasa menggunakan air untuk membersihkan diri hehe.
Setelah pembelian besar-besaran tisu toilet, terjadi juga peningkatan tajam terhadap permintaan senjata api. Ya pistol, senapan, peluru dan semacamnya! Media Amerika Serikat seperti The New York Times memberitakan bahwa sejak pertengahan maret hingga saat ini, terjadi lonjakan besar terhadap permintaan senjata api. Ya, saat ini masyarakat Amerika Serikat sedang panic-buying senjata api.
Menurut pemilik toko senjata "Hyatt Guns" dari Carolina Utara, masyarakat membeli senjata api tidak seperti biasanya, bukan jenis senjata yang dibeli untuk berburu melainkan senjata api yang sifatnya ditujukan untuk perang atau kerusuhan.
Data penyebaran Covid-19 beserta korbannya secara global menempatkan Amerika Serikat pada posisi teratas dunia sebagai negara paling parah kasus Covid-19 nya. Hal ini berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat Amerika Serikat pada pemerintahnya. Kiranya menurut salah seorang warga Amerika, Amerika saat ini berada dalam ketakutan dan mereka harus melindungi dirinya sendiri.
Tidak hanya sampai disitu, pembelian senjata api secara besar-besaran di Amerika Serikat juga meluas hingga menyerempet fenomena rasisme. Diketahui bahwa pembelian senjata secara masif di wilayah Washington dan California didominasi oleh pembeli dengan ras Asia. Mereka khawatir jadi sasaran amukan warga Amerika dengan ras non-Asia khususnya warga kulit putih. Barangkali sikap rasisme ini diperparah dengan pernyataan Presiden Trump beberapa waktu yang lalu bahwa Coronavirus adalah Virus orang Cina (Chinese Virus) dan ini adalah pernyataan yang rasis. Pada sisi lain, Pemerintah Cina di Beijing sendiri sempat menuduh bahwa virus Corona adalah senjata biologis yang dibawa Amerika Serikat ke Cina. Siapa sangka dibalik pandemi virus Corona ini membuka fenomena lain yang juga bombastis seperti rasisme, persaingan ekonomi antar negara hingga krisis transparansi pengelolaan pemerintahan?
Pada akhirnya, kita semua berharap kecemasan dan ketakutan hingga kekerasan yang terjadi di Amerika Serikat dan negara lain, tidak terjadi di Indonesia. Semoga bangsa Indonesia yang dikenal dengan keluhuran budi, bisa saling bahu-membahu antar masyarakat dan pemerintah untuk menghadapi pandemi Corona ini bukannya bersikap egois dan individualis. Semoga pandemi ini berakhir segera.
Khususnya umat Islam, sudah sangat rindu dengan kehadiran ramadhan. Corona cukup mengguncang semangat ramadhan yang sebentar lagi akan menghampiri kaum muslimin dengan isu tidak diadakannya tarawih, kajian, buka puasa bersama dan segala semarak ramadhan lainnya. Semoga itu semua hanya wacana, dan kita bisa menyambut ramadhan dengan khusyuk dan bebas Corona.