Halaman

Jumat, 03 April 2020

Danzo Shimura: Si Pejabat Tua Perusak Desa Konoha

Danzo Shimura, salah satu karakter dalam serial komik Jepang (Manga) yang berjudul Naruto. Generasi milenial dan anak muda pasti sebagian besarnya sudah tidak asing lagi dengan komik atau anime (kartun Jepang) Naruto.



Danzo adalah orang tua yang sangat disegani di Desa Konoha. Ia adalah teman dari pemimpin desa, Sang Hokage. Saking hebatnya, Danzo bisa membuat kebijakan-kebijakan yang berdampak besar pada desa hingga pemimpin desa, Sang Hokage menjadi seolah tak berdaya. Bisa dikatakan Danzo adalah pemimpin desa dibalik layar.

Banyak kekacauan dalam serial Naruto disebabkan oleh ulah Danzo ini. Mulai dari pembantaian Klan Uchiha, kekacauan dalam Desa Konoha hingga perang dunia. Semuanya itu melibatkan Danzo. Padahal dari segi pemerintahan Konoha, siapalah Danzo ini. Dia bukan siapa-siapa tapi kekuatannya cukup bisa membungkam Sang Hokage.

Pada akhirnya, nasib Danzo tidak berakhir baik. Danzo yang culas dan haus kekuasaan akhirnya tewas ditangan Sasuke Uchiha. Banyak rencana Danzo yang akhirnya gagal.

Meskipun Danzo telah tiada, tapi warisan kejahatannya masih sulit dikikis dari Desa Konoha. Masalah-masalah yang datang kemudian setelah Danzo wafat adalah masalah yang dulu sudah direncanakannya. Jangan jadi Danzo yang licik dan haus kekuasaan.

Aplikasi Zo*m : Antara Corona dan Cina

Ditengah pandemi Covid-19, masyarakat dunia dipaksa untuk beradaptasi pada banyak hal mulai dari persoalan rumah tangga, hingga urusan kenegaraan sekalipun. Urusan pendidikan juga tak luput dari tuntutan adaptasi karena Covid-19 ini.

Salah satu bentuk adaptasi dalam dunia pendidikan Indonesia khususnya dalam menghadapi pandemi Covid-19 adalah pemerintah menghimbau bahkan mewajibkan instansi pendidikan untuk melakukan proses belajar mengajar secara dalam jaringan (daring) atau online.

Tentu masih banyak insan pendidikan yang belum terbiasa dengan metode daring dalam pendidikan dan pengajaran sehingga wajar saja jika ada yang masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri untuk metode pengajaran daring ini.

Aplikasi Zo*m menjadi populer beberapa hari terakhir ini sebagai aplikasi untuk melakukan tatap muka secara daring dalam proses belajar. Benar-benar sebuah kemudahan yang membahagiakan.



Kemunculan aplikasi Zo*m ini sayangnya juga membawa beberapa masalah. Belakangan ini, terdapat laporan yang menyatakan bahwa aplikasi Zo*m secara rahasia mengirimkan data-data sensitif para penggunanya ke Cina. Tentu saja isu ini membuat resah para pengguna aplikasi Zo*m.

Bill Marzack dan John Scott-Railton dari Universitas Toronto di Kanada menyatakan bahwa mereka tidak merekomendasikan penggunaan aplikasi Zo*m khususnya bagi organisasi pemerintahan di Amerika Serikat sebagaimana yang dikutip oleh situs forbes.com.

Menanggapi hal ini, CEO Zo*m menyatakan bakal memeriksa dan memastikan permasalahan tersebut, mengapa data-data sensitif pengguna aplikasi bisa terkirim ke Cina. Dia juga menekankan bahwa data pengguna akan dilindungi.

Sebagai pengguna aplikasi ini lantas apa yang harus saya lakukan? Ya jika pertanyaan itu ditujukan ke saya, maka saya katakan bahwa saya tetap akan menggunakan Zo*m. Emangnya saya siapa sampai datanya bisa berguna bagi pemerintah Cina? (wkwk πŸ˜‚). Lagipula, kasus kebocoran data pengguna aplikasi berbasis internet tidak hanya terjadi pada aplikasi Zo*m. Mungkin teman-teman masih ingat beberapa waktu lalu, pesbuk menerima tuntutan dari warga Amerika Serikat karena dituduh telah membocorkan data-data penting pada pihak lain. So, pada dasarnya setiap aplikasi berbasis internet punya kemungkinan untuk membocorkan data kita pada pihak lain, maka dari itu barangkali sebaiknya kita tidak perlu memasukkan data-data sensitif kedalam internet. Tidak perlu menanggapi dengan panik dan berlebihan.

Virus Corona di Amerika Serikat: Dari tisu toilet, senjata api hingga rasisme

Beberapa minggu lalu, saya melihat berita tentang respon masyarakat Amerika Serikat terhadap Covid-19 dimana masyarakat disana dengan panik membeli kebutuhan-kebutuhan pokok, seperti obat-obatan, makanan dan tisu toilet.

Hal yang unik adalah, viral di media sosial Amerika Serikat bahwa terjadi krisis tisu toilet disana bahkan hingga detik ini. Warga Amerika secara berbondong-bondong menyerbu toko-toko kebutuhan rumah tangga untuk memborong tisu toilet sebanyak mungkin. Mungkin teman-teman pernah melihat video dimana warga Amerika Serikat sana saling baku hantam karena berebut tisu toilet. Mereka begitu panik dengan menipisnya persediaan tisu toilet dan panik mencari penggantinya. Bersyukur kita orang Indonesia terbiasa menggunakan air untuk membersihkan diri hehe.

Setelah pembelian besar-besaran tisu toilet, terjadi juga peningkatan tajam terhadap permintaan senjata api. Ya pistol, senapan, peluru dan semacamnya! Media Amerika Serikat seperti The New York Times memberitakan bahwa sejak pertengahan maret hingga saat ini, terjadi lonjakan besar terhadap permintaan senjata api. Ya, saat ini masyarakat Amerika Serikat sedang panic-buying senjata api.



Menurut pemilik toko senjata "Hyatt Guns" dari Carolina Utara, masyarakat membeli senjata api tidak seperti biasanya, bukan jenis senjata yang dibeli untuk berburu melainkan senjata api yang sifatnya ditujukan untuk perang atau kerusuhan.

Data penyebaran Covid-19 beserta korbannya secara global menempatkan Amerika Serikat pada posisi teratas dunia sebagai negara paling parah kasus Covid-19 nya. Hal ini berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat Amerika Serikat pada pemerintahnya. Kiranya menurut salah seorang warga Amerika, Amerika saat ini berada dalam ketakutan dan mereka harus melindungi dirinya sendiri.

Tidak hanya sampai disitu, pembelian senjata api secara besar-besaran di Amerika Serikat juga meluas hingga menyerempet fenomena rasisme. Diketahui bahwa pembelian senjata secara masif di wilayah Washington dan California didominasi oleh pembeli dengan ras Asia. Mereka khawatir jadi sasaran amukan warga Amerika dengan ras non-Asia khususnya warga kulit putih. Barangkali sikap rasisme ini diperparah dengan pernyataan Presiden Trump beberapa waktu yang lalu bahwa Coronavirus adalah Virus orang Cina (Chinese Virus) dan ini adalah pernyataan yang rasis. Pada sisi lain, Pemerintah Cina di Beijing sendiri sempat menuduh bahwa virus Corona adalah senjata biologis yang dibawa Amerika Serikat ke Cina. Siapa sangka dibalik pandemi virus Corona ini membuka fenomena lain yang juga bombastis seperti rasisme, persaingan ekonomi antar negara hingga krisis transparansi pengelolaan pemerintahan?

Pada akhirnya, kita semua berharap kecemasan dan ketakutan hingga kekerasan yang terjadi di Amerika Serikat dan negara lain, tidak terjadi di Indonesia. Semoga bangsa Indonesia yang dikenal dengan keluhuran budi, bisa saling bahu-membahu antar masyarakat dan pemerintah untuk menghadapi pandemi Corona ini bukannya bersikap egois dan individualis. Semoga pandemi ini berakhir segera.

Khususnya umat Islam, sudah sangat rindu dengan kehadiran ramadhan. Corona cukup mengguncang semangat ramadhan yang sebentar lagi akan menghampiri kaum muslimin dengan isu tidak diadakannya tarawih, kajian, buka puasa bersama dan segala semarak ramadhan lainnya. Semoga itu semua hanya wacana, dan kita bisa menyambut ramadhan dengan khusyuk dan bebas Corona.

Rabu, 01 April 2020

Opini Pekanan Arif (Oppa Arif) : Pendapat Dokter Amerika tentang Covid-19 (Virus Corona)

Judul tulisan ini Opini Pekanan, tapi kenyataannya saya tidak istiqomah menulis setiap pekan. What a shame. Harap maklum saja ya teman-temanπŸ˜….

Anyway, mari kita mulai. Hari ini iseng-iseng melihat berita internasional tentang pandemi global saat ini. Ya, Covid-19. Ada sebuah berita yang berisi wawancara ke seorang ahli vaksin dari Sekolah Kedokteran Universitas George Washington di Amerika Serikat sana bernama Dr. Peter Hotez.



Yang menarik dari wawancara terhadap Dr. Hotez adalah bahwa sebenarnya virus Corona ini sudah diketahui lebih dari 10 tahun lalu. Dr. Hotez termasuk salah satu peneliti yang meneliti virus ini. Namun beberapa tahun silam ketika Dr. Hotez mengajukan proposal pendanaan ke Pemerintah Amerika Serikat untuk riset tingkat lanjutan terhadap virus Corona, proposalnya ditolak oleh pemerintah Amerika Serikat pada saat itu sehingga riset lanjutan batal dilaksanakan. Maklum. Anggaran riset ilmiah memang seringkali bukan prioritas pada beberapa negara (hehee πŸ˜‹). Dr. Hotez berandai jika saja riset Covid-19 ini diteruskan sekitar 10 tahun lalu, barangkali fenomena pandemi global saat ini tidak terjadi.

Poin kedua adalah, Dr. Hotez menyatakan terdapat miskonsepsi yang beredar ditengah masyarakat bahwa kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap Covid-19 adalah orang-orang tua atau kelompok lansia. Dr. Hotez menyatakan bahwa kenyataannya, lebih dari seperempat pasien Corona di Amerika Serikat menurut Pusat Pengendalian Wabah Penyakit (Center for Disease Control) adalah masyarakat golongan muda dengan usia antara 20 hingga 40 tahun. Jadi, yang merasa usianya masih muda, jangan anggap remeh Covid-19 namun juga jangan panik berlebihan.

Poin ketiga yang saya soroti dari wawancara terhadap Dr. Hotez adalah, dengan teknologi dan informasi yang dimiliki negara barat khususnya Amerika Serikat saat ini, vaksin untuk Covid-19 dapat dihasilkan dan digunakan untuk manusia selama paling cepat sekitar 18 bulan sejak sekarang. Lama juga ya πŸ˜…

Dr. Hotez pada akhir wawancaranya tetap optimis bahwa jika masyarakat tetap "istiqomah" melakukan "social distancing" (saya pribadi lebih suka istilah physical distancing) maka angka penyebaran Covid-19 dapat ditekan.

Terakhir, kita sebagai seorang muslim tentu saja ditengah keadaan seperti ini tidak henti-hentinya memohon perlindungan dan banyak bertaubat atas kesalahan kita pada Allah ta'ala. Sependek pengetahuan saya, saya diajarkan apabila seorang muslim mendapat kesusahan, maka muslim itu akan menjadikan kesusahan itu untuk momen instrospeksi dirinya dan bertaubat pada Allah. Karena pada hakikatnya tidak ada penolong yang lebih baik daripada Allah ta'ala. Wallahu'alam.