Oleh: Arif Wicaksa
Pengetahuan mengenai kehidupan Mencius atau
Mengzi, cukup minim. Hingga saat ini, masih belum terdapat data yang valid dan terpercaya mengenai
kapan Mencius lahir dan kapan pula dia wafat. Namun demikian, banyak orang yang
berasumsi berdasarkan data tertentu bahwa Mencius hidup sekitar tahun 372
sebelum masehi hingga pada tahun 289 sebelum masehi. Berdasarkan kesepakatan
ini, diketahui bahwa Mencius hidup pada masa pasca Confucius, sehingga
pemikiran Mencius akan banyak merujuk pada pemikiran Confucius.
Mencius belajar pada murid-murid cucu Confucius.
Mencius sendiri merasa agak sedikit kecewa, karena dia tidak bisa langsung
mendapat pengajaran dari Confucius. Mencius sendiri diketahui juga memiliki
murid yang jumlahnya cukup besar. Sebagai seorang filsuf, Mencius memiliki
karya. Namun karya Mencius dianggap tidak memberikan penjelasan ataupun
gambaran yang jelas mengenai metode pengajaran Mencius sebagai seorang guru. Dapat ditarik semacam simpulan bahwa,
Mencius kurang memiliki atensi atau perhatian yang dalam pada seni pengajaran.
Mengenai kodrat sejati manusia, Mencius berusaha
memberikan jawaban yang barangkali belum sempat dijawab oleh Confucius, yakni
mengapa manusia mesti berbuat kebajikan. Confucius meyakini bahwa manusia
adalah baik secara kodrati. Mencius cenderung memegang pendapat Confucius,
namun Mencius memberikan pengayaan bahwa walaupun manusia secara kodrati adalah
baik, terdapat kemungkinan yang mampu menjadikan manusia menyalahi kodratnya.
Bagi Mencius, dalam satu kesatuan manusia yang berkodrat baik terdapat unsur
yang tidak bisa dijelaskan apakah unsur tersebut baik atau tidak. Unsur yang
tidak dapat digambarkan itu kemudian sangat bergantung pada pengendalian diri
dan hawa nafsu untuk mengarahkannya pada kebaikan, jika pengendalian diri dan
pengekangan hawa nafsu gagal dilakukan oleh manusia, maka dia akan terjerumus
kedalam keburukan. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Mencius melihat kebajikan
yang dilakukan manusia adalah upaya untuk menyelamatkan diri manusia itu
sendiri dari kehancuran karena tidak mampu menciptakan keseimbangan dalam
dirinya sendiri.
Menurut Mencius, terdapat tiga pandangan lain diluar
pandangannya mengenai permasalahan kodrat manusia ini. Pandangan pertama
menyatakan bahwa, manusia itu berkodrat tidak baik, namun tidak pula buruk.
Pandangan kedua menyatakan bahwa kodrat manusia itu, bisa jadi baik tetapi bisa
pula buruk. Pandangan ketiga yang menyatakan bahwa pada dasarnya, sebagian
manusia berkodrat baik, dan sebagian lainnya berkodrat buruk. Pandangan
mengenai kodrat manusia adalah arena perdebatan sengit diantara para filsuf
Cina kuno tanpa terkecuali Mencius dengan pandangannya.
Selain ajaran Confucius dan Mencius, ada sebuah
pemikiran atau faham yang cukup berkembang diwilayah cina, yaitu ajaran Tao. Faktor
fundamental secara filosofis yang mempengaruhi ajaran Tao yaitu pemberontakan.
Biasanya pemberontakan dilakukan oleh kalangan masyarakat kelas bawah terhadap
kaum masyarakat kelas atas, seperti bangsawan atau ningrat yang dianggap
mempermainkan masyarakat kelas bawah. Pemberontakan merupakan hal mendasar
yang menjadi landasan munculnya faham Taoisme. Tokoh yang dinilai menjadi
pemikir dari faham ini adalah Yang Chu.
Yang Chu sendiri sangat terpengaruh dari ajaran Lao Tzu
yang menekankan bahwa kebahagiaan hakiki manusia bisa didapatkan melalui penyatuan manusia dengan alam. Bagi Lao Tzu, manusia dan alam adalah satu kesatuan yang
berasal dari satu sumber universal yakni Tao. Tao adalah sumber
dari segala sumber, Tao itu sederhana, Tao tidak memiliki bentuk, Tao tidak
memiliki hasrat, Tao telah ada sebelum adanya langit dan bumi. Pemikiran ini
kemudian menginspirasi Yang Chu yang merasa prihatin atas degradasi moral
masyarakat dan eksploitasi yang dilakukan masyarakat kelas atas terhadap
masyarakat kelas bawah. Yang Chu menyarankan bahwa pemberontakan harus
dilakukan dan pemberontakan yang paling sesuai adalah melepaskan atribut hasrat
duniawi dan kembali pada unsur universal demi melepaskan diri dari kesengsaraan
duniawi.


