Halaman

Jumat, 14 Juli 2023

Pengalaman "Hijrah" dari OS Windows ke OS Linux

Pertama kali saya mendengar kata "Linux" adalah saat pelajaran Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) ketika saya sekolah beberapa tahun yang lalu. Saya menemukan bahasan tentang Linux pada buku pelajaran TIK kala itu. Ketika itu saya mengenal Linux sebagai sebuah Sistem Operasi (Operation System/ OS) untuk menjalankan komputer sebagaimana Windows yang saat ini populer digunakan oleh sebagian (besar) pengguna komputer di seluruh dunia.


Ketika membaca kata Linux sebagai OS sewaktu saya sekolah dulu, tidak terbesit ketertarikan yang besar terhadap Linux, toh pada waktu itu saya juga tidak memiliki komputer ataupun laptop. Disamping itu, OS yang digunakan dan dijadikan sebagai materi pelajaran TIK adalah Windows. Jadi semakin buyarlah ide tentang Linux di pikiran saya.

Fast forward ke beberapa tahun kemudian ketika saya berkuliah. Saya kembali menemukan suatu artikel yang entah mengapa muncul di beranda media sosial saya kala itu. Artikel tersebut membahas mengenai Linux. Karena iseng saya pun mengklik dan membaca artikel tersebut. Pada artikel itu, pengetahuan saya tentang Linux cukup bertambah. Saya jadi tahu bahwa Linux sebagai OS justru banyak digunakan pada Supercomputer yang berfungsi untuk mengatur tugas-tugas serta fungsi-fungsi teknologi tingkat lanjut dan skala besar. Selanjutnya, Linux juga ternyata luas digunakan sebagai OS programmer komputer, entah untuk keperluan pengembangan website, untuk pembuatan aplikasi dan lain sebagainya. Kemudian Linux juga ternyata menjadi OS yang digunakan untuk keperluan hacking atau peretasan. Perlu diingat, bahwa istilah hacking tidak selamanya bermakna negatif lho, ada banyak sekali fungsi dan manfaat positif hacking dalam dunia teknologi informasi. Dan yang paling membuat saya tertarik adalah Linux merupakan OS yang sangat aman dari serangan virus dan malware jika dibandingkan dengan Windows.

Meskipun pengetahuan saya tentang Linux cukup bertambah, namun pada saat saya berkuliah, saya belum memutuskan untuk pindah menggunakan Linux. Alasan sebenarnya ya karena saya masih takut untuk mengotak-atik laptop kuliah saya. Kan bisa gawat kalau seandainya laptop saya rusak, atau data yang ada di dalam laptop itu juga rusak atau hilang. wkwkwkwk. Anyway, singkatnya ketertarikan saya terhadap Linux semakin tinggi, tapi saya masih belum punya keberanian untuk mengotak-atik laptop saya mengubah OS Windows-nya menjadi Linux.

Alhamdulillah setelah saya bekerja, saya dapat rezeki untuk membeli laptop baru. Disamping karena laptop lama saya yang sudah saya gunakan sejak lama sudah mulai lelet dan mulai rusak. Sepertinya karena sudah termakan usia. (Jasa laptop itu akan selalu saya kenang, sudah menemani bertahun-tahun masa kuliah dan menemani malam-malam sepi di kos dan kontrakan wkwkwk).

Oh iya, salah satu alasan laptop lama saya menjadi lemot dan lelet sepertinya karena updatean software yang saya lakukan. Namanya juga perkembangan teknologi beserta tuntutannya, jadi saya terpaksa mengupdate dan mengupgrade aplikasi-aplikasi di laptop saya itu. Ternyata aplikasi tersebut karena saking canggihnya, justru jadi beban bagi laptop saya, hiks. Keadaan makin runyam ketika Windows mau menghentikan dukungannya kepada Windows 7, OS yang saya gunakan di laptop saya. Artinya, si Microsoft yang merupakan perusahaan asal Windows menyuruh saya upgrade OS. Sementara, kalau mau upgrade OS Windows ke versi Windows yang terbaru, sepertinya bakal makin membebani laptop lama saya ini. Jadilah saya memutuskan membeli laptop baru dengan spek yang lebih baru juga tentunya, walaupun budget tipis wkwkwk. Pokoknya nyari laptop yang bagus, canggih dan murah pula! Itu yang saya katakan ke toko laptop ketika mencari laptop baru

Saya pun akhirnya punya laptop yang baru dan di dalamnya sudah terinstal OS Windows yang lebih baru, yaitu Windows 10. Saya berencana mau memindahkan data-data dari laptop lama ke laptop baru ini. Ketika akan memindahkan data itu, tiba-tiba saya kepikiran lagi ke Linux. Saya berpikir, mungkin ini kesempatan yang bagus buat belajar pakai Linux. Toh laptop yang saya mau pakai belajar Linux ini masih kosong dari data penting. Data penting saya masih tersimpan di laptop saya yang lama. Jadilah saya membuat laptop baru saya menjadi laptop percobaan saya dalam belajar Linux.

Dengan bermodal browsing artikel-artikel internet dan lihat video-video tutorial Linux, akhirnya saya beranikan diri buat menginstall OS Linux pada laptop baru saya. Sangat deg-degan awalnya, karena saya takut laptopnya rusak wkwkwkwk. Tapi kemudian saya teringat pesan Guru TIK saya ketika sekolah dulu. "Jangan takut bereksperimen dengan komputer. Komputer itu gak bakalan rusak selama bukan hardwarenya yang kamu rusak. Kalau cuma kerusakan software itu masih gampang dibetulkan, itu bukan rusak namanya!" Begitulah kira-kira pesan guru saya kala itu.

Saya kemudian mendownload OS Linux dari internet. OS Linux yang saya download adalah Linux Mint. Alasannya karena OS Linux ini merupakan OS Linux yang ramah pada pemula seperti saya. Meskipun Linux Mint ini mudah dipahami bagi pemula, tapi sangat powerful karena mampu mengerjakan banyak hal yang biasa digunakan OS Linux lain seperti Arch-Linux. Jadilah saya menginstall Linux Mint sebagai OS pada laptop saya. Ternyata proses instalasinya lebih mudah dari yang saya bayangkan. Ternyata Linux tidak serumit bayangan saya. Linux Mint yang saya gunakan, secara tampilan, tidak jauh berbeda dengan Windows. Jadi saya pribadi bisa langsung beradaptasi dengan tampilan Linux Mint ketika awal menggunakannya. Berhasil menginstall Linux Mint ini membuat saya senangnya luar biasa, udah berasa jadi hacker professional wkwkwkwkwk. Padahal cuma gitu doang.

Setelah menginstall Linux Mint, mulailah saya coba-coba eksplorasi menu dan aplikasi Linux pada laptop saya. Nah, disini muncul salah satu masalah yang saya hadapi (bahkan sampai sekarang). Masalah itu adalah, kebanyakan aplikasi Windows tidak bisa digunakan di Linux. Waduuuuh, gawat dong? Misalnya, aplikasi Microsoft Office, secara umum tidak bisa digunakan di Linux by-default, kecuali dengan sedikit modifikasi. Pada sisi lain, pelajaran TIK yang saya dapatkan sejak sekolah sampai bekerja, semuanya adalah pelajaran dan pelatihan menggunakan Windows. Makin gawat dong. 

Tapi alhamdulillah, karena hal masalah itulah saya jadi bertemu dengan "keindahan" dunia Linux lainnya. Ternyata, banyak aplikasi-aplikasi alternatif bagi aplikasi Windows yang sudah populer digunakan masyarakat. Contoh paling mudahnya adalah aplikasi LibreOffice yang menjadi alternatif bagi aplikasi Microsoft Office di Windows. Tidak bisa dipungkiri bahwa aplikasi bajakan cukup marak digunakan oleh banyak pengguna komputer. Maraknya penggunaan aplikasi bajakan tersebut menurut saya muncul karena mahalnya harga aplikasi asli alias ori-nya, dan mudahnya akses untuk mendapatkan aplikasi bajakan tersebut. Microsoft Office sepertinya menjadi salah satu contoh aplikasi yang versi bajakannya digunakan dengan luas dan banyak oleh para pengguna komputer di seluruh dunia.

Nah, berbeda dengan Microsoft Office, aplikasi LibreOffice adalah aplikasi yang fungsinya sama dengan Microsoft Office, namun aplikasi ini bisa didapatkan dengan gratis dan legal, jadi tidak perlu pakai yang bajakan. Double WOW. Langsung dapat yang asli dan ori. GOKIIILLL. Kerennya, aplikasi Libre Office adalah aplikasi office bawaan yang sudah ada pada Linux Mint. Jadi, singkatnya ternyata Linux memiliki aplikasi tersendiri yang bisa menjadi alternatif dari aplikasi-aplikasi Windows yang berbayar atau yang bajakan. Lebih keren pakai aplikasi asli dan gratis gak sih? Ya kan. Nah, inilah yang membuat saya kagum dengan OS Linux. Aplikasinya gratis, ori dan bebas virus. JAGOOW. Gratis yang saya maksudkan disini itu artinya tidak pakai bayar atau beli-beli keluarin uang ya. Tapi tetap ada biaya yang harus kita bayar. Biaya apa itu? yak biaya kuota internet dan tenaga yang harus kita keluarkan untuk belajar menggunakan Linux. Tapi saya pikir tenaga dan waktu yang saya pakai untuk belajar Linux sangat worth it! Meskipun sampai sekarang saya masih terbata-bata untuk belajar. Tapi benar-benar worth it!


 

Sedikit rekomendasi saya bagi siapa yang berkenan, lebih baik menggunakan OS Linux sebagai basis pembelajaran TIK di sekolah atau lembaga pendidikan. Sehingga Linux menjadi lebih tersebar luas. Alasannya sederhana, Linux itu gratis dan jauh lebih aman dari serangan virus dan malware dibanding OS lainnya. Alasan berikutnya, dengan memasyarakatkan penggunaan OS Linux maka secara tidak langsung akan menekan permasalahan virus, malware, pencurian data, dan saya percaya bisa menekan pertumbuhan pembajakan aplikasi. Buat apa ngebajak aplikasi kalau bisa dapat yang ori secara gratis. Cheers!