Halaman

Sabtu, 15 Juli 2023

Pengantar Awal Metodologi Hubungan Internasional: Empirisisme versus Interpretivisme

Dalam perjalanan studi mahasiswa Hubungan Internasional (HI), pasti bakal ditemui tugas-tugas ilmiah yang dibebankan ke mahasiswa berupa paper, makalah sampai tugas akhir entah berupa skripsi, tesis atau disertasi. Nah, permasalahannya, dalam menulis tugas-tugas tersebut pastinya tidak boleh asal-asalan saja, artinya harus tersusun dengan susunan yang jelas, runut dan terstruktur dengan baik. Tujuannya adalah supaya tulisan ilmiah tersebut bisa dipahami dengan benar oleh pembaca, dan yang juga tidak kalah pentingnya adalah agar penulis tulisan itu sendiri juga paham dengan tulisannya sendiri.

Untuk membuat tulisan yang tersusun dengan baik, pastinya calon penulis harus memahami kerangka berpikir dari sebuah disiplin ilmu, tanpa terkecuali disiplin ilmu Hubungan Internasional. Mengapa harus memahami kerangka berpikir suatu kajian ilmu dalam membuat karya ilmiah? Tujuannya selain untuk membuat karya ilmiah tersebut logis, dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya, dan tentunya runut dan rapi, sekaligus jadi pengingat bagi calon penulis, bahwa tulisannya atau karyanya tersebut punya keterbatasan. Karyanya bukanlah sesuatu yang sempurna karena dengan kerangka berpikir yang tersusun dan dipahami dengan baik menunjukkan bahwa karyanya tersebut hanya menyoroti bagian-bagian tertentu dari fenomena dunia HI, karyanya tersebut tidak bisa menjadi satu karya untuk semua, yang mengetahui segalanya.

Nah, dalam bahasan metodologi Hubungan Internasional, terdapat paling tidak dua mazhab berpikir dalam melakukan penelitian pada studi Hubungan Internasional. Apa yang dimaksud dengan mazhab berpikir dalam penelitian studi Hubungan Internasional? Kalau dalam bahasa rumitnya, mazhab berpikir ini biasa disebut dengan istilah “Epistemologi”. Saya tidak menggunakan bahasa epistemologi untuk menghindari kebingungan pembaca, jadi saya menggunakan istilah mazhab berpikir saja. Nah, mazhab berpikir ini berfungsi untuk “menuntun” calon penulis studi Hubungan Internasional dalam melakukan penelitian dan penulisan karya Hubungan Internasional. Mazhab berpikir ini akan mengarahkan calon penulis pada isu-isu dalam studi Hubungan Internasional dan bagaimana studi Hubungan Internasional menganalisis atau mengulas isu-isu tersebut secara kaidah studi Hubungan Internasional.

Tulisan ini bukan bermaksud menggurui, atau unjuk pengetahuan saya dalam bidang metodologi Hubungan Internasional, ya! Wkwkwkwk. Sejujurnya tulisan ini sekedar isengnya saya untuk mengulang-ngulang pelajaran kuliah yang saya sedikit-sedikit lupa, hiks. Anyway, mari kembali ke pembahasan kita tentang Metodologi Hubungan Internasiona: Empirisisme versus Interpretivisme.

Dalam studi Hubungan Internasional, ada dua mazhab berpikir dalam melakukan penelitian dan penulisan karya ilmiah. Mazhab pertama yaitu Empirisisme dan mazhab kedua yaitu interpretivisme.

Mazhab Empirisme adalah aliran berpikir dalam penelitian Hubungan Internasional yang berargumen bahwa fenomena Hubungan Internasional tidak ubahnya bagai fenomena alam yang bisa dijelaskan secara saintifik. Sehingga, jika seorang calon penulis atau penulis Hubungan Internasional menggunakan mazhab Empirisme dalam tulisannya, maka tulisannya akan berfokus pada informasi-informasi yang bersifat empiris, naturalis. Maksudnya empiris adalah fakta-fakta yang sudah terjadi, sehingga fakta tersebut dikategorikan sebagai data yang konkret dan tidak diperdebatkan lagi. Contoh fakta empiris yang konkret adalah misalnya informasi tentang “Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945”. Pernyataan tersebut adalah fenomena yang sudah terjadi dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Nah, mazhab Empirisme suka banget dengan data-data fenomena seperti ini, mengumpulkan informasi fenomena yang sudah berlalu, sudah terjadi dan tidak perlu diperdebatkan lagi untuk kemudian diolah kedalam tulisan ilmiahnya. Data-data tersebut dikumpulkan dan diolah sebagaimana layaknya ilmu alam mengumpulkan objek-objek ilmu alam seperti dalam ilmu Biologi dan ilmu Fisika mengolah tumbuhan, bebatuan dan lainnya. Singkatnya, mazhab Empirisisme ingin menjadikan studi Hubungan Internasional selayaknya ilmu alam, atau natural science. Sehingga mazhab Empirisme hanya berfokus pada fenomena-fenomena yang bisa diukur dan dapat dirasakan oleh pancaindera manusia.

Contoh penggunaan mazhab Empirisme bisa kita contohkan dalam menjawab pertanyaan “Mengapa Rusia menginvasi Ukraina?” . Penulis yang menggunakan mazhab Empirisme akan memfokuskan tulisannya pada data-data yang bersifat empiris (fakta sejarah) dan data yang bisa diukur dan dirasakan dengan pancaindera. Maka penulis dengan mazhab Empirisisme misalnya akan mengumpulkan data seputar sejarah hubungan Rusia-Ukraina, mengukur kapasitas militer Rusia dan Ukraina, dan lain sebagainya. Intinya, penulis dengan mazhab Empirisisme akan mengumpulkan data-data faktual, bisa diukur sehingga menghasilkan hasil karya yang bisa diukur pula dan bisa dirasakan oleh pancaindera. Contoh hasil jawaban dari pertanyaan mengapa diatas, jika diolah menggunakan mazhab Empirisme adalah “Rusia menginvasi Ukraina karena Rusia memiliki kapabilitas militer yang besar, dan pada sisi lain Ukraina melakukan aktivitas mengumpulkan power yang ditafsirkan sebagai ancaman oleh Ukraina”.

Berdasarkan hal tersebut diatas, dapat diketahui bahwa mazhab Empirisme berfokus pada data-data faktual empiris dan bisa diukur, untuk kemudian diolah dianalisis menjadi hasil yang sifatnya empiris dan bisa diukur pula. Maka dari itu, biasanya karya yang bermazhab Empirisisme akan bersifat eksplanasi, atau menjelaskan. Yaitu mencari tahu penyebab, dan faktor-faktor pendorong dibalik suatu fenomena Hubungan Internasional.

Mazhab Interpretivisme menjadi “lawan” dari mazhab Empirisisme. Mazhab Interpretivisme berargumen bahwa studi Hubungan Internasional sebagai kajian ilmu sosial dan politik, tidak bisa dibatasi dan disamakan dengan kajian ilmu alam, karena dinamika perilaku manusia atau aktor Hubungan Internasional secara umum akan dipengaruhi oleh nilai, norma dan hal-hal non-materi lainnya dalam berperilaku pada kehidupannya. Artinya, perilaku manusia dan aktor Hubungan Internasional juga dipengaruhi oleh hal-hal non-materi. Maka dari itu, mazhab Interpretivisme memfokuskan pada aspek-aspek non-materi dari fenomena Hubungan Internasional untuk kemudian diolah dan dianalisis.

Jika kita contohkan bagaimana mazhab Interpretivisme menjawab pertanyaan “Mengapa Rusia menginvasi Ukraina?” maka mazhab Interpretivisme biasanya tidak bakal berfokus pada pertanyaan yang bersifat eksplanasi seperti pertanyaan “mengapa”. Mazhab Interpretivisme biasanya akan memulai penelitiannya dengan pertanyaan yang bersifat pemahaman, bukan penjelasan. Maka pertanyaan yang diajukan penulis mazhab Interpretivisme biasanya bakal termodifikasi menjadi “Bagaimana persepsi Rusia terhadap Ukraina sehingga invasi terjadi?”. Pertanyaan tersebut tentu saja tidak bisa atau tidak cukup dijawab dengan data yang bersifat materi dan bisa dirasakan pancaindera saja, hal tersebut karena karakteristik pertanyaan tersebut yang menanyakan “Persepsi” yang merupakan hal yang tidak bisa atau sulit untuk diukur. Maka dari itu, mazhab Interpretivisme akan mendorong dan menuntun penulis atau peneliti untuk mencari data-data yang bersifat kualitatif, tidak bisa diukur dengan angka. Contoh data yang bersifat kualitatif misalnya pidato pemimpin negara, hasil wawancara bersama tokoh sentral dalam fenomena yang sedang diteliti, foto dan video yang menampilkan fenomena-fenomena terkait, dan lain sebagainya. Contoh jawaban dari pertanyaan bagaimana tersebut, misalnya “Rusia mempersepsikan Ukraina sebagai ancaman karena menjalin kerjasama atau menguatkan kerjasama dengan negara NATO padahal secara kultural Ukraina lebih dekat kepada Rusia dibandingkan dengan negara NATO”.

Berdasarkan hal tersebut diatas, dapat diketahui bahwa mazhab Interpretivisme berfokus pada aspek-aspek non-materi dalam studi Hubungan Internasional. Maka dari itu, mazhab Interpretivisme berfokus pada penggambaran dan pemahaman dalam karyanya. Pada sisi lain, mazhab Interpretivisme akan mendorong penulis untuk mengumpulkan data-data yang bersifat kualitatif, tidak bisa diukur dengan angka namun menuntut penulis yang mengolah data untuk memahami maksud-maksud, nilai dan norma dibalik suatu peristiwa. Hal ini berbeda dengan mazhab Empirisisme yang berfokus pada penjelasan atau eksplanasi dalam karyanya.

Nah, sekian uraian singkat dari saya seputar mazhab Empirisme dan mazhab Interpretivisme dalam studi Hubungan Internasional. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat buat siapa saja yang berminat untuk menulis dan berkarya dalam dunia studi Hubungan Internasional. Akhirnya, tak ada gading yang tak retak, tak ada bisul yang tak bengkak, tulisan saya ini jauuuuh beud dari kesempurnaan. Banyak kurangnya lah pokoknya. Tapi gimanapun, mudah-mudahan membantu dan bermanfaat! Cheerss!

Jumat, 14 Juli 2023

Pengalaman "Hijrah" dari OS Windows ke OS Linux

Pertama kali saya mendengar kata "Linux" adalah saat pelajaran Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) ketika saya sekolah beberapa tahun yang lalu. Saya menemukan bahasan tentang Linux pada buku pelajaran TIK kala itu. Ketika itu saya mengenal Linux sebagai sebuah Sistem Operasi (Operation System/ OS) untuk menjalankan komputer sebagaimana Windows yang saat ini populer digunakan oleh sebagian (besar) pengguna komputer di seluruh dunia.


Ketika membaca kata Linux sebagai OS sewaktu saya sekolah dulu, tidak terbesit ketertarikan yang besar terhadap Linux, toh pada waktu itu saya juga tidak memiliki komputer ataupun laptop. Disamping itu, OS yang digunakan dan dijadikan sebagai materi pelajaran TIK adalah Windows. Jadi semakin buyarlah ide tentang Linux di pikiran saya.

Fast forward ke beberapa tahun kemudian ketika saya berkuliah. Saya kembali menemukan suatu artikel yang entah mengapa muncul di beranda media sosial saya kala itu. Artikel tersebut membahas mengenai Linux. Karena iseng saya pun mengklik dan membaca artikel tersebut. Pada artikel itu, pengetahuan saya tentang Linux cukup bertambah. Saya jadi tahu bahwa Linux sebagai OS justru banyak digunakan pada Supercomputer yang berfungsi untuk mengatur tugas-tugas serta fungsi-fungsi teknologi tingkat lanjut dan skala besar. Selanjutnya, Linux juga ternyata luas digunakan sebagai OS programmer komputer, entah untuk keperluan pengembangan website, untuk pembuatan aplikasi dan lain sebagainya. Kemudian Linux juga ternyata menjadi OS yang digunakan untuk keperluan hacking atau peretasan. Perlu diingat, bahwa istilah hacking tidak selamanya bermakna negatif lho, ada banyak sekali fungsi dan manfaat positif hacking dalam dunia teknologi informasi. Dan yang paling membuat saya tertarik adalah Linux merupakan OS yang sangat aman dari serangan virus dan malware jika dibandingkan dengan Windows.

Meskipun pengetahuan saya tentang Linux cukup bertambah, namun pada saat saya berkuliah, saya belum memutuskan untuk pindah menggunakan Linux. Alasan sebenarnya ya karena saya masih takut untuk mengotak-atik laptop kuliah saya. Kan bisa gawat kalau seandainya laptop saya rusak, atau data yang ada di dalam laptop itu juga rusak atau hilang. wkwkwkwk. Anyway, singkatnya ketertarikan saya terhadap Linux semakin tinggi, tapi saya masih belum punya keberanian untuk mengotak-atik laptop saya mengubah OS Windows-nya menjadi Linux.

Alhamdulillah setelah saya bekerja, saya dapat rezeki untuk membeli laptop baru. Disamping karena laptop lama saya yang sudah saya gunakan sejak lama sudah mulai lelet dan mulai rusak. Sepertinya karena sudah termakan usia. (Jasa laptop itu akan selalu saya kenang, sudah menemani bertahun-tahun masa kuliah dan menemani malam-malam sepi di kos dan kontrakan wkwkwk).

Oh iya, salah satu alasan laptop lama saya menjadi lemot dan lelet sepertinya karena updatean software yang saya lakukan. Namanya juga perkembangan teknologi beserta tuntutannya, jadi saya terpaksa mengupdate dan mengupgrade aplikasi-aplikasi di laptop saya itu. Ternyata aplikasi tersebut karena saking canggihnya, justru jadi beban bagi laptop saya, hiks. Keadaan makin runyam ketika Windows mau menghentikan dukungannya kepada Windows 7, OS yang saya gunakan di laptop saya. Artinya, si Microsoft yang merupakan perusahaan asal Windows menyuruh saya upgrade OS. Sementara, kalau mau upgrade OS Windows ke versi Windows yang terbaru, sepertinya bakal makin membebani laptop lama saya ini. Jadilah saya memutuskan membeli laptop baru dengan spek yang lebih baru juga tentunya, walaupun budget tipis wkwkwk. Pokoknya nyari laptop yang bagus, canggih dan murah pula! Itu yang saya katakan ke toko laptop ketika mencari laptop baru

Saya pun akhirnya punya laptop yang baru dan di dalamnya sudah terinstal OS Windows yang lebih baru, yaitu Windows 10. Saya berencana mau memindahkan data-data dari laptop lama ke laptop baru ini. Ketika akan memindahkan data itu, tiba-tiba saya kepikiran lagi ke Linux. Saya berpikir, mungkin ini kesempatan yang bagus buat belajar pakai Linux. Toh laptop yang saya mau pakai belajar Linux ini masih kosong dari data penting. Data penting saya masih tersimpan di laptop saya yang lama. Jadilah saya membuat laptop baru saya menjadi laptop percobaan saya dalam belajar Linux.

Dengan bermodal browsing artikel-artikel internet dan lihat video-video tutorial Linux, akhirnya saya beranikan diri buat menginstall OS Linux pada laptop baru saya. Sangat deg-degan awalnya, karena saya takut laptopnya rusak wkwkwkwk. Tapi kemudian saya teringat pesan Guru TIK saya ketika sekolah dulu. "Jangan takut bereksperimen dengan komputer. Komputer itu gak bakalan rusak selama bukan hardwarenya yang kamu rusak. Kalau cuma kerusakan software itu masih gampang dibetulkan, itu bukan rusak namanya!" Begitulah kira-kira pesan guru saya kala itu.

Saya kemudian mendownload OS Linux dari internet. OS Linux yang saya download adalah Linux Mint. Alasannya karena OS Linux ini merupakan OS Linux yang ramah pada pemula seperti saya. Meskipun Linux Mint ini mudah dipahami bagi pemula, tapi sangat powerful karena mampu mengerjakan banyak hal yang biasa digunakan OS Linux lain seperti Arch-Linux. Jadilah saya menginstall Linux Mint sebagai OS pada laptop saya. Ternyata proses instalasinya lebih mudah dari yang saya bayangkan. Ternyata Linux tidak serumit bayangan saya. Linux Mint yang saya gunakan, secara tampilan, tidak jauh berbeda dengan Windows. Jadi saya pribadi bisa langsung beradaptasi dengan tampilan Linux Mint ketika awal menggunakannya. Berhasil menginstall Linux Mint ini membuat saya senangnya luar biasa, udah berasa jadi hacker professional wkwkwkwkwk. Padahal cuma gitu doang.

Setelah menginstall Linux Mint, mulailah saya coba-coba eksplorasi menu dan aplikasi Linux pada laptop saya. Nah, disini muncul salah satu masalah yang saya hadapi (bahkan sampai sekarang). Masalah itu adalah, kebanyakan aplikasi Windows tidak bisa digunakan di Linux. Waduuuuh, gawat dong? Misalnya, aplikasi Microsoft Office, secara umum tidak bisa digunakan di Linux by-default, kecuali dengan sedikit modifikasi. Pada sisi lain, pelajaran TIK yang saya dapatkan sejak sekolah sampai bekerja, semuanya adalah pelajaran dan pelatihan menggunakan Windows. Makin gawat dong. 

Tapi alhamdulillah, karena hal masalah itulah saya jadi bertemu dengan "keindahan" dunia Linux lainnya. Ternyata, banyak aplikasi-aplikasi alternatif bagi aplikasi Windows yang sudah populer digunakan masyarakat. Contoh paling mudahnya adalah aplikasi LibreOffice yang menjadi alternatif bagi aplikasi Microsoft Office di Windows. Tidak bisa dipungkiri bahwa aplikasi bajakan cukup marak digunakan oleh banyak pengguna komputer. Maraknya penggunaan aplikasi bajakan tersebut menurut saya muncul karena mahalnya harga aplikasi asli alias ori-nya, dan mudahnya akses untuk mendapatkan aplikasi bajakan tersebut. Microsoft Office sepertinya menjadi salah satu contoh aplikasi yang versi bajakannya digunakan dengan luas dan banyak oleh para pengguna komputer di seluruh dunia.

Nah, berbeda dengan Microsoft Office, aplikasi LibreOffice adalah aplikasi yang fungsinya sama dengan Microsoft Office, namun aplikasi ini bisa didapatkan dengan gratis dan legal, jadi tidak perlu pakai yang bajakan. Double WOW. Langsung dapat yang asli dan ori. GOKIIILLL. Kerennya, aplikasi Libre Office adalah aplikasi office bawaan yang sudah ada pada Linux Mint. Jadi, singkatnya ternyata Linux memiliki aplikasi tersendiri yang bisa menjadi alternatif dari aplikasi-aplikasi Windows yang berbayar atau yang bajakan. Lebih keren pakai aplikasi asli dan gratis gak sih? Ya kan. Nah, inilah yang membuat saya kagum dengan OS Linux. Aplikasinya gratis, ori dan bebas virus. JAGOOW. Gratis yang saya maksudkan disini itu artinya tidak pakai bayar atau beli-beli keluarin uang ya. Tapi tetap ada biaya yang harus kita bayar. Biaya apa itu? yak biaya kuota internet dan tenaga yang harus kita keluarkan untuk belajar menggunakan Linux. Tapi saya pikir tenaga dan waktu yang saya pakai untuk belajar Linux sangat worth it! Meskipun sampai sekarang saya masih terbata-bata untuk belajar. Tapi benar-benar worth it!


 

Sedikit rekomendasi saya bagi siapa yang berkenan, lebih baik menggunakan OS Linux sebagai basis pembelajaran TIK di sekolah atau lembaga pendidikan. Sehingga Linux menjadi lebih tersebar luas. Alasannya sederhana, Linux itu gratis dan jauh lebih aman dari serangan virus dan malware dibanding OS lainnya. Alasan berikutnya, dengan memasyarakatkan penggunaan OS Linux maka secara tidak langsung akan menekan permasalahan virus, malware, pencurian data, dan saya percaya bisa menekan pertumbuhan pembajakan aplikasi. Buat apa ngebajak aplikasi kalau bisa dapat yang ori secara gratis. Cheers!