Dalam perjalanan studi mahasiswa Hubungan Internasional (HI), pasti bakal ditemui tugas-tugas ilmiah yang dibebankan ke mahasiswa berupa paper, makalah sampai tugas akhir entah berupa skripsi, tesis atau disertasi. Nah, permasalahannya, dalam menulis tugas-tugas tersebut pastinya tidak boleh asal-asalan saja, artinya harus tersusun dengan susunan yang jelas, runut dan terstruktur dengan baik. Tujuannya adalah supaya tulisan ilmiah tersebut bisa dipahami dengan benar oleh pembaca, dan yang juga tidak kalah pentingnya adalah agar penulis tulisan itu sendiri juga paham dengan tulisannya sendiri.
Untuk membuat tulisan yang tersusun dengan baik, pastinya calon penulis harus memahami kerangka berpikir dari sebuah disiplin ilmu, tanpa terkecuali disiplin ilmu Hubungan Internasional. Mengapa harus memahami kerangka berpikir suatu kajian ilmu dalam membuat karya ilmiah? Tujuannya selain untuk membuat karya ilmiah tersebut logis, dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya, dan tentunya runut dan rapi, sekaligus jadi pengingat bagi calon penulis, bahwa tulisannya atau karyanya tersebut punya keterbatasan. Karyanya bukanlah sesuatu yang sempurna karena dengan kerangka berpikir yang tersusun dan dipahami dengan baik menunjukkan bahwa karyanya tersebut hanya menyoroti bagian-bagian tertentu dari fenomena dunia HI, karyanya tersebut tidak bisa menjadi satu karya untuk semua, yang mengetahui segalanya.
Nah, dalam bahasan metodologi Hubungan Internasional, terdapat paling tidak dua mazhab berpikir dalam melakukan penelitian pada studi Hubungan Internasional. Apa yang dimaksud dengan mazhab berpikir dalam penelitian studi Hubungan Internasional? Kalau dalam bahasa rumitnya, mazhab berpikir ini biasa disebut dengan istilah “Epistemologi”. Saya tidak menggunakan bahasa epistemologi untuk menghindari kebingungan pembaca, jadi saya menggunakan istilah mazhab berpikir saja. Nah, mazhab berpikir ini berfungsi untuk “menuntun” calon penulis studi Hubungan Internasional dalam melakukan penelitian dan penulisan karya Hubungan Internasional. Mazhab berpikir ini akan mengarahkan calon penulis pada isu-isu dalam studi Hubungan Internasional dan bagaimana studi Hubungan Internasional menganalisis atau mengulas isu-isu tersebut secara kaidah studi Hubungan Internasional.
Tulisan ini bukan bermaksud menggurui, atau unjuk pengetahuan saya dalam bidang metodologi Hubungan Internasional, ya! Wkwkwkwk. Sejujurnya tulisan ini sekedar isengnya saya untuk mengulang-ngulang pelajaran kuliah yang saya sedikit-sedikit lupa, hiks. Anyway, mari kembali ke pembahasan kita tentang Metodologi Hubungan Internasiona: Empirisisme versus Interpretivisme.
Dalam studi Hubungan Internasional, ada dua mazhab berpikir dalam melakukan penelitian dan penulisan karya ilmiah. Mazhab pertama yaitu Empirisisme dan mazhab kedua yaitu interpretivisme.
Mazhab Empirisme adalah aliran berpikir dalam penelitian Hubungan Internasional yang berargumen bahwa fenomena Hubungan Internasional tidak ubahnya bagai fenomena alam yang bisa dijelaskan secara saintifik. Sehingga, jika seorang calon penulis atau penulis Hubungan Internasional menggunakan mazhab Empirisme dalam tulisannya, maka tulisannya akan berfokus pada informasi-informasi yang bersifat empiris, naturalis. Maksudnya empiris adalah fakta-fakta yang sudah terjadi, sehingga fakta tersebut dikategorikan sebagai data yang konkret dan tidak diperdebatkan lagi. Contoh fakta empiris yang konkret adalah misalnya informasi tentang “Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945”. Pernyataan tersebut adalah fenomena yang sudah terjadi dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Nah, mazhab Empirisme suka banget dengan data-data fenomena seperti ini, mengumpulkan informasi fenomena yang sudah berlalu, sudah terjadi dan tidak perlu diperdebatkan lagi untuk kemudian diolah kedalam tulisan ilmiahnya. Data-data tersebut dikumpulkan dan diolah sebagaimana layaknya ilmu alam mengumpulkan objek-objek ilmu alam seperti dalam ilmu Biologi dan ilmu Fisika mengolah tumbuhan, bebatuan dan lainnya. Singkatnya, mazhab Empirisisme ingin menjadikan studi Hubungan Internasional selayaknya ilmu alam, atau natural science. Sehingga mazhab Empirisme hanya berfokus pada fenomena-fenomena yang bisa diukur dan dapat dirasakan oleh pancaindera manusia.
Contoh penggunaan mazhab Empirisme bisa kita contohkan dalam menjawab pertanyaan “Mengapa Rusia menginvasi Ukraina?” . Penulis yang menggunakan mazhab Empirisme akan memfokuskan tulisannya pada data-data yang bersifat empiris (fakta sejarah) dan data yang bisa diukur dan dirasakan dengan pancaindera. Maka penulis dengan mazhab Empirisisme misalnya akan mengumpulkan data seputar sejarah hubungan Rusia-Ukraina, mengukur kapasitas militer Rusia dan Ukraina, dan lain sebagainya. Intinya, penulis dengan mazhab Empirisisme akan mengumpulkan data-data faktual, bisa diukur sehingga menghasilkan hasil karya yang bisa diukur pula dan bisa dirasakan oleh pancaindera. Contoh hasil jawaban dari pertanyaan mengapa diatas, jika diolah menggunakan mazhab Empirisme adalah “Rusia menginvasi Ukraina karena Rusia memiliki kapabilitas militer yang besar, dan pada sisi lain Ukraina melakukan aktivitas mengumpulkan power yang ditafsirkan sebagai ancaman oleh Ukraina”.
Berdasarkan hal tersebut diatas, dapat diketahui bahwa mazhab Empirisme berfokus pada data-data faktual empiris dan bisa diukur, untuk kemudian diolah dianalisis menjadi hasil yang sifatnya empiris dan bisa diukur pula. Maka dari itu, biasanya karya yang bermazhab Empirisisme akan bersifat eksplanasi, atau menjelaskan. Yaitu mencari tahu penyebab, dan faktor-faktor pendorong dibalik suatu fenomena Hubungan Internasional.
Mazhab Interpretivisme menjadi “lawan” dari mazhab Empirisisme. Mazhab Interpretivisme berargumen bahwa studi Hubungan Internasional sebagai kajian ilmu sosial dan politik, tidak bisa dibatasi dan disamakan dengan kajian ilmu alam, karena dinamika perilaku manusia atau aktor Hubungan Internasional secara umum akan dipengaruhi oleh nilai, norma dan hal-hal non-materi lainnya dalam berperilaku pada kehidupannya. Artinya, perilaku manusia dan aktor Hubungan Internasional juga dipengaruhi oleh hal-hal non-materi. Maka dari itu, mazhab Interpretivisme memfokuskan pada aspek-aspek non-materi dari fenomena Hubungan Internasional untuk kemudian diolah dan dianalisis.
Jika kita contohkan bagaimana mazhab Interpretivisme menjawab pertanyaan “Mengapa Rusia menginvasi Ukraina?” maka mazhab Interpretivisme biasanya tidak bakal berfokus pada pertanyaan yang bersifat eksplanasi seperti pertanyaan “mengapa”. Mazhab Interpretivisme biasanya akan memulai penelitiannya dengan pertanyaan yang bersifat pemahaman, bukan penjelasan. Maka pertanyaan yang diajukan penulis mazhab Interpretivisme biasanya bakal termodifikasi menjadi “Bagaimana persepsi Rusia terhadap Ukraina sehingga invasi terjadi?”. Pertanyaan tersebut tentu saja tidak bisa atau tidak cukup dijawab dengan data yang bersifat materi dan bisa dirasakan pancaindera saja, hal tersebut karena karakteristik pertanyaan tersebut yang menanyakan “Persepsi” yang merupakan hal yang tidak bisa atau sulit untuk diukur. Maka dari itu, mazhab Interpretivisme akan mendorong dan menuntun penulis atau peneliti untuk mencari data-data yang bersifat kualitatif, tidak bisa diukur dengan angka. Contoh data yang bersifat kualitatif misalnya pidato pemimpin negara, hasil wawancara bersama tokoh sentral dalam fenomena yang sedang diteliti, foto dan video yang menampilkan fenomena-fenomena terkait, dan lain sebagainya. Contoh jawaban dari pertanyaan bagaimana tersebut, misalnya “Rusia mempersepsikan Ukraina sebagai ancaman karena menjalin kerjasama atau menguatkan kerjasama dengan negara NATO padahal secara kultural Ukraina lebih dekat kepada Rusia dibandingkan dengan negara NATO”.
Berdasarkan hal tersebut diatas, dapat diketahui bahwa mazhab Interpretivisme berfokus pada aspek-aspek non-materi dalam studi Hubungan Internasional. Maka dari itu, mazhab Interpretivisme berfokus pada penggambaran dan pemahaman dalam karyanya. Pada sisi lain, mazhab Interpretivisme akan mendorong penulis untuk mengumpulkan data-data yang bersifat kualitatif, tidak bisa diukur dengan angka namun menuntut penulis yang mengolah data untuk memahami maksud-maksud, nilai dan norma dibalik suatu peristiwa. Hal ini berbeda dengan mazhab Empirisisme yang berfokus pada penjelasan atau eksplanasi dalam karyanya.
Nah, sekian uraian singkat dari saya seputar mazhab Empirisme dan mazhab Interpretivisme dalam studi Hubungan Internasional. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat buat siapa saja yang berminat untuk menulis dan berkarya dalam dunia studi Hubungan Internasional. Akhirnya, tak ada gading yang tak retak, tak ada bisul yang tak bengkak, tulisan saya ini jauuuuh beud dari kesempurnaan. Banyak kurangnya lah pokoknya. Tapi gimanapun, mudah-mudahan membantu dan bermanfaat! Cheerss!




