Gagasan pembangunan negara di Indonesia dan
Singapura di bawah kepemimpinan Sukarno dan Lee Kuan Yew menunjukkan dua
pendekatan yang berbeda dalam membangun negara. Sukarno, menggunakan pendekatan gagasan identitas nasionalisme Indonesia, berfokus pada pembentukan identitas
nasional dan ideologi, sementara Lee Kuan Yew, sebagai arsitek tata
kelola Singapura, lebih menekankan pada efisiensi tata kelola dan pertumbuhan
ekonomi. Artikel ini akan membicarakan kekuatan dan kelemahan masing-masing
pemimpin dalam konteks pembangunan institusi, ekonomi, dan warisan yang
ditinggalkan.

Sukarno yang merupakan salah satu proklamator Indonesia, juga dikenal sebagai tokoh yang
berhasil mengkonsolidasikan kekuatan militer Indonesia dengan mengubah
eks KNIL dan PETA menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hal ini
menjadi fondasi penting dalam menjaga kedaulatan negara yang baru
merdeka. Selain itu, Sukarno juga yang memperkenalkan istilah Pancasila sebagai landasan
ideologis bagi Indonesia, yang hingga kini masih digunakan sebagai
dasar negara. Konferensi Asia-Afrika yang diprakarsainya juga berhasil
membangun institusi diplomasi global, memperkuat posisi Indonesia di
kancah internasional pada masanya. Namun, kepemimpinan Sukarno tidak lepas
dari kelemahan terlepas dari pencapaian mentereng yang dikaitkan kepada namanya. Misalnya penerapan Demokrasi Terpimpin yang ia jalankan
mengakibatkan pembubaran parlemen pada tahun 1959 dan mengandalkan
dekrit presiden dalam kepemimpinannya. Sistem ini tidak memberikan ruang bagi check and
balance, dan mendorong kepemimpinan yang bersifat cenderung otoriter dengan kekuasaan terpusat pada figur Sukarno sebagai
"Pemimpin Besar Revolusi". Data dari Transparency International
menunjukkan bahwa indeks korupsi Indonesia pada tahun 1960-an termasuk
yang terburuk di Asia, mencerminkan lemahnya institusi hukum dan
pemerintahan. Lee Kuan Yew, di sisi lain, dikenal
sebagai tokoh yang berhasil membangun institusi yang kuat
di Singapura. Ia mendirikan CPIB (Corrupt Practices Investigation
Bureau) pada tahun 1952, yang menjadi lembaga anti-korupsi independen
pertama di Asia pasca-kolonial. Kemudian, dia juga menggagas sistem meritokrasi yang diterapkan pada birokrasi Singapura,
di mana gaji pegawai negeri sipil (PNS) berbasis kinerja, termasuk
menteri yang digaji setara CEO, menciptakan insentif untuk kinerja yang
lebih baik. Housing Development Board yang didirikan pada tahun 1960
juga berhasil menyediakan rumah bagi 90% warga Singapura melalui sistem
subsidi terstruktur. Kebijakan yang dikeluarkan Lee ini pada akhirnya mendorong Singapura untuk keluar dari lembah kemiskinan dan mengubah Singapura yang awalnya adalah merupakan daerah miskin terusir dari Malaysia menjadi pusat industri dan powerhouse ekonomi kawasan Asia Tenggara. Prestasi yang dicapai oleh Lee ini kemudian mengantarkan namanya menjadi Bapak Singapura modern.
Meskipun Lee memilik banyak prestasi dalam memajukan ekonomi Singapura, namun secara politik kepemimpinan Lee juga memiliki sisi
gelap. Otoritarianisme yang diterapkannya membungkam oposisi, dengan
banyak tahanan politik yang ditahan tanpa pengadilan. Selain itu, sistem
yang terlalu terpusat pada Lee menciptakan ketergantungan. Setelah wafatnya, muncul persoalan suksesi politik yang mengancam
stabilitas yang telah dibangun. Meskipun demikian, karena Lee telah berhasil mewarisi institusi yang rendah korupsi, maka persoalan tersebut tidak menjadi masalah besar yang menghancurkan ekonomi dan kemajuan ekonomi Singapura.
Tabel Perbandingan Institusi
Indikator
|
Sukarno
|
Lee Kuan Yew
|
Lembaga Anti-Korupsi
|
Tidak ada
|
CPIB
|
Sistem Pendidikan
|
Sekolah nasional (minim anggaran)
|
Bilingual policy + link and match industri
|
Stabilitas Politik
|
6 pemberontakan (1948-1965)
|
1 kerusuhan rasial (1969)
|
|
|
|
|---|
|
|
|
Sukarno: Ekonomi sebagai Alat Revolusi
Terkait pandangan terhadap ekonomi, Sukarno
memandang ekonomi sebagai alat untuk mendukung revolusi. Kebijakan Berdikari yang
diusungnya menolak investasi asing dan melakukan nasionalisasi
perusahaan Belanda. Proyek mercusuar seperti Gelora Bung Karno dan Monas
menjadi simbol ambisi besar Sukarno. Namun, dampak dari kebijakan ini
sangat merugikan. Inflasi mencapai 650% pada tahun 1966 akibat
pencetakan uang tanpa cadangan devisa, dan produksi beras turun 20%
antara tahun 1959 hingga 1965 karena fokus politik yang mengabaikan
sektor pertanian. Lee: Ekonomi Adalah Segalanya
Sebaliknya, Lee
Kuan Yew memandang ekonomi sebagai segalanya. Politik ada untuk mencapai kemapanan ekonomi. Ia menerapkan industrialisasi
paksa dengan mengundang investor asing, seperti Texas Instruments yang
masuk pada tahun 1967. Reformasi tanah yang dilakukan menguasai 90%
tanah untuk negara melalui Land Acquisition Act. Hasilnya, GDP per
kapita Singapura naik 15 kali lipat dari $500 pada tahun 1965 menjadi $12.000
pada tahun 1990. Ekspor manufaktur menyumbang 80% dari GDP pada tahun
1980, mengubah Singapura dari pelabuhan kumuh menjadi hub teknologi. Warisan Dua Tokoh: Monumen vs SistemWarisan Sukarno lebih bersifat simbolis.
Pancasila masih menjadi ideologi negara, meskipun pemaknaan dan implementasinya masih penuh perdebatan. Infrastruktur budaya seperti Monas, Gelora Bung
Karno, dan Masjid Istiqlal menjadi bukti fisik dari warisan ini. Namun,
masalah institutional decay akibat Demokrasi Terpimpin berdampak pada pelemahan budaya
hukum, dan kebijakan ekonominya berdampak pada warisan utang sebesar $2.3 miliar pada tahun 1966. Di sisi lain, warisan Lee Kuan Yew lebih
bersifat fungsional. Sistem hukum di Singapura menjadi salah satu yang
paling dapat diandalkan di dunia, menurut World Bank Doing Business. Tabel Perbandingan
Indikator
|
Indonesia (1966)
|
Singapura (1990)
|
Utang Luar Negeri
|
58% GDP
|
0% (surplus)
|
Angka Melek Huruf
|
47%
|
92%
|
Harapan Hidup
|
48 tahun
|
76 tahun
|
Penutup Akhirnya, Sukarno berhasil
membangun imagined community bernama Indonesia, tetapi belum berhasil menciptakan
kerangka institusi yang kuat dan kredibel. Di sisi lain, Lee Kuan Yew sukses
membangun mesin ekonomi yang efisien, tetapi mengorbankan kebebasan
sipil dalam kepemimpinannya. Kedua pemimpin ini memberikan pelajaran berharga tentang
pentingnya keseimbangan antara identitas, institusi, dan pertumbuhan
ekonomi dalam pembangunan negara. Tidak ada resep tunggal untuk membangun bangsa. |
|
|
|
|
|