Tulisan ini merupakan suatu summary dari tulisan Brigjend Bambang Hartawan mengenai Transformasi Peran Angkatan Darat dalam Menghadapi Perubahan. Jurnal Yudhagama, Volume 33, Nomor 1, Maret 2013.
Dalam pertahanan suatu negara, tentara merupakan bagian yang sangat penting, tidak terkecuali bagi negara Indonesia, Tentara Nasional Indonesia (TNI) memegang peran sentral dalam mempertahankan keutuhan negara Indonesia. Angkatan Darat (AD) merupakan bagian penyusun dari TNI, yang memiliki peran tersendiri dalam penugasan ditubuh TNI.
![]() |
| Sumber gambar: tniad.mil.id |
Seiring berkembang dan berubahnya zaman, TNI AD dihadapkan pada berbagai tantangan. Brigjend Bambang menyatakan bahwa pada masa mendatang, AD akan dihadapkan pada dimensi penugasan yang lebih luas, fenomena ini menjadi tantangan bagi AD untuk terus membangun kemampuannya. Dalam menghadapi fenomena ini, dibutuhkan suatu transformasi bagi AD. Transformasi militer sendiri, secara sederhana dapat dikatakan sebagai suatu perubahan mendasar pada karakter, bentuk, kebiasaan menuju suatu perbaikan dalam aspek militer. Berdasarkan definisi tersebut, pada transformasi peran AD, jelaslah dibutuhkan berbagai perubahan pada berbagai unsurnya, hal ini seperti yang disampaikan oleh Brigjend Bambang, bahwa sifat ancaman militer saat ini, tidak lagi didominasi oleh ancaman militer saja, tapi juga non-militer dan non-tradisional (seperti konflik perbatasan, terorisme, cyber crime, dsb) dan dimensi ancaman mudah berkembang dari satu dimensi pada dimensi yang lainnya, termasuk dimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial, dst. Sehingga transformasi harus dilakukan, misalnya penataan sistematis AD dari sistem pendidikan militer, latihan, materiil, doktrin, dst, sehingga mampu menyesuaikan dengan kondisi dan permintaan lingkungan operasional. Walaupun secara undang-undang, tugas TNI telah ditetapkan, sesuai dengan Pasal 7 UU Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2004, tentang TNI, dan menegaskan tugas pokok dari TNI.
Menurut Brigjend Bambang, konsep transformasi bukanlah hal yang baru bagi AD. Namun yang harus ditekankan dari transformasi peran AD, pada dasarnya tidaklah persis sama layaknya transformasi diwilayah lain, seperti dibeberapa wilayah Asia, Afrika, dan negara Amerika latin. Hal tersebut dikarenakan transformasi yang terjadi pada tubuh AD lebih menekankan pada pembinaan SDM, sedangkan pada negara lain pada belahan dunia seperti yang disebutkan diatas lebih mengedepankan pada aspek akuisisi pada teknologi persenjataan, dengan kata lain, lebih mengedepankan pada pengembangan senjata, upaya itu dikenal dengan sebutan RMA (Revolution in Military Affairs). Berdasarkan penjabaran Brigjend Bambang, dapat dilihat bahwa TNI AD memberikan fokus prioritas pada aspek SDM, ketimbang teknologi persenjataan, berbeda dari negara dibelahan dunia lain, namun penulis mengkritisi bahwa seharusnya AD lebih memberikan prioritas pada akuisisi teknologi militer, namun bukan berarti melupakan SDM. Hal ini dikarenakan walaupun pasca Perang Dunia II dan pasca Perang Dingin, dianggap sebagai era baru yang revolusioner dalam hal persenjataan, militer, dsb. Namun tidak berarti ancaman perang tradisional, hingga senjata nuklir dapat hilang begitu saja, justru pada masa sekarang ini, ancaman nuklir (yang notabene merupakan senjata) masih menjadi ancaman serius bagi dunia. Bagaimanapun, dengan kualitas senjata yang tinggi, menjadi ancaman serius bagi dunia internasional, dan negara dengan kualitas senjata rendah akan tertinggal. Namun harus ditekankan, penulis tidak menganggap bahwa SDM tidak penting. Tapi dalam kesempatan ini, penulis merekomendasikan TNI AD untuk memprioritaskan pada teknologi persenjataan, baru kemudian pada aspek SDM.
Terlepas dari penjabaran diatas, selanjutnya mari kita membahas mengenai desain transformasi AD. Brigjend Bambang menyatakan bahwa format desain transformasi lebih ditekankan pada pengembangan strategi, taktik, yang sesuai dengan fenomena kekinian. Berdasarkan penjabaran tersebut, memang benar untuk mengembangkan hal-hal tersebut diatas, karena pada masa kontemporer sekarang, menurut Brigjend Bambang terjadi pergeseran pola peperangan pada pola modern, dengan berbagai permasalahan baru. Secara perspektif, telah terjadi perubahan yang cukup besar. Pada beberapa tahun belakangan muncul perspektif baru mengenai keamanan, misalnya seperti Human Security yang membahas permasalahan keamanan bagi manusia yakni warga negara, untuk dapat memperoleh keamanan dari gangguan multi-dimensi, termasuk ancaman dari aparatur negara, epidemi penyakit, separatis, dsb. Dalam menghadapi ancaman baru tersebut, sangat dibutuhkan strategi, dan taktik yang sesuai, dan tentunya tidak langsung menggunakan cara perang, atau pendekatan tradisionalis.
Selanjutnya, Brigjend Bambang memaparkan mengenai sasaran transformasi. Dalam pemaparannya, Brigjend Bambang menyampaikan mengenai pentingnya suatu sinergitas hubungan antara sipil-militer, sehingga dibutuhkan upaya adaptasi untuk bersinergi, dan bagi TNI AD, contoh upaya yang dilakukan adalah melalui proses transformasi peran dilingkungan TNI.
Lebih jauh, Brigjend Bambang memaparkan bahwa transformasi tidaklah hanya menata ulang administrasi dan koordinasi, namun secara mendasar dapat diarahkan pada “perubahan operasional” dengan memperhatikan konsep “input-output”. Konsep input sendiri tersusun oleh teknologi persenjataan, komponen transformasi struktur kekuatan, dan komponen transformasi operasi penggunaan kekuatan. Sedangkan konsep output dalam perubahan operasional, merujuk pada distribusi penembakan, kapasitas manuver, mempertahankan hidup, dan kapasitas lebih baik dalam melaksanakan misi dan strateginya bagi TNI AD khususnya.
Bagaimanapun, transformasi peran AD perlu didukung oleh berbagai elemen dan pihak, dan proses transformasi ini membutuhkan waktu. Kemudian, Brigjend Bambang juga menyampaikan bahwa transformasi membutuhkan berbagai evaluasi sampai didapatkan format baru yang cocok dan sesuai dengan perubahan, tuntutan lapangan operasional yang dikehendaki, sehingga peran TNI AD semakin kompleks, dan mengikuti tuntutan zaman yang dinamis.
