Ali Akbar Navis, atau Pak Navis adalah seorang cerpenis yang menjadi favoritku. Aku sudah mengetahui tentang beliau sejak aku SD bertahun yang lalu. Membaca cerpennya pada waktu itu bagiku hanya sebagai pengisi waktu luang, untuk hiburan semata. Aku belum bisa memahami makna-makna filosofis dibalik goresan tangan Pak Navis pada cerpen-cerpen tulisannya itu. Termasuk cerpennya yang berjudul “Robohnya Surau Kami”, aku membacanya pertama kali hanya sebagai hiburan semata, tak lebih.
Namun kini, aku kembali membaca cerpen-cerpen Pak Navis. Kini, aku membaca cerpen beliau dengan lebih insaf, lebih mendalam untuk berusaha memahami pesan-pesan filosofis dibalik tulisan beliau itu. Benar saja, banyak pesan-pesan filosofis yang aku temukan di dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” yang melambungkan nama Pak Navis sebagai cerpenis ulung di negeri ini. Apa pengetahuan baru yang aku dapatkan dari membaca cerpen tersebut untuk kedua kalinya?
Sebelum aku menjelaskan pandanganku tentang cerpen “Robohnya Surau Kami”, ada baiknya aku paparkan kilas kisah dari cerpen ini. Apa inti dari cerpen ini?
Cerpen ini berkisah tentang kisah hidup tokoh “Kakek” yang merupakan seorang penjaga masjid, merbot mesjid dan Kakek juga tinggal di masjid. Kakek hidup dari upahnya mengerjakan pekerjaan mengasah pisau atau gunting, yang tentu saja upahnya tidak seberapa. Sangat kecil. Bahkan tidak jarang upahnya hanya kata “terima kasih” saja. Selain upah sebagai “Pengasah Pisau dan Gunting” , Kakek juga bertahan hidup dari pemberian dan sumbangan orang-orang yang tinggal di daerah sekitaran masjid tersebut. Singkat cerita, tentu tokoh “Kakek” ini adalah orang yang tidak berpunya harta atau miskin. Meskipun Kakek termasuk orang miskin, namun Kakek dikenal sebagai orang yang agamis, sangat taat menurut ukuran masyarakat.
Tokoh penting berikutnya adalah Ajo Sidi, seorang laki-laki yang hidupnya disibukkan dengan pekerjaan. Mencari nafkah. Ajo Sidi dikenal sebagai seorang laki-laki yang suka bercerita. Banyak saja hal yang bisa diceritakan oleh Ajo Sidi. Tanpa terkecuali, Ajo Sidi juga mengajak Kakek untuk mengobrol, bercerita.
Maka suatu hari, Ajo Sidi bercerita suatu kisah pada Kakek. Kisah yang diceritakan Ajo Sidi pada Kakek adalah tentang Kisah Haji Saleh, orang agamis dan alim yang dijebloskan Tuhan kedalam api neraka. Alasannya, karena Haji Saleh selama hidupnya tidak mau bekerja, malas sehingga hidupnya susah, hidupnya miskin.
Kisah yang diceritakan Ajo Sidi ternyata sangat membekas di hati Kakek. Kisah Ajo Sidi membuat Kakek mengalami gejolak batin yang sangat dahsyat. Puncaknya, suatu hari Kakek ditemukan tewas bunuh diri. Bunuh diri menggunakan pisau yang diasahnya sendiri. Bagaimana Ajo Sidi? Mengetahui bahwa Kakek telah mati, Ajo Sidi tetap saja bekerja. Dia hanya menitip beberapa lembar kain kafan untuk digunakan pada jenazah Kakek. Ajo Sidi sibuk bekerja.
Kurang lebih demikian ringkasan cerpen “Robohnya Surau Kami”. Cerpen ini menekankan pada kondisi ironi yang menimpa Kakek dan Ajo Sidi. Aku melihat bahwa Pak Navis berusaha menunjukkan bahwa terdapat masalah di masyarakat saat ini. Masyarakat negeri ini tertinggal, terbelakang, paling tidak dilihat dari sudut pandang ekonomi. Masyarakat negeri ini seolah “mabuk agama” dan “malas” untuk bangkit membangun negara.
Pak Navis mengambil pengibaratan tokoh relijius “Kakek” untuk menggambarkan kondisi umat Islam. Menurut kisah Ajo Sidi, hidup Kakek tidak berguna. Jadi beban masyarakat, dan di akhirat ditelungkupkan di kerak neraka pula. Sungguh malang.
Aku sungguh setuju bahwa umat Islam harus mempunyai kemandirian ekonomi, harus mampu berdiri diatas kekuatan sendiri, harus mandiri. Namun aku tidak setuju bahwa kemiskinan adalah sebuah dosa besar. Kemudian mengaitkan antara penyebab kemiskinan dan keterbelakangan adalah karena ketaatan pada agama. Ini adalah pengaitan yang mengada-ada dan tidak sesuai baik secara sejarah maupun secara ajaran agama.
Terdapat banyak hal yang menyebabkan kemiskinan. Tidak ada manusia yang mau untuk hidup dalam kemiskinan. Disamping itu, kemiskinan harta bukanlah tanda kehinaan begitupun kekayaan harta bukanlah tanda kemuliaan. Jika kemiskinan harta adalah tanda kehinaan dan kekayaan harta adalah tanda kemuliaan, maka sudah barang tentu Firaun yang kaya raya lagi berkuasa akan lebih mulia dibanding Musa yang miskin papa. Namun pada kenyataannya, Firaun adalah terhina, dikaramkan kedalam laut bersama segala kemewahannya. Musa ditinggikan derajatnya dimata Tuhan, meskipun harta musa tidak seberapa dibanding dengan harta Firaun. Maka itu, kemiskinan harta bukan menjadi tanda hina, dan sebaliknya kekayaan harta bukan menjadi tanda mulia.
Benar bahwa kekayaan harta bisa menjadikan hidup manusia lebih mudah karena manusia itu mampu membeli, membayar segala fasilitas yang memudahkan hidupnya. Namun, bagi seorang muslim, kekayaan harta itu bukanlah menjadi tujuan akhir dari kehidupan. Melainkan, kekayaan harta hanya alat yang digunakan untuk mendapatkan restu dan rahmat dari Tuhan.
Untuk mendapatkan restu dan rahmat dari Tuhan, tidak melulu hanya menggunakan harta. Ada banyak sekali cara untuk mendapatkan restu dan rahmat Tuhan selain menggunakan harta. Sumbangan pikiran untuk memajukan umat, tenaga, salam doa selamat bagi sesama bahkan hingga selengkung senyum tulus bisa menjadi sebab turunnya restu dan rahmat dari Tuhan.
Silahkan berusaha untuk mendapatkan harta yang banyak didunia ini. Namun yang perlu diingat adalah, jangan sampai kegiatan memburu harta menjadikan manusia untuk saling tipu, saling menghancurkan, demi mencuil sekeping harta. Berusahalah, hilangkan rasa malas untuk mencari nafkah, namun jangan pula merasa gundah gulana apabila usaha sungguh-sungguh tersebut belum membuahkan hasil. Aku mengetahui ada banyak sekali manusia disekitarku yang bekerja sangat keras, membanting tulang dari pagi hingga petang, namun keadaan ekonomi mereka tak kunjung gemilang. Kemiskinan tidak selalu diakibatkan karena kemalasan. Mengaitkan bahwa kemiskinan itu pasti karena orang miskin itu malas, adalah hal yang tergesa-gesa. Tidak tepat.
Pada akhirnya, aku ingin menyimpulkan bahwa silahkan anda mencari harta. Namun orang miskin tidak selalu berarti orang hina, orang kaya tidak selalu berarti orang mulia. Silahkan mencari harta, namun jangan lupakan tujuan hidup. Apakah tujuan hidup anda harta? Terserah anda. Namun bagiku, hidup bukan untuk harta. Harta memang memudahkan manusia memiliki fasilitas hidup. Namun harta bukan tujuan hidup. Tujuan hidup adalah mengejar rahmat Tuhan, beribadah kepadaNya. Harta hanya salah satu alat untuk berbuat taat, bukan satu-satunya alat untuk taat. Jangan jadikan memburu harta sebagai alasan bagimu untuk melupakan Tuhanmu, jangan jadikan memburu harta sebagai alasan untuk melanggar aturan Tuhanmu. Silahkan mencari harta, namun taatilah aturan Tuhanmu, gunakan harta untuk merendahkan diri dihadapan Tuhan dan menebarkan rahmat bagi sekalian insan. Gunakan harta untuk mendapat restu dan rahmat Tuhan. Niscaya kebahagiaan yang akan kau dapatkan.
