Halaman

Jumat, 09 Februari 2018

Politik Gadget

Oleh: Arif Wicaksa

Perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat perubahan sangat cepat dalam banyak aspek kehidupan mulai dari persoalan mikro sampai persoalan makro. Salah satu bentuk perkembangan teknologi yang sangat terlihat adalah meningkatnya kepemilikan perangkat telekomunikasi ponsel pintar atau gadget. Sekarang ini bisa dikatakan hampir semua orang memiliki ponsel pintar atau gadget. Kepemilikan gadget berarti kepemilikan akses cepat tanpa batas untuk berbagai informasi yang tersedia tentang apa saja, perkara informasi yang didapat valid atau tidak bukan menjadi soal. Kenyataannya memang siapa saja punya akses terhadap informasi berbasis jaringan internet melalui gadget pribadinya.

Kenyataan ini dari perspektif politik tentu bisa dimanfaatkan untuk kegiatan promosi politik, dan memang demikianlah yang terjadi. Dulu mungkin para aktor politik beradu argumen dan berdebat diforum-forum yang dibentuk pada berbagai situasi. Namun sekarang ini para aktor politik bisa berdebat dan beradu argumen melalui akun sosial-media yang mereka miliki, dan perdebatan mereka dilakukan via gadget yang mereka miliki dan disaksikan oleh jutaan pengguna gadget lainnya.

Selanjutnya, dulu mungkin para aktor politik butuh waktu untuk menyampaikan pikirannya yang berisi manuver politiknya kepada sasaran politiknya, tapi sekarang dengan kepemilikan gadget ditambah penguasaan media, para aktor politik bisa dengan waktu yang sangat singkat menyampaikan berbagai gagasan kepada sasaran politiknya. Kenyataan bahwa keberadaan gadget mempengaruhi perilaku dari aktor politik ini bisa dikemas dalam satu teori “siapa yang menguasai pemilik gadget, maka dia bisa menguasai negara”. Entahlah apabila teori atau pseudo-teori ini terlihat tergesa-gesa, tapi pada beberapa hal saya pikir mencocoki realita.

Dalam rangka menguasai pemilik gadget dan pikirannya, maka politik yang digunakan oleh aktor politik sebenarnya sangat sederhana, yakni seberapa seringkah dia “muncul” digadget para pemilik gadget? Terlepas dari apakah pemilik gadget menyukai atau tidak aktor politik tersebut, frekuensi kemunculan nama atau wajah aktor politik digadget akan berdampak pada semakin “terkenalnya” aktor poltik tersebut, semakin sering namanya disebut, semakin kenal orang-orang akan dirinya. Terkenalnya aktor politik melalui gadget dan segala fiturnya bisa diibaratkan pisau bermata dua, bisa berdampak positif atau negatif bagi sang aktor politik, tapi bukankah setiap manuver politik memang akan selalu bagai pisau bermata dua?

Pada saat sekarang ini jangan heran jika ada aktor politik yang muncul dengan gaya eksentrik, narsis, mengeluarkan pernyataan konyol, tujuannya tidak lain agar namanya terus disebut dan muncul dilayar gadget, agar namanya sulit dihapus dari pikiran. Pada akhirnya semuanya bermuara pada para pemilik gadget yang memberi penilaian, apakah aktor politik tersebut layak untuk menerima perhatian dan dukungan atau tidak.